RSS FEED

Wrath Virtue

Pada dasarnya post di bawah ini nyindir gw, iya kan sayang? Gw ga produktif udah hitungan bulan. Ga cuma di blog, tumblr, bahkan di RPF yang saban hari gw buka cuma ngeliat siggy gallery setelah itu close lagi. I’m in my darkest pit—sorry. Kalau menulis, mungkin gw bisa bikin satu post baru yang lumayan panjang dengan judul : Basa-Basi Pacar Sok Sibuk. Terlebih kesibukan itu memang satu dari ratusan alasan fundamental kenapa gw setiap nyalain kompi rumah yang dibuka malah Plant Vs Zombie #levelling #plak. Maafkan aku, sayang. Toh cintamu ga berkurang kan? KAN?

Sebenernya sebel juga kalo nulis tapi ga langsung dipost, alias di save, dan ending-endingnya gw lupa ngesave tuh scrap dimana. Nol lagi, mulai lagi, dengan hati mencelos karena sebelumnya udah nulis semuanya dengan gaya tulisan sebagus yang gw bisa. Hasilnya, jelek, klik kanan, delete. Dan roda penantian Hani yang pingin baca tulisan-tulisan gw harus diputar olang lagi dari 0 km. Sebenernya yang salah adalah… kompi! Salahkan dia karena dia lupaan nyimpen file tulisan-tulisanku dimana! Dasar kompi butut! Rongsokan! Bikin bengek aja!

*ga tau diri mode off*

*sungkem lagi di paha Hani*

There’s too much story… *kumat Britishnya*

Bersyukur pada Allah SWT gw dipertemukan sama lelaki ini, yang pertama kalinya gw lihat sendiri—berhasil bermetamorfosis jadi pribadi yang nekan kemarahannya dan lebih stabil, tanpa basa-basi. Gw pernah mengacung sumpah berubah jadi lebih sabar, yang ujung-ujungnya gw langgar, dan begitu banyak hati yang terkapar. Dan dari pengalaman itu gw tahu betapa susahnya, sengsaranya, berubah jadi seseorang yang lebih virtue dari kita yang sekarang. Jadi gw sempet frustasi dan pingin segera mengakhiri hubungan kalau Hani sedang dalam taraf raging blaze, marah yang destruktifnya ke badan dia sendiri sedang gw masih santai nyeruput choconiero, ga sadar dengan apa yang sedang dia lakukan di seberang.

It left scars on his chest, and left trauma planted in my brain.

Gw nangis, kalut, sedih dan takut setiap dia masuk tahap catasthrope itu. Dan betapa beda bobot badan juga sangat memuakkan pada tahap ini. Saat dia sedang ada di motornya, memacu dengan kecepatan di atas rata-rata, menderu-deru, dan gw yang gemetaran di belakang punggungnya. Mungkin kalau gw lebih gede dikitan, Hani sedikit sungkan macu keceng-kenceng #ganyambung.

Sekilas soal insiden KFC (kita namain itu aja ya Hani). Awalnya Cuma gegara blog, yang ternyata baru gw tahu kalo si Hani itu menuliskan mantannya di sana sebagai inspirator. Dan gw ngerasa yang…”HECK! EMANG YANG NGAJARIN LO SABAR DIA DOANG SELAMA INI? GW APA? SANDAL SWALLOW?” dan seperti biasa itu cuma terjadi dalam hati, yang mungkin bisa langsung diraaskan Hani dan endingnya dia yang marah sendiri, frustasi. Dipaculah itu Pulsar segede emak kenceng-kenceng melewati jalanan utama di Surabaya, Jl. A. Yani, menerobos lampu merah, nyelip bus, belok-belok diantara mobil gede dan sepeda motor. Gw takut. Kalau belum pernah liat gw histeris dan teriak-teriak geje say Astagfirullaah, Ya Allah Ya Rabbi, setiap dia macu kecepatan diatas 80 km/jam… yah, lo ga tau betapa putihnya muka gw waktu itu.

Karena waktu itu ada Insan dan Elsa, gw ga terlalu open reaksi. Tahulah kalau gw ngambek gimana, dingin, motionless, expressiveless. Sebagus mungkin gw tutupin borok yang berdenyut-denyut di dada gw dan ninggalin Hani karena telinga gw mendengar instruksi “Sana dulu” yang pada akhirnya berujung salah paham dan makin parah. Gw siapin 2 paket makanan dan minuman sembari nunggu Hani dingin dari semedinya, Insan dan Elsa udah balik pulang duluan. Setengah jam gw tunggu dan Hani belum menampakkan batang hidung. Gw makin frustasi, mungkin daripada keliatan di depan publik lagi nangis galau mending pulang sendirian aja. Gw sms Hani, dan ga ada balasan. Makin ga jelas hati gw, terbakar rasa muak. Pingin rasanya lempar spageti ke udara, tapi sayang, gw laper. Tapi ga mau makan kalo sendirian, ga bisa makan kalo lagi beranteman.

Akhirnya gw telfon Hani, dengar suara dia pecah hampir nangis dan gw tahu kalau dia begitu kalutnya ga ada gw. Apalah arti 40 ribu spageti, colonel spicy, mocca float dsb. Gw jalan ke arah dia, dia tarik tangan gw dan nangis di…. Parkir mobil. Malu, gw tutupin dia. Masih sempet ya gw malu, just kill me. Trus kita ngomong tatapan mata, di sanalah airmata leleh kek air bah. Ga pake kontrol, mungkin urat malu gw udah putus, mungkin gw ga mau bertopeng di hadapan dia, mungkin perasaan bersalah ini sudah pada puncaknya, munkin semuanya. Semuanya.

Lega, selajutnya cinta membuncah. Masih nget waktu dia jadi komentator paling berisik waktu gw main Plant Vs Zombie, dan setelahnya gw tidur dengan khusyuk setelah dibelai-belai. Mama dan Dinda jadi saksi, aih.

Yang berbeda, kali ini ga ada darah yang leleh dari kulitnya.

Priori Itastatem

Awali setiap tulisan dengan I miss you.

Cieh.

Gue punya suatu kebiasaan, sejauh ini gue mengatakan ini adalah kebiasaan yang jelek. Apa itu? Ini menyangkut yang namanya produktivitas. Seberapa efisien sih pemanfaatan waktu yang lo punya, apakah ada gunanya? Kepake dengan baik? Apakah waktu yang dipake itu menghasilkan sebuah output yang memuaskan? Terlebih, apa lo udah menggunakan waktu lo itu sebaik-baiknya?

Gue menjunjung tinggi efisiensi, banget. Yah, walau kadang molor dan kebentur kepuasan pribadi. Tapi tetep, efisiensi gue pegang sebagai salah satu pedoman hidup. Masalahnya, seperti yang baca disini tau, ini blog tujuannya sharing sama pacar, jadi, efisiensi ini ada kaitannya sama pacar gue dong, uhuy. Garis besarnya, gue bisa menjadi orang paling nggak efisien kalo udah deket sama pacar. Seenggaknya selama ini ya. Kalau udah bareng, gue nggak bisa ngapa-ngapain selain ngeliatin muka manisnya si Nanda itu, ngacak-ngacak rambutnya, godain sampe dia blushing sendiri, nyiumin bibirnya dan segala-gala hal yang ada Nanda pokoknya. Hal lain? Blas dus.

Gue nggak bisa kerja, gue nggak bisa baca apa-apaan, gue bahkan nggak bisa nulis, menghasilkan sesuatu pun nihil. Sekedar contoh, saat gue masih jadian sama mantan terakhir gue itu, gue sama sekali nggak membaca satu buku pun. Yeah. Satu setengah tahun lewat hampa, kutu buku di mata gue pun kayaknya udah ngubur diri di tengah tumpukan belek saking lapernya. Buat gue ini masalah, apalagi gue menyadari itu dan gue tetep cengar-cengir. Yaiya, toh hang out sama pacar itu menyenangkan, kenapa gue harus protes ketika hal-hal yang gue sukai itu, efisiensi gue itu tergantikan sama kebersamaan yang intim?

Sampai sekarang?

Yeah, sampai sekarang. Mungkin gue harus agak bersyukur, domisili kami berjauhan, dia di Surabaya sana, gue di Jakarta/Bandung, waktu bareng yang minim membuat gue punya banyak waktu untuk diri sendiri, melakukan hobi gue dan keinginan untuk menghasilkan sesuatu itu begitu gede. Nggak kebayang kalau satu kota, pasti gue maunya plus sukarela akan berusaha untuk terus deket sama si Nanda. Apalagi dia adorable gitu, mana tahan ninggalin barang sebentar? Dan ini didasari atas keinginan sendiri, bukan karena disuruh nganter, disuruh ngapel, disuruh-suruh apapun. Tapi emang pengen, bukan dari pihak satunya. Apalagi diminta? Yang pasti nggak bisa nolak.

Jelek? Ho oh. Tapi udah mendarah daging beranak pinak di gue mau diapain? Solusinya, tentu nggak bisa instan, jarak yang jauh ini mungkin udah bisa dijadikan pegangan sementara sampai gue bisa meluruskan prioritas, kebutuhan mana yang lebih urgen untuk diutamakan, kapan saatnya gue menentukan waktu buat diri sendiri, dan kapan saatnya gue harus ciumin bibir Nanda yang katanya swollen itu.

Bisa? Ya harus, gue nggak pengen hubungan lovey dovey yang sangat menyenangkan ini malah jadi pemicu gue untuk tidak produktif. Duer.
Return top