RSS FEED
Showing posts with label pitiful. Show all posts
Showing posts with label pitiful. Show all posts

Iya dah, yang dikira bener aja dah.

Makanya, dari awal gue udah bilang, capek-capek pasang billboard di jidat yang bunyinya: emang ada gitu orang yang tahan jadi pasangan gue lama-lama? Ya kagak lah. Statement ini bolak-balik gue ganti, dari yang gak mungkin, mungkin, sampe ‘tentu aja ada.’ Satu saat, gue merasa beruntung punya perempuan yang mau duduk di samping gue, cakep, baik, pinter, tapi di saat lain, gue cuman bisa mengerutkan alis dan nopang dagu, mikirin semua hal yang udah lewat. Konklusinya? Ya emang gue asshole, mau diapain juga tetep asshole.

Tapi, berhubung gue asshole kelas atas, gue mau cuap-cuap soal ke-asshole-an gue. Satu, bias sudut pandang. Dunia ini lo liat dalam kacamata first person, apa yang lo liat adalah apa yang lo alami, kan. Lo makan, maka apa yang lu kunyah, itulah yang kerasa di lidah—lalu reseptor ngirim sinyal ke otak untuk nginformasiin apa yang lagi ada di lidah. Simpelnya, apa yang ada di mulut orang lain, tentunya nggak akan bisa lo rasain, karena ya emang itu mulut orang. Ketika dua orang makan gue, apa pasti keduanya bakalan bilang manis? Siapa yang tau kalo salah satu diantara mereka berdua ada yang lagi demam tinggi hingga lidahnya mati rasa? Nggak tau kan?

Judging, itu salah satu bentuk kemanusiaan yang paling tribal, primitif. Gue bilang, biarkanlah apa yang ada di kepala seseorang tetap ada disana, kecuali, ada kesepakatan diantara dua belah pihak untuk diskusi, tebak-tebak personaliti atau mindfucking games, terserah. Tapi memberikan penilaian, tanpa ada bukti autentik konkrit, itu sama aja blunder, ya bagus kalo bener, ya kalo salah? Sebel nggak yang ditebak-tebak? Amen. Jesus.

Bias sudut pandang ini menghasilkan adanya penyimpangan sistem dalam sebuah hubungan, penyimpangan yang kebablasan, perversive perversity. Lo bayangin, yang namanya manusia aja udah kebanyakan simpangan, sekarang ditambah faktor hati, silahkan pangkat tiga. Jadi, jangan heran ketika dalam sebuah hubungan, kadang terdengar kata: “Kenapa sih, selalu aku yang minta maaf?” “Kamu nggak pernah mau ngerti!” see? Kalimat-kalimat itu udah bagai kacang merah di sop dagingnya dunia hubungan. Bias, mereka hanya melihat dirinya sendiri dalam memberikan penilaian, seberapa crack up, seberapa hancur, tapi mereka nggak melihat kondisi orang yang satunya, penilaian sepihak, tanpa informasi, dangkal. Sebgitunya, makanya disebut peversive perversity toh. Kelewat kebablasan.

Tebak-tebak buah manggis. Mata buta, ketutup sama badan mereka sendiri, wajar sih. Degradasi fisik, mental, daya pikir, ngebuat semuanya menjadi buram, semuanya menjadi kabur. Dan insting manusia yang paling dasar, bertahan hidup. On the verge of destruction, seseorang akan sewajarnya mempertahankan diri, membela diri, makanya, bias tadi lebih mungkin terjadi. Realita belakangan, yang penting sistem pertahanan diri udah lengkap, dan kalo sempet ya serangan balik. Nggak ada yang salah, insting, nature as a human being.

“Cuma gue doang yang sakit! Lo kagak! Gue yang paling sakit! Gue yang paling menderitaa!!!”

Screw and get bent. Gue udah membuang pikiran ini, dan gue nggak bohong, kalau mulut dan tangan ini masih gatel untuk ngetik atau berucap. Tapi gue tau, hasilnya nggak akan bagus. Perbandingan itu nggak akan pernah menghasilkan fitrah dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya. Nggak ada orang yang suka dibandingin, apalagi sama orangtua atau pacar sendiri. Lebih baik gue berpikiran, oke, gue nggak dalam kondisi baik sekarang, misery, tapi men, gue nggak sendiri, toh dia juga. Nggak ada yang seneng, semua sama susah, dan gue bilang sama.. nggak ada yang ‘lebih’, dan nggak ada yang ‘kurang’. Lo ngerasa dia gak lebih menderita? Pikir lagi dua kali, ada kata ‘ngerasa’ disana, cuman perasaan, tebakan tanpa dasar tanpa logika. Valid? Buang ke kali.

Daaaaannnn

Ini paragraf paling keren yang pernah gue baca seumur idup.

Oh its hurt, if you need to know what I feels right now. You’re fucking win this game. You’re the most right man walking on earth . It wasn't your fault, baby it was me. Maybe our relationship isn't as crazy as it seems. Maybe that's what happens when a tornado meets a volcano. Maybe I’m nothing good for you, what I did always harm you. Next time, just make sure you killed me, and please walk away with it. I’d better let you end up my mysery.

Tepuk tangan. Gue selalu angkat topi sama yang namanya manusia, hebat, informasi yang minim bisa dijadikan paragaf padu. Makanya, acara gosip nggak ada di neraka, itu jatahnya manusia.

Nah nah.. it’s me, the greatest bastard walking on earth.

Pokoknya..

Kalau post-post sebelumnya lebih berbentuk tulisan bebas, yang ini mungkin lebih personal. Jadi, untuk yang tau blog ini, siapapun anda, kalau nggak kepengen baca tulisan menye-menye yang dikeluarin sama cowok 21 tahun gahar sangar berjenggot tebel dan berbadan baja, silahkan pejret tanda [x] di bagian tab page ini.

Percuma juga menggambarkan disadventage yang dialami selama nggak ada kamu. Satu, itu nggak ada gunanya, dua, itu nggak menolong memperbaiki keadaan, tiga, yang dibutuhkan sekarang adalah kejujuran, pengakuan, keabsahan fakta dan keberanian untuk berbicara, empat, yang namanya inisiatif itu jauh lebih berharga pada masa sekarang ini dibandingkan urgensi memulangkan Nazaruddin hanya untuk diteror “kamu mau saya hilangkan?” Ya nggak nyambung sih.

Intinya, kangen kamu.

Udah, itu doang.


Ya enggaklah, mau ditampar bolak-balik pake karung semen tiga roda emangnya?

Seperti yang kamu tahu, dan sayapun tahu, segala permasalahan yang kita alami itu awalnya hanya satu, salah paham. Kita nggak pernah masalahin soal cemburu, sesif-posesif, insecure tanpa kabar dan hal-hal lainnya yang bentuknya teknikal. Permasalahan macam itu cuma buat lesbian. Nah, salah paham. Apa sih awalnya kemaren? Sepele, yang juga salah paham. Yang saya yakin, nggak sebegitu hebatnya sampai ngebuat kamu badmood dan mogok ngomong. Saya berani taruhan potong titit kalau yang ngebuat kamu seperti itu lebih ke.. bagaimana saya (salah) menanggapi tanggapan kamu yang (sayangnya) juga salah sangka.

Salah paham.

Duer.

Seharusnya semua bisa baik dalam kurun waktu dua belas jam dalam kesendirian, kamu minta diberikan waktu, yang mana saya berikan juga dengan (sedikit tidak) ikhlas. Udah baik kan? Saya rasa kamu udah baik tuh, tapi.. sayangnya, love, cintaku, manisku, imut, brown sugar yang kalau senyum keriputnya lipet tiga, keadaan saya, yang nggak kondusif, sakit (ngaku), menjadikan pembicaraan kita nggak menyenangkan. Saya bertaruh titit saya di ceples karet kalau kamu menganggap saya waktu itu tuh masih badmood kebawa semalem, dan nggak kepengen ngomong sama kamu. Penjelasannya: nggak. Murni flu. Dan saya hanya kepengen kamu menjalankan plan utama kamu yang udah direncanain dari masih di kantor dan akhirnya sampe di rumah: istirahat. Sesimpel itu.

Tapi kayaknya saya salah interpretasi juga. Belasan jam tanpa kontak buat kita berdua itu neraka *cie*, harusnya saya ngebaca kalau kamu masih pengen ngobrol dulu barang sebentar. Kebaca kok, tapi ya.. karena.. kamu pengen istirahat (katanya) yaudah, sayanya agak memaksa jadinya. Salah pahem lage.

305 kata, dan tau nan, percobaan saya akan blak-blakan tertulis ini udah meringankan beban hati saya jauh lebih ringan dibadingkan jalan kaki semaleman dan ngerokok tanpa putus. Hweih.

Saya minta maaf, love. Emosi yang belum stabil, ditambah emang bentukan karakter yang seperti ini ngebuat kamu susah. Selalu panasan, apalagi kalau kamu lebih dulu panas. Kamu bisa bilang saya lebih dewasa dari ukuran laki-laki seusia saya, lebih mateng atau lainnya. Tapi ya, tetep, kekurangan nggak bisa ditutupi dengan batako apalagi paving blok, kelemahan saya di sumbu yang pendek belum teratasi dengan baik. Dan kalau mau tahu nih, kalau mau.. inipun udah usaha loh. *gananya*kalau masih dengan mindset yang dulu, mungkin di malam kamu minta waktu sendiri, saya udah mledagdug duluan.

Kaya begitu ya.. Capek. Garansi. Pola itu udah saya lakukan ratusan, bahkan ribuan kali selama saya idup dan menjalin hubungan. Meledak-ledak, duar duer, dan ujungnya malah kedua pihak yang babak belur lebam legam. Cukup kayaknya. Makanya saya mau mencoba cara lain, seperti yang udah saya bilang ke kamu sebelumnya, “saya akan coba cara lain, yang lebih manusiawi, relationshipawi.” Tapi.. bekas-bekasnya masih ada. Saya tetep impulsif, tetep ada rasa nggak tenang, bahkan ketika mengetik tulisan ini. Rasanya mustahil untuk mengacuhkan kamu—pasangan saya—begitu aja dan saya cengangas cengenges masa bodo. Mustahil. Yaiya, karena saya sayang sama kamu sih. Kalau sama Bisma SMASH mah saya udah ngimpi ngarep bisa dua-duaan dinner di Sky Dining Jakarta.

Kita satu takson nan. Orang-orang yang performa hidupnya menurun jauh drastis ketika ada satu hal yang nggak beres di hati. Kamu nggak pengen seperti ini, dan sayapun nggak. Tapi entah apa ya yang menghalangi kita untuk bisa kembali berjalan di satu jalur, dempetan berdua menuju matahari senja nan apik menggoda. Apa? Gengsi kah? Kurang inisiatif? Tidak ingin disalahkan? Ingin dimengerti secara penuh? Sayapun nggak tau yang mana. Karena, ketika kita mulai memperbaiki keadaan, saya ngerasa, “ah, gini doang, ngobrol sedikit pasti beres.” Yang pada prakteknya, susah setengah mati. Keinginan ada, tapi kok yo eksekusinya kayak narik gajah sirkus masuk ke kandang ayam?

Satu kata, hanya satu yang pengen saya ucapin buat kamu, satu.

Iloveyoujanganmarahanlagiyukkamucapeksayacapektohkitasamasamasalingsayangdanpengennyasenengsenengbarengapalagikitaudahlamanggakngasihjatahhayolonantianakkitatanyagimanadongyukyukbaikanloveyoupokoknyamybrownsugar.

Satu kata.

*Palelu palelu!

Dan Besok, Dan Seterusnya, Dan Seterusnya.

Tunggu. Kalau Nanda bilang, siapa yang begitu gobloknya istirahat seminggu di kasur karena tipes? Jawabannya, semua orang, sayang. Sekarang gue mengkaji ulang kata-kata gue, tindakan yang gue lakukan tempo hari, pacar mana sih yang akan ngebiarin mentari paginya melakukan perjalanan jauh 14 jam, sementara di tubuhnya lagi beranak pinak bakteri penghancur usus? Ada? Kalaupun ada, pastilah orang itu idiot secara masif dan punya gangguan perasaan akut yang mungkin menghantam modula oblongatanya sampe dia begitu frigid. Oh yeah, itu gue. Sekejam apapun gue meneriakkan “tidur!” “makan yang banyak!” “jadi anak bandel amat kalo dibilangin!” tetep, sebagai lelaki berhati kaca, gue nggak bisa menutup kuping saat Nanda merengek manja mesra meminta ijin ke gue, pasti mulutnya manyun-manyun sensual deh.

Dan gue pun ijinin, dengan kepaksa.

Apa sih.

Kalau dia mau memaksakan datang sebegitu kuatnya, sampai memaksakan diri melawan rasa sakit yang ada di badan, hanya untuk ketemu gue? Yang orang-orang mungkin bilang ‘cuma pacar’, apakah gue berhak melawan keinginannya itu? Ketika gue berada di posisi Nanda, mungkin gue akan melakukan hal yang sama. lihat sesuatu disini? Perhatikan poin ‘jika kita bertukar posisi’, apa artinya? Artinya, secara naif, gue mengatakan bahwa dia adalah orang yang mau susah-susah buat gue, mau mengorbankan banyak hal hanya untuk gue yang bertitel ‘cuma pacar’ ini—karena, gue pun akan melakukan sebaliknya. Pertukaran yang setara, apa gue harus menawar lebih lagi?

Nggak.

Gue jujur, gue nggak bisa mengontrol kadar cinta yang gue berikan kepada seseorang, pada Nanda. Bahkan awalnya, gue berusaha untuk nggak memberikan semuanya, beberapa persen cukup, gue nggak mau terjerumus di lembah needy dan impulsif untuk yang kesekian kalinya. Tapi apa? Pada Nanda gue melakukan kesalahan dalam tanda kutip yang sama, gue memberikan semua stok cinta yang ada di gudang hati, tanpa ada ketakutan untuk kelaparan pangan pada musim kemarau, nggak, gue nggak takut. Kenapa? Dia bukan worth dying, tapi worth living.

Huruf menjadi kata yang berikutnya menjadi kalimat, paragraf tersusun yang berujung pada wacana. Ciuman, pelukan, dekapan, nafas yang memburu, jerit yang tertahan, itu semua berarti hidup yang membuat gue penasaran, seperti apa hari berikutnya? Apa kata-kata yang akan dia lontarkan? Seperti apa balasan yang gue berikan? Seperti apa marahnya Nanda? Dan bagaimana gue berusaha mendamaikannya? Yang pada akhirnya, berujung pada sebuah keinginan, gue mau terus melihat Nanda senyum dengan begitu manis, yap, plus keriput di sudut mata kanannya yang menjadi favorit gue.

Stasiun, pulang.

Setelah beberapa hari yang dilewati bersama, akhirnya ada yang dinamakan perpisahan. Menyebalkan, pasti. Gue hanya pengen cemberut di hari terakhir, menunjukkan muka kusut nggak disetrika, diam total dan ingin Nanda menghibur gue dengan lawakan-lawakan garingnya. Tapi nggak, sayangnya. Daripada melakukan itu semua, bukannya malah memberatkan dia untuk pulang ninggalin beruang grizzly desperate di stasiun? Hayah. Makanya gue cengengesan, ketawa-ketiwi menghibur Nanda yang tiba-tiba berubah emo dahsyat. Sedikit-sedikit nunduk, sedikit-sedikit murung, apa jadinya kalau gue ikutan seperti itu? Yang ada dicap pasangan suram sama mas-mas tukang anter makanan di Madtari.

Pasrah, gue hanya bisa melihat Nanda dari balik kaca jendela kereta, ngeliat dia merajuk manja dengan ekspresi-ekspresi manisnya. Haaaaah.. pengen rasanya njitak. Tapi tahu endingnya? Dia turun, lima menit sebelum kereta berangkat, senyum-senyum melihat gue haha-hihi yang ketauan palsunya. Minta cium pipi, katanya. Diciumlah kedua pipi, dan bonus.. satu ciuman tepat di bibir, di tengah stasiun besar Bandung yang lagi ramai-ramainya. Nggak terasal amoral, nggak terasa mesum, itu hanya sesimpel tanda cinta. Sesimpel itu.

Kereta berangkat, dan gue ngaso setengah jam di stasiun, ngerokok. Cuma mikir..

Yeah, she’s worth living.

Priori Itastatem

Awali setiap tulisan dengan I miss you.

Cieh.

Gue punya suatu kebiasaan, sejauh ini gue mengatakan ini adalah kebiasaan yang jelek. Apa itu? Ini menyangkut yang namanya produktivitas. Seberapa efisien sih pemanfaatan waktu yang lo punya, apakah ada gunanya? Kepake dengan baik? Apakah waktu yang dipake itu menghasilkan sebuah output yang memuaskan? Terlebih, apa lo udah menggunakan waktu lo itu sebaik-baiknya?

Gue menjunjung tinggi efisiensi, banget. Yah, walau kadang molor dan kebentur kepuasan pribadi. Tapi tetep, efisiensi gue pegang sebagai salah satu pedoman hidup. Masalahnya, seperti yang baca disini tau, ini blog tujuannya sharing sama pacar, jadi, efisiensi ini ada kaitannya sama pacar gue dong, uhuy. Garis besarnya, gue bisa menjadi orang paling nggak efisien kalo udah deket sama pacar. Seenggaknya selama ini ya. Kalau udah bareng, gue nggak bisa ngapa-ngapain selain ngeliatin muka manisnya si Nanda itu, ngacak-ngacak rambutnya, godain sampe dia blushing sendiri, nyiumin bibirnya dan segala-gala hal yang ada Nanda pokoknya. Hal lain? Blas dus.

Gue nggak bisa kerja, gue nggak bisa baca apa-apaan, gue bahkan nggak bisa nulis, menghasilkan sesuatu pun nihil. Sekedar contoh, saat gue masih jadian sama mantan terakhir gue itu, gue sama sekali nggak membaca satu buku pun. Yeah. Satu setengah tahun lewat hampa, kutu buku di mata gue pun kayaknya udah ngubur diri di tengah tumpukan belek saking lapernya. Buat gue ini masalah, apalagi gue menyadari itu dan gue tetep cengar-cengir. Yaiya, toh hang out sama pacar itu menyenangkan, kenapa gue harus protes ketika hal-hal yang gue sukai itu, efisiensi gue itu tergantikan sama kebersamaan yang intim?

Sampai sekarang?

Yeah, sampai sekarang. Mungkin gue harus agak bersyukur, domisili kami berjauhan, dia di Surabaya sana, gue di Jakarta/Bandung, waktu bareng yang minim membuat gue punya banyak waktu untuk diri sendiri, melakukan hobi gue dan keinginan untuk menghasilkan sesuatu itu begitu gede. Nggak kebayang kalau satu kota, pasti gue maunya plus sukarela akan berusaha untuk terus deket sama si Nanda. Apalagi dia adorable gitu, mana tahan ninggalin barang sebentar? Dan ini didasari atas keinginan sendiri, bukan karena disuruh nganter, disuruh ngapel, disuruh-suruh apapun. Tapi emang pengen, bukan dari pihak satunya. Apalagi diminta? Yang pasti nggak bisa nolak.

Jelek? Ho oh. Tapi udah mendarah daging beranak pinak di gue mau diapain? Solusinya, tentu nggak bisa instan, jarak yang jauh ini mungkin udah bisa dijadikan pegangan sementara sampai gue bisa meluruskan prioritas, kebutuhan mana yang lebih urgen untuk diutamakan, kapan saatnya gue menentukan waktu buat diri sendiri, dan kapan saatnya gue harus ciumin bibir Nanda yang katanya swollen itu.

Bisa? Ya harus, gue nggak pengen hubungan lovey dovey yang sangat menyenangkan ini malah jadi pemicu gue untuk tidak produktif. Duer.

Akan Baik Pada Saatnya

Sumpeh, ane vingung khalo ngetik engghak vhake rhogok.

Rokok itu sangat membantu gue, beneran. Selain membantu menghilangkan anxiety gue yang berlebihan di tempat umum, benda sepanjang 9 sentimeter ini juga sangat membantu gue dalam berbicara. Ngobrol. Apalagi ketika membahasa sesuatu yang pake kepala, atau mungkin dalam kesempatan lain, hati. Punya sesuatu yang bisa dikerjakan, dikonsumsi tanpa harus menganggu otot mulut bekerja itu sangat mengalihkan gue dari emosi. Mungkin sugestif, tapi andaikan iya pun, toh memang membantu, makanya cuek.

Apa misal? Kemarin nih, gue disidang sama orang-orang rumah, dan itu kali pertamanya gue minta ke mereka untuk diizinkan ngerokok, dalam rumah, ruang keluarga. Haha. Tapi tentunya dengan kipas angin rotasi maksimal menerpa muka gue dan jendela. Kenapa? Gue nggak yakin bisa menghindari amarah saat itu, jadinya ya mendingan gue melakukan pencegahan dengan menjepit batang tembakau di kedua jari gue ini. Dan hasilnya kawan? Sukses, amarah memang ada, di hati, panas, menggelegak berontak minta dikeluarkan, tapi syukurnya enggak. Antara diselamatkan rokok, atau gue mulai menyadarkan diri lebih hebat lagi kalau ngamuk seperti itu fitrahnya cuma buat gue, gue doang yang lega,tapi orang lain ya ngeri total. Uhuk.

Sekarang gue ngerokok djarum super instead of wismilak, ga dapet oy.

Apa ya?

Gue pengen deh ngobrol sama My Love sambil ngerokok. Pasti bisa lebih santai, lebih rileks, karena kecemasan itu gangguan paling menyebalkan buat gue, dan iya, gue masih bisa loh grogi sama pacar sendiri. Aneh? Enggak. Justru wajar, kan groginya sama orang yang punya posisi paling tinggi di hati gue, katakanlah, grogi itu apresiasi. Ngaco. Hueh. Jadi kangen.

Apalagi ribut yang kemaren. Cukup besar, cukup membahayakan. Walaupun sempet pasrah, tapi syukurnya semua menjadi baik, bahkan mungkin lebih baik dari sebelumnya. Hehe. Buat gue nggak ada yang namanya masa ‘jinak-jinak merpati’, ngga ada yang namanya masa pembentukan awal sebuah hubungan itu isinya yang seneng-seneng doang. Namanya juga pembentukan, penyesuaian yang mungkin jika itu dikaitkan dengan gue sebagai pelaku, jadinya malah penyesuaian yang kebablasan. Karena, pada dasarnya gue bukan orang yang cocok punya tautan.

Besar-besaran deh makanya.

Pengen gue ngobrolin masalah kemaren itu secara langsung, kita bedua duduk di sofa Coffee Corner (iya sofa, seenggaknya posisi yang dia nyaman deh walau gue gasuka.) Kopi dan makanan tersaji menggoda, gue dengan Americano tanpa gula yang biasa, Nanda dengan Café Mocha nya, cemilan-cemilan kecil dan segelas air dingin yang dibagi berdua. Gue merokok dengan impulsif, menatap dia dengan senyuman getir tertahan. Sementara Nanda bermuka jutek bete yang jelas-jelas ada tulisan di jidatnya: “Puhlease deh, godain gue, colek gue, jangan diem aja dengan muka sok begok elo, cuuk!” berlangsung lama demikian sampai akhirnya ada yang lelah duluan menahan beban berat kebisuan kolektif itu.

Ngobrol panjang, sedikit tarik urat, nada tinggi yang mungkin kelepasan tanpa bermaksud begitu, keheningan yang kembali menjalar, dan perbincangan lagi. Rotasi interaksi yang terus berulang sampai kita berdua lelah ngulangnya. Pelanggan-pelanggan lain juga udah mulai pulang, terlarut malam. Gue sama Nanda bolak-balik melihat jam, sadar akan waktu dan harus pulang tapi nggak ingin, masih ada yang harus diselesaikan. Tapi apa? Masalah yang nggak jelas juntrungan asal musababnya ini hanya bikin capek, sampai bingung harus mulai darimana. Lelah. Fisik dan mental. Sampai akhirnya akan ada salah satu yang mengatakan yang nggak bisa dikatakan, kalimat sederhana simpel yang membuat semuanya menjadi baik, dengan magis.

“I love you, baikan yuk..”

“Mana bibirnya.. sini..”

Minta? Beli Aja Sendiri.

Gue males meminta, gue males punya harapan, gue males berekspektasi. Kenapa? Karena nggak semua hal yang kita inginin orang lain untuk lakuin itu bisa dikabulin, diamini atau dilakukan. Faktor macem-macem, kondisional yang emang nggak memungkinkan untuk dikabulin atau emang sekedar gak mau ngabulin. Buat gue sama aja, sama-sama ditolak intinya, dan oh Tuhan segala Demit dan Lelembut paling buruk rupa di Dunia dan Akherat, nggak dikabulin buat gue itu sama kayak nyuruh gue melek kontinyu beberapa hari berturut-turut.

Makanya, enakan ngasih, masa bodo terus-terusan, masa bodo mau dibilang manjain atau apalah namanya. Yang penting nggak usah ada kata kecewanya, nggak usah ada kata gondoknya, nggak usah ada kata takut untuk ditolaknya, ngerasa worthless.

Dan Saat Tangan-tangan Kami Saling Bertaut Hangat

Prejudice itu rugi. Dan gue rugi. Gue selalu membayangkan Surabaya sebagaimana diceritakan orang dan kabar angin yang berhembus semilir, Surabaya itu puannas! Pengap! Tapi toh salah, nggak semengerikan mindset yang udah terbentuk menahun. Kuda besi melaju, pangerannya kecil, kurus, lesu, sekali lihat mungkin akan mengira gampang doyong ketiup angin. Sang putrinya ageng, besuar, dan wajah yang terlalu banyak suntikan steroid hingga terlihat sangat macho, makanya, fail. Seperti yang gue sebut sebelumnya, gue dibonceng, rancu, ragu, nggak enak baik hati maupun harga diri, terasa dorongan nyemplung ke sumur meningkat ingin melarikan diri, tapi mungkin nggak ada salahnya kalau sesekali.

Malam Surabaya sejuk, angin gelebug sesekali menepuk leher yang terlalu lama kaku dipakai duduk. Pemandangan tenang, beberapa kali terlihat banyak anak muda di tempat-tempat tertentu yang nampak diamini sebagai tempat nongkrong kolektif. Jalanan lengang, entah karena memang hari merah, atau mungkin dewi jalanan lagi berpihak pada kami yang udah nggak tahan melampiaskan rasa kangen kelewat rindu #dueh. Bisu, sesekali basa-basi ragu, ingin berbicara satu dua hal tapi ngeri malah menjadi gagu, gak lucu kalau-kalau dia mendapatkan kesan pertama gugupan tercetak bold di jidat gue dong. Bicara itu verbal, kadang komplementer kadang substitusi sama non verbal, gue memilih subtitusi sebagai fungsi, maka, gue peluk dari belakang badan mungilnya, mungil. Kalau ada tiga orang Nanda, dijamin masuk semua. Disaat itu gue sadar, dominatriks nggak harus dibelakang setir.

Serasa mimpi, tapi gue tau ini nyata, soalnya pas meluk sakit kepentok tulang.

*duakk*

Gue memilih warteg ketimbang resto, gue memilih motor ketimbang mobil, dan gue memilih warkop ketimbang café—walau sesekali gue mengamini ajakan kesana demi tali yang dinamakan pertemanan. Makanya, ketika gue mendengar nama destinasi yang akan kita tuju, rada pesimis, gue langsung cek, apa rokok gue cukup? Apa tampilan gue sendiri udah cukup bikin gue nyaman? Dan.. apa gue siap keliatan seperti bromocorah kecelup Versace? Karena, jika sesuai dugaan, pasti gue bakalan berwajah kayak abis disetubuhi lelembut. Dan syukurnya, nggak. Tempatnya nggak seglamour yang gue kira dan masih ada ‘rumah’nya sebagai konsep, lega, ditoleransi, dan mungkin lebih ke arah anggukan pengaminan. Dan my lovely brown sugar? Gue nggak bisa melepaskan pandangan dari dia, barang sedetik, terkesan gombal dan penajisan jamaah dari yang ngebaca, tapi sayangnya, itu nyata baik literal maupun metafor.

Perut lapar, kepala saking pusingnya sampai gue meminta digampar pake carvil, dan kaki pun melangkah masuk. Nanda familiar, gue asing. Satu Coffee corner bagai disihir, seorang perempuan dateng dan semua mata langsung tertuju padanya. Dan bukan pandangan biasa, heran setengah takjub, bibir menganga setitik terperangah, respon ajaib yang muncul kalau perempuan ini sudah melakukan salah satu dari tujuh dosa besar. Sedikit merasa, karena ada gue, karena si manis bawa cowok? Mungkin. Nanda menyapa kanan kiri, gue antara menunduk dan tersenyum getir, sekedar balasan sebatas lengkung penghormatan. Ada satu titik, dimana gue merasa ada sesuatu yang aneh. Markas tersembunyi yang sayangnya di depannya jelas-jelas ditulis “rahasia”, sama aja boong. Dan beberapa saat kemudian setelah diverifikasi, bener. Heu. Si cipika-cipiki mantan affair valentine, guk.

“Disana?”

Gue menolak, berkenaan dengan tempat duduk, gue menafikkan sofa dan coffee tablenya walaupun gue minum kopi kayak minum susu, my love tau kenapa. Sofa dan coffee table nggak cocok sama gue, yang menjadikan jarak adalah hal yang penting dalam sebuah obrolan, ketika gue di sofa, dengan adanya kemungkinan gue bakalan bisa senderan, itu berarti gue menjauhkan jarak obrolan dong, nggak mau. Sementara ketika gue maksa untukk memajukan tubuh, kaki gue yang kepanjangan bakal ngebuat gue keliatan jongkok, nggak ergonomis. Ah kawan, itu cuma alibi belaka, intinya sih, gue milih meja dan kursi konvensional karena emang pengen lebih deket aja sama si Nanda :3. Yea, walau dengan situasi dan kondisi yang berbeda, sofa memang lebih mendekatkan, sampai gak ada jarak malah. Eaa..

Duduk, badan dinyamankan, menu datang dan pilihan dijatuhkan, 3 jenis kopi yang berbeda, dua jenis makanan yang berlainan. Kami ngobrol, dari sekedar prolog nggak perlu, sampai ke tahapan yang bisa bikin NWO berdecak kagum saking konspiratif apa yang kami bicarakan *halah* Gue menikmati waktu-waktu itu, dari kopi sampai tempat, terutama dia. Hal-hal seperti makanan, tempat, kemana dan mau apa itu trivial buat gue, hampir nggak ada artinya, andaikan cocok, enak, dan fun itu hanya sekedar tambahan, ekstra. Apa yang penting? Buat gue, dengan siapa lo menjalani itu semua. Dan dengan Nanda? Singkirkan semua yang ada di meja gue, dan gantikan dengan dia yang tersenyum semanis gula aren, itu aja gue udah ngutang.

Detail bergulir, kalimat demi kalimat terjalin panjang membentuk paragraf yang semakin lama beralih menjadi sebuah wacana. Gue mendengar sesekali berbicara, kadang menjelaskan, dia tertawa, dia mendengar dan sesekali mencium. Ciuman tipis minim gestur tapi terlalu menumpuk makna akan maksud dan kausal. Satu ciuman efeknya psikoaktif. Kata berhenti, gerakkan terhambat, endorphin menggelegak dan darah terasa deras mengalir, dan jangan ngeres, nggak deres mengalir ke penis, percaya aja. Gue defensif bukan penolakan, defensif karena pertahanan gue dalam kata, dalam postur, dalam kebanggaan gue sebagai seseorang terlahir lelaki runtuh dihantam sebuah kejujuran. Gue mengutuk topeng, jaimlogy dan tetek bengek munafikisme, ketika gue malu tentu buat apa ditutupi, malu itu kadang berefek apresiasi, kepada orang yang kalian sayang, bahwa mereka punya efek besar buat kalian.

Orang memandang pedas, beberapa getir tertahan, dan sedikitnya agak mau tahu. Tindakan dia bukan hal yang bisa gue balas dengan tindakan, mungkin bisa, dan mungkin seri. Tapi bukan itu, gue mengincar hook kiri setajam silet ketika dia lengah terlalu lebar mengambil straight, cross counter pamungkas Hollyfied yang menjatuhkan De La Hoya beberapa tahun lampau di Caesar Pallace. Itu. Gue bercerita sedikit, twist mengelak yang bermaksud sad ending tapi mengarah lain. Dia terpancing dan kalimat yang sejujurnya membuat lidah gue kelu beberapa saat akhirnya keluar.

*Blam*

Dijawab deh.

The End.

Kidding.

But Seriously.

Naaaaa aa…

Gue memandang dia, dalam diam, khusyuk. Berusaha mengabadikan momen-momen itu sebagai hal manis yang nggak akan gue lupa, sebagai senjata sakti yang bisa melupakan tetes-tetes amarah gue di masa nanti, bahwa, gue pernah melihat perempuan yang begitu manisnya sampai Americano gue berasa dicemplungin lima sendok gula, dan gue baru saja memenangkan hati perempuan ini. Nggak mudah, banyak yang harus dibayar, banyak yang harus ditebus, dan dikorbankan, tapi setimpal dan malah surplus.

“Pulang yuk.”

I love you, it’s a dot.

Nah loo.. Kenapa Nah Loo..

Baru tidur kurang dari setengah jam, mata ini terbuka lagi. Hueeh.. dingin bener, sayang. Mau dipejam paksa, nanti bukan ikhlas. Makanya, gue keluar kamar, bengong menyulut rokok terakhir yang gue punya, batang ke enam dalam dua puluh empat jam, itu cukup. Untuk kesekian juta kalinya, asap mengepul tajam mengalir tanpa cela terbawa aliran angin entah kemana. Lampu-lampu pemukiman berpendar temaram puluhan kilometer jauhnya di perbukitan entah apa namanya, langit cerah tanpa bintang, tangisan Tuhan seharian tadi seakan ilusi yang hilang tanpa jejak. Menunggu air mendidih, apa salahnya menuangkan rasa kangen sekedar rindu, yang dikangenin udah tidur (kayaknya), jadi, ke sini.

Gue nggak tau para penulis-penulis diluar sana itu punya pola pikir yang seperti apa, determinasi sebesar apa sampai-sampai mereka bisa menulis rangkaian kata cantik sepanjang ratusan halaman, beberapa malah ada yang sampai tujuh seri. Buat gue determinasi dalam menulis itu seperti kangen. Gue emang nggak selalu bilang, nggak selalu menyampaikan ke orang yang dikangenin kalau gue lagi kangen, tapi, bukan berarti gue nggak kangen dong. Analoginya, gue memang nggak konsisten dalam menulis, mungkin gue termasuk kategori orang yang jarang menulis untuk yang menamakan dirinya “doyan nulis”, tapi yea, bukan berarti gue nggak suka kan?

Determinasi itu ringkih, sayang. Sesuatu yang belum menjadi kebiasaan, kalau nggak dibiasakan akan hilang. Dan yang mau gue sindir disini adalah, blog ini, haha.. kita berdua terlena, kamu terlena ingin memberikan tulisan terbaik yang mungkin waktu pengerjaannya nggak bisa sembarangan, ujungnya, malah jadi terbengkalai. Sedangkan gue, ingin menulis dari seminggu yang lalu, tapi terbuai sama yang namanya urutan, kamu sekali, saya sekali, padahal nggak ada perjanjian seperti itu, makanya, terbuai.

Ah, sekedar sisipan, tiga paragaraf diatas itu cuma omong kosong, love, sekapur sirih basa-basi yang dibuat seorang penulis dengan penuh gerutu—padahal bukunya udah siap terbit. Ya ya, pemanjang paragranya udah cukup, yang pengen gue sampein disini itu, di post ini, di tulisan ini adalah.. gue kangen pacar. Iya, si imut asal Surabaya yang itu, si Brown Sugar lutju pangkat kiyut. Gue kangen momen-momen yang gue habisin bareng dia, momen gue disuruh mencicipi café mocha di CC Surabaya, momen dimana dia merajuk minta digandeng, saat dia melihat gue dengan pandangan (sok) seduktif biar gue malu, saat dia berusaha memasukkan tangannya ke sela-sela jari gue, saat gue terbangung dan ada dia yang ngeliatin dengan tampang yang juga kusut. Haum.. susah menyebutkannya satu-satu, karena momen gue bersama dia hampir semuanya bikin kangen *ciye*.

I love you, dong, kamu tidur, gue bisa bilang cinta, weeek.. ups, air mendidih, teh siap diseduh, sehabis itu kembali ke peraduan, sesuai janji, sayang. Met tidur.

Dan Ketika Perlahan Merangkak Menuju Hati

Tadinya gue mau nulis hal lain, tapi melihat postingan di bawah ini, rasanya nggak cuma ide-ide yang gatal ingin ditumpahkan ke secarik kertas elektronik, tapi rasanya tangan juga gatal mau gampar pipi karena kesengsem yang overdosis. Uhuk. Syukurlah my love membuat postingan dibawah itu, karena kalau nggak, mungkin mispersepsi yang saya punya sampai beberapa menit tadi bisa menjalar sampai ke akar pikiran, kebawa masuk sampai alam kubur.

Blam.

Coba bayangin, lo pernah di posisi yang begitu suram sampai lo merasa nggak akan pernah mau untuk berada di posisi itu lagi, dan sekarang, ketika lo berkemungkinan untuk menempatkan seseorang di posisi yang udah pernah lo rasa itu, apa coba rasanya? Gile, lutut serasa rontok, paru-paru kehilangan setengah daya kerjanya, dan kecenderungan tremor gue meningkat beberapa kali lipat, ngerokok aja berasa ngelukis getar. Yeah, konyol, padahal gue selalu bilang, jangan pernah prejudice, jangan nilai, jangan mengambil keputusan, jangan menjudge berdasarkan informasi yang parsial, itu goblok, gue bilang. Nyatanya? Seperti yang selalu gue juga biasa sampaikan, kalo udah nyangkut ke hati, teori itu sebatas buku, dan bukan praktikal. Jadilah.. konstruk gue hancur berantakan jam dua pagi.

Khawatir, berguling-guling di kasur super tipis, bangun lagi, misscall, sms, im, semuanya, semua cara gue lakukan untuk ngehubungin satu perempuan yang berada 700 kilometer jauhnya dari tempat duduk gue sekarang, Surabaya. Takut terjadi hal-hal yang nggak gue dan siapapun inginkan, man, lo harus pernah berada di tempat tersebut, di insiden tersebut sebagai tersangka merangkap korban untuk tau rasa khawatir yang gue alami tersebut. Patah arang, patah arah, gue frustasi, dan tanpa mikir panjang, gue memutuskan untuk cabut ke surabaya. Minus modal, minus persiapan, kecuali sepotong celana dalem dan kaos dalam adalah persiapan super oke, lain ceritanya.

Darimana gue mendaptkan duit dan prosesnya sampai ke kereta, gue skip ah, gak.. asik. Haum. Bukan nggak mau berbagi, hanya ngerasa nggak perlu diceritain juga sih.

Oke, setelah rentetan jumlah misscall yang entah berapa puluh, sms putus asa yang entah bunyinya apa, gue udah di kereta, suntuk, ngerokok nggak berenti-berenti, muka kusut, mulut masih bau mad-dragon yang kalau gue cium sendiri bisa bikin gue gak napsu makan. Masih misscall, masih sms sekali-sekali dan saking gobloknya, gue sampe ngeadd beberapa saudara my love saking frustasinya nggak bisa meraih dia sebatas kontak kecil.

Dan akhirnya.

Lebih nikmat daripada ejakulasi ketika jam sebelas siang, SEBELAS!—jam dua malam sampai jam sebelas siang, sembilan jam! Fyi, itu bukan waktu yang pendek untuk diabisin sambil kepala lo ketiban beban mental seberat Ani Yudhoyono—akhirnya, my love ngontak, dia nggak apa-apa, walaupun nggak sepenuhnya, terima kasih Tuhan. Nginformasiin kalau gue bisa tidur dirumahnya, jadi pacet selama beberapa hari disana, padahal, gue udah membayangkan malam-malam Surabaya yang pengap dipeluk nyamuk-nyamuk binal dan kecoak-kecoak jahanam yang siap merebut keperjakaan gue, entah itu di Mushola atau kelurahan terdekat. Sungkan iya, enggan ya enggak dong, 24 jam bisa ngeliat wajah my brown sugar kapanpun gue mau, tempting total itu sih. Akhirnya mengiyakan, walau harus dipaksa dengan ancaman-ancaman sadis terlebih dulu.

Dan?

Gue turun dari kereta, malam Surabaya yang gelap *yaeyalah*, gedung stasiun penuh ornamen jawi dan logat serta bahasa yang asing, gue kembali duduk di salah satu pelataran, ditemani temaram layar handphone dan letupan asap tebal dari sebatang kretek mengawang di sekitar gue. Tebal, tebal khawatir, tebal yang nggak sabar, tebal yang penasaran. Di satu sisi gue khawatir dengan keadannya, seperti apa dia dan gue berdoa sekeras-kerasnya supaya dia masih bisa melangkah di atas kedua kakinya dengan bugar. Di sisi lain, gue seneng setengah mati, cita-cita jangka pendek gue bisa tercapai lebih awal dari dugaan, bertemu perempuan idaman gue yang mengganjal mata dan hati beberapa minggu kebelakang, seneng? Pasti, girang? Apalagi.

Dan waktu berputar semakin lambat, apalagi sewaktu gue ngeliat dia berjalan dari pelataran parkiran ke arah stasiun. Pelan, serasa nyaris berhenti, seolah gue memberikan perintah sporadis kepada otak gue untuk mengabadikan momen ini sebaik-baiknya, 10 megapixel, 3mb persekon kualitas gambar supaya bisa gue inget dengan kualitas blue ray kapanpun gue mau. Dan jadilah.. “kamu yang baru aja masuk ke peron? Saya udah diluar.” :| yea, dia lupa bagaimana bentuk muka gue apalagi badan, jadilah dia ngeloyor tanpa memberikan sebatas-bahkan lirikan pada gue yang mungkin lagi ketutupan kabut karbondioksid.

Gue samperin, sapa, dan melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki, masih segar di ingatan, masih tetap cantik sebagaimana memori gue menyimpannya beberapa bulan lalu, masih dengan tubuh yang terlihat ringkih, namun ketenangan yang dijamin mutu kalau seorang body builder seberat 210 kilogram nggak akan bisa membuat dia bergidik barang setitik, pesona itu, wibawa itu, masih sama. Walaupun ingin mengarah kepada penilaian akan nostalgi keadaan sebelum sesudah, tapi tetep, gue nggak bisa menampik alasan apa yang membuat gue berada sekian ratus kilometer dari kosan gue yang dingin luar binasa itu. Makanya, gue cek tangannya yang mungil kecil itu, bersih, gue tanya-tanya berentet sedikit sarap soal “ngapain semalem? Ngapain? Blalalala.” Yang dijawab dengan cengiran seduktif yang membuat gue membuang muka menangkis serangan maut tersebut. “nanti aja.”

Know whud? Gue minder, ya gimana enggak? Kalau tampilan gue aja sebelas duabelas sama tukang tambal ban pinggir jalan yang diusir istrinya karena nggak bisa bikin ngebul dapur. Diperparah dengan muka kusut pangkat lecek dikali belum mandi dan berakar rambut masih gondrong nglewer-lewer turn off. Blah.. Kalau di post sebelumnya dia berusaha keliatan cantik pas jemput gue, bener banget, total, kalau gue nggak pake kacamata, bisa buta gue saking cantiknya *lebay nying*. Beauty and the Beast, kalimat padu yang diamini kami berdua :|

Awkward? Yea, siapa yang enggak kalau ketemu cewek cakep yang belum pernah liat lo secara langsung. Takut? Tentu, apa kabar kalau misalkan reaksi yang muncul adalah reaksi yang paling gue nggak harapkan dari seorang yang gue suka? Pernah dan rasanya ue ue ue. Grogi? Jelas. Dan gue mau koprol depan disaat tiba-tiba dia bilang, “kok gak digandeng?” dan jantung gue geser ke lambung, gue pun gandeng. Hampir sampai di parkiran, tiba-tiba barista lutju ini berbicara lagi setelah beberapa meter bisu, “kok aku nggak dipeluk?” pakek basa londo pulak, dan jantung gue kabur lewat leher, nggak kuat nerima arus deres adrenalin yang tiba-tiba nyembur kayak kuda ejakulasi. Oh oke, gue pun peluk, dan yea, rasanya biasa aja sih, nggak kenapa-napa, santai, rileks, cuek, pokoknya nggak kenapa-napa, titik. Beneran, gue nggak grogi gak gimana kok, beneran deh, suwer, serius, demi deh. (note: dua kalimat terakhir itu dusta besar, yang riilnya? Balik aja makna kalimat-kalimat tersebut)

Lega? Yea. Gue nggak ditolak, syukur dunia akherat.

Sedikit cekcok di parkiran, dan gue pun menampar hasrat dominatriks gue dan membiarkan sisi matjho garang gue minggir nyemplung ke kali. Yeah.. gue dibonceng, matilah. Dibonceng cewe kurus tipis. Ngga apa-apa deh, seenggaknya bisa peluk :”>

Bersambung (juga).

Blah..

This is Pitiful Speaking

Kepala gue pusing. Kebanyakan makan kali ya?

Apa yang terlintas di kepala gue kalau melihat dua posting dibawah? Banyak, nggak terdeskripsikan kalau-kalau disuruh menjelaskan, walaupun syukurnya kebanyakan adalah emosi positif. Gue terharu karena apa yang gue lakuin udah bisa membuat my love tergerak untuk melakukan perubahan walau sedikit, gue terbahak ketika entah kenapa nama adik gue tercinta itu di mention berapa kali di dua post tersebut, dan gue manyun ketika gue berpikiran, “apa gue pantes?”

Mengesampingkan hasrat dominatrix gue yang mengumbar kemana-mana, rasa sayang yang gue berikan dengan kadar yang bisa bikin sesak paru-paru, dan rasa cinta yang gue terima dari my lovely javanesse sugar yang saking manisnya bisa membuat kopi pait gue berasa caramel machiatto. Tetep, salah satu sifat dasar gue yang paling bikin diri gue sendiri enek bin mual, pesimis dan pasrah. Yeah. Sejauh apapun gue melangkah, yang namanya bayangan jelek selalu mengawang di sekitar pikiran gue, berbentuk kabut yang bahkan saking tebalnya sampai menutupi mata gue sampai jarak pandang tertentu. Pantes gitu gue jalan sama dia? Dia cantik, gue bersisik, dia stabil gue labil, dia matang gue masih nyangkut di pohon. Dan kalau mau dipanjangin, gue bisa nulis empat paragraf padu cuma untuk ngebanding-bandingin gue dalam tata bahasa kancut sama dia, bahkan mantan-mantannya. Such a waste.

Hal ini juga yang membuat gue beberapa hari lalu, disaat ada gath IH di Bandung, bertanya pertanyaan spontan plus konyol kepada salah seorang yang dateng. Ayu, tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling, gue nanya begini. “Yu, kalau misalkan lo punya pacar berondong, masih kuliah, sementara lo udah kerja, mapan, dan si berondong ini minder sama si pacar, secara dia masih kuliah dan masih ngelintah sama orang tuanya, kira-kira apa yang bakalan lo lakuin untuk ngebuat dia ngerasa lebih baik?” Oke, konyol. Dan tentunya dijawab dengan cukup baik.

Nggak usah mikirin kalau misalkan orang lain nggak mikirin, apalagi kalau orangtuanya nggak mempermasalahkan, nggak ada yang harus diminderin. Jadikan mindernya sebuah pecutan, katanya, kalau sekarang gue nganggepnya masih dibawah dia soal pendapatan and blah blah, maka suatu saat gue harus nyamain dan bahkan melebihi, motivasi? He eh. Terus, toh perbedaan yang sekarang gue dan dia alami ini disebabkan karena kebetulan my love lahir 5 tahun lebih dulu, bukan salah gue juga kalau masih belum bisa berdikari sekarang :p *pengalesan*. Yea, tau sih, gue ngerti dan paham, mungkin gue cuma pengen nyari pembenaran,mungkin gue cuma pengen ngobrol di sela-sela obrolan yang semakin beranjak basi dan gue terdiam bagai patung ganesha? Dunno.

I love her, it’s a dot.

My cutest barista once told me, kenapa sih, bisa sebegitu sayangnya sama gue? Yang dijawab dengan “Got the best boyfriend ever.” Yea, gue seneng, nggak bisa berhenti nyengir, untung sendirian, kalau rame udah dirante dan digiring ke yayasan mental terdekat kali. Tetep tapi.. suramnya, nguk.

Janjimu Hampaa~

This is Pitiful Speaking.



…..



:|



*hela nafas*



:|



*pasrah*



Jam tiga pagi, ditinggal tidur sama my love. Harusnya sih ngambek ceritanya, tapi secara umur saya udah terlalu berkumis untuk bisa meluapkan emosi-emosi anak esempe macem itu, jadi let it be lah *cih*. Kidding, tidur itu fitrah paling luar biasanya dalam bentuk rekreasi yang bisa diberikan oleh Tuhan kepada umatnya, berkah paling konsisten yang bisa lo nikmati setiap hari, dan sampah paling kompeten kalau udah menyangkut soal deadline kerjaan. Jadi gue nggak punya kapabilitias dong untuk ngelarang, atau bahkan marah ketika seseorang sedang memetik bunga tidurnya yang paling cantik? Gue juga ogah kalau dibangunin tidur hanya gara-gara ada kecoak nemplok di muka. Itu sih perang.



Ah, apa sih. Gue mau ngomongin soal janji nih. Janji is penting, kata sohib sehati setoeboe gue yang satu itu. Kalau kata yakin nggak sempat terlintas di otak ketika merumuskan sebuah janji, ada baiknya kalau-kalau batalkan aja lidah bergoyang dan bibir berjoget, hasilnya fatal, bukan hanya yang dijanjiin yang luka, tapi diri sendiri juga bakalan ketimpa rasa bersalah seberat tuyul obesitas. Seenggaknya itu dia, kalau gue? Gue menganggap janji itu sebelas duabelas sama yang namanya kutukan, in a good way, tentu. Maka kampret lah nature gue yang bergolongan darah A *nyalahin*, ada kecenderungan untuk sempurna, ada kecenderungan untuk tanpa salah, ada kecenderungan untuk selalu lurus walaupun Little John belok ke kanan. Sekalinya gue berjanji, maka nggak ada alasan buat gue untuk nggak menepati janji itu, selama syarat dan ketentuan masih berlaku.



Takut, bukan berarti nggak mau.



Elo elo kira gue nggak takut nonton horror sendirian di kamar kosan gue yang gelap gulita? Takut kalik, nggak jarang gue gigit bantal atau selimut kalau lagi nonton, kadang malah sampe nutup muka atau kuping. Huahaha, kontradiktif sama apa yang gue sampein selama ini, baik di twit ataupun langsung? Gue takut, tapi gue nggak bisa nahan kenikmatan yang nggak bisa gue dapetin dari film-film genre lain, apa itu? Boobs lebih banyak di film horor, nggak ding, emosi lebih terlibat kalau nonton genre ini, seenggaknya itu gue. Emosi takut sih.



Gue mungkin nggak bisa janji, apalagi sama madu paling manis yang satu itu, tapi gue selalu mengusahakan yang terbaik, sebaik yang gue bisa dan sekeren yang gue mampu. Dunno, mungkin gue udah terlalu banyak bicara tai banteng sampai-sampai gue ngerasa nggak pantas untuk memberikan satu-dua janji, mungkin juga karena gue terlalu takut sama masa lalu my love, nggak pengen dia inget hal-hal jelek di masa lampau, mungkin juga karena gue emang brengsek? Uu.. heavhey. Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue bukan nggak mikirin masa depan, untuk apa pacaran kalau tujuannya hanya hari ini dan bukannya memikirkan gimana gue hidup nantinya? Sama siapa? Nikah dimana? Punya anak berapa? Oke, umur gue 20, 20 labil yang kecolek dikit bisa rontok fondasi prinsipnya. Beberapa orang mungkin gue bicara terlalu jauh, beberapa juga mungkin akan berkata kalau gue ini terlalu santai, tapi toh ini gue, kekar dan ganteng *ngek*, hidup apa adanya tapi juga berusaha untuk sampai ke tahap ada apanya, kenapa? Gue nggak mau ngasih makan anak gue pake daon singkong.



Doh, tiap nulis model begini pasti ada saatnya mentok deh.



I love you. Kalau ada satu janji yang bisa gue berikan sekarang-sekarang ini adalah. I wanna be with you, titik. Koma, dan gue mau ketemu my love lebih sering dari perencanaan awal di tahun ini.

Kenalan Dongs

This is Pitiful speaking.

Hola, my vicious friends, whoever you are, but you just stumble upon this magnificent blog of us. Us? Yeah, jamak. Blog ini bisa dikatakan sebagai blog keroyokan, kalau memang ngebet, boleh menyebut ini sebagai diari kami berdua. Kami, saya Cubung Hanito, dan rekanan, partner, lover saya, Imaniar “Nanda” Permana, punya ide sedikit sweet tentang bagaimana mengakomodasikan sebuah hubungan jarak jauh, yaitu blog, rada mustahil kalau harus mengirim diari tiap sebulan sekali, disamping nggak efektif, tulisan tangan saya kayak ayam dicakar, kasihan dia nanti bacanya.

Oh yea, jarak jauh, kita ngambil metode hubungan LDR, lenguhan dalam ranjang, errr.. long distance relationship, maksudnya. Dia di Surabaya, sedangkan saya di Bandung. Jauh? Uuh yeaa.. 12 jam naik kereta eksekutif, kawan, 20 jam kereta ekonomi, 11 jam bis malam cepat, 30 jam naik motor, dan mungkin 3 minggu jalan kaki. Ngok.

Sedikit tentang titel blog, belum resmi sih, tapi nama ini, Pitiful Clover, hanya comotan sekedar colong dari pecahan kecil diri kami berdua. Pitiful, trademark saya yang rada suram sendu mendurja, sering dibilang mengasihani diri sendiri sampai saya frustasi (pas SMA) akhirnya masa bodo dan pake kata tersebut. Sementara Clover? Ah, itu Nanda aja yang punya fetish tersendiri sama tumbuhan menjalar itu, selebihnya, biar dia yang njelasin. Digabung dan voila, jadilah.

Soal jadi menjadi…

Kami resmi jadian belum lama kok, kenalan juga sama aja, seumur kecoak. Tapi kami yakin kalau kami saling sudi menukar sayang, dan saya punya setitik perasaan yakin bahwa ini bukan sekedar anget-anget teh manis baru selesai dijerang. *uhuk* sekedar gladi resik grand opening, sekapur sirih tulis kemiri, saya mau coba ngenalin diri kami dengan cara saya, karena saya nggak total kenal lover saya, lalu siapa tau dia mau ngenalin diri dengan caranya sendiri.

Saya? Atau mungkin, ehem, enakan pakek ‘gue’ deh kalau ngeblog. Okeh.. gue? Cubung Hanito, 21 tahun kurang dikit, menetap sementara di Bandung, perawakan tinggi besar bermuka sangar bagai preman tanah abang, tapi berhati lembut bak pastur baru dikebiri. Nggak ganteng tapi syukur banyak yang naksir *siapaaaaa?? :((*, pragmatis melankolis koleris, bergolongan darah A perfeksionis najis, kadang sinis, tapi nggak jarang bikin miris dengan sifat impulsifnya yang luar biasa kinyis-kinyis. Sangat sayang dengan lovernya, saking sayangnya sampai bisa melantunkan kata terlarang dengan lantang menantang, “saya cinta kamuu~”

Cinta siapa?

Nanda, Imaniar Permana, rondo girangku :3, si barista imut manis legit, si cantik yang saya nggak pernah bisa lepas ngeliat wajahnya, kurus papan kutilang dara tapi selalu ingin saya peluk kemana-mana. 25 tahun, tinggal di Surabaya. Dan kalau ada yang berani-berani bilang saya ini berondongnya.. err… anda tepat *dang*. 25 bukan cuma sekedar angka, dia banyak loh ngajarin gue hal-hal baru, dia lebih mateng pola pikirnya, lebih komunikatif, lebih bisa menyampaikan pendapat sesuai maksudnya, tapi tetep, kalau manja-manjaan saya yang ngemong :3 iya dong. And the bottom line is, I love her. Dot.

Lalu disinilah kita, berusaha menuliskan segala hal yang kami rasakan, keluh kesah, rasa sayang yang nggak tertahankan, rasa marah yang nggak tertampung, kangen tanpa pelampiasan, rindu menggebu, nafs—ups, sensor—pokoknya itulah, disini di blog ini. Kata langgeng saya amini, kata konsisten saya restui. Mengakhiri postingan singkat versi maskulin ini, gue akan memberikan pepatah lama.

“Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak, cuk!”
Return top