Tapi, berhubung gue asshole kelas atas, gue mau cuap-cuap soal ke-asshole-an gue. Satu, bias sudut pandang. Dunia ini lo liat dalam kacamata first person, apa yang lo liat adalah apa yang lo alami, kan. Lo makan, maka apa yang lu kunyah, itulah yang kerasa di lidah—lalu reseptor ngirim sinyal ke otak untuk nginformasiin apa yang lagi ada di lidah. Simpelnya, apa yang ada di mulut orang lain, tentunya nggak akan bisa lo rasain, karena ya emang itu mulut orang. Ketika dua orang makan gue, apa pasti keduanya bakalan bilang manis? Siapa yang tau kalo salah satu diantara mereka berdua ada yang lagi demam tinggi hingga lidahnya mati rasa? Nggak tau kan?
Judging, itu salah satu bentuk kemanusiaan yang paling tribal, primitif. Gue bilang, biarkanlah apa yang ada di kepala seseorang tetap ada disana, kecuali, ada kesepakatan diantara dua belah pihak untuk diskusi, tebak-tebak personaliti atau mindfucking games, terserah. Tapi memberikan penilaian, tanpa ada bukti autentik konkrit, itu sama aja blunder, ya bagus kalo bener, ya kalo salah? Sebel nggak yang ditebak-tebak? Amen. Jesus.
Bias sudut pandang ini menghasilkan adanya penyimpangan sistem dalam sebuah hubungan, penyimpangan yang kebablasan, perversive perversity. Lo bayangin, yang namanya manusia aja udah kebanyakan simpangan, sekarang ditambah faktor hati, silahkan pangkat tiga. Jadi, jangan heran ketika dalam sebuah hubungan, kadang terdengar kata: “Kenapa sih, selalu aku yang minta maaf?” “Kamu nggak pernah mau ngerti!” see? Kalimat-kalimat itu udah bagai kacang merah di sop dagingnya dunia hubungan. Bias, mereka hanya melihat dirinya sendiri dalam memberikan penilaian, seberapa crack up, seberapa hancur, tapi mereka nggak melihat kondisi orang yang satunya, penilaian sepihak, tanpa informasi, dangkal. Sebgitunya, makanya disebut peversive perversity toh. Kelewat kebablasan.
Tebak-tebak buah manggis. Mata buta, ketutup sama badan mereka sendiri, wajar sih. Degradasi fisik, mental, daya pikir, ngebuat semuanya menjadi buram, semuanya menjadi kabur. Dan insting manusia yang paling dasar, bertahan hidup. On the verge of destruction, seseorang akan sewajarnya mempertahankan diri, membela diri, makanya, bias tadi lebih mungkin terjadi. Realita belakangan, yang penting sistem pertahanan diri udah lengkap, dan kalo sempet ya serangan balik. Nggak ada yang salah, insting, nature as a human being.
“Cuma gue doang yang sakit! Lo kagak! Gue yang paling sakit! Gue yang paling menderitaa!!!”
Screw and get bent. Gue udah membuang pikiran ini, dan gue nggak bohong, kalau mulut dan tangan ini masih gatel untuk ngetik atau berucap. Tapi gue tau, hasilnya nggak akan bagus. Perbandingan itu nggak akan pernah menghasilkan fitrah dalam sebuah hubungan, apapun bentuknya. Nggak ada orang yang suka dibandingin, apalagi sama orangtua atau pacar sendiri. Lebih baik gue berpikiran, oke, gue nggak dalam kondisi baik sekarang, misery, tapi men, gue nggak sendiri, toh dia juga. Nggak ada yang seneng, semua sama susah, dan gue bilang sama.. nggak ada yang ‘lebih’, dan nggak ada yang ‘kurang’. Lo ngerasa dia gak lebih menderita? Pikir lagi dua kali, ada kata ‘ngerasa’ disana, cuman perasaan, tebakan tanpa dasar tanpa logika. Valid? Buang ke kali.
Daaaaannnn
Ini paragraf paling keren yang pernah gue baca seumur idup.
Oh its hurt, if you need to know what I feels right now. You’re fucking win this game. You’re the most right man walking on earth . It wasn't your fault, baby it was me. Maybe our relationship isn't as crazy as it seems. Maybe that's what happens when a tornado meets a volcano. Maybe I’m nothing good for you, what I did always harm you. Next time, just make sure you killed me, and please walk away with it. I’d better let you end up my mysery.
Tepuk tangan. Gue selalu angkat topi sama yang namanya manusia, hebat, informasi yang minim bisa dijadikan paragaf padu. Makanya, acara gosip nggak ada di neraka, itu jatahnya manusia.
Nah nah.. it’s me, the greatest bastard walking on earth.

