RSS FEED

Dan Besok, Dan Seterusnya, Dan Seterusnya.

Tunggu. Kalau Nanda bilang, siapa yang begitu gobloknya istirahat seminggu di kasur karena tipes? Jawabannya, semua orang, sayang. Sekarang gue mengkaji ulang kata-kata gue, tindakan yang gue lakukan tempo hari, pacar mana sih yang akan ngebiarin mentari paginya melakukan perjalanan jauh 14 jam, sementara di tubuhnya lagi beranak pinak bakteri penghancur usus? Ada? Kalaupun ada, pastilah orang itu idiot secara masif dan punya gangguan perasaan akut yang mungkin menghantam modula oblongatanya sampe dia begitu frigid. Oh yeah, itu gue. Sekejam apapun gue meneriakkan “tidur!” “makan yang banyak!” “jadi anak bandel amat kalo dibilangin!” tetep, sebagai lelaki berhati kaca, gue nggak bisa menutup kuping saat Nanda merengek manja mesra meminta ijin ke gue, pasti mulutnya manyun-manyun sensual deh.

Dan gue pun ijinin, dengan kepaksa.

Apa sih.

Kalau dia mau memaksakan datang sebegitu kuatnya, sampai memaksakan diri melawan rasa sakit yang ada di badan, hanya untuk ketemu gue? Yang orang-orang mungkin bilang ‘cuma pacar’, apakah gue berhak melawan keinginannya itu? Ketika gue berada di posisi Nanda, mungkin gue akan melakukan hal yang sama. lihat sesuatu disini? Perhatikan poin ‘jika kita bertukar posisi’, apa artinya? Artinya, secara naif, gue mengatakan bahwa dia adalah orang yang mau susah-susah buat gue, mau mengorbankan banyak hal hanya untuk gue yang bertitel ‘cuma pacar’ ini—karena, gue pun akan melakukan sebaliknya. Pertukaran yang setara, apa gue harus menawar lebih lagi?

Nggak.

Gue jujur, gue nggak bisa mengontrol kadar cinta yang gue berikan kepada seseorang, pada Nanda. Bahkan awalnya, gue berusaha untuk nggak memberikan semuanya, beberapa persen cukup, gue nggak mau terjerumus di lembah needy dan impulsif untuk yang kesekian kalinya. Tapi apa? Pada Nanda gue melakukan kesalahan dalam tanda kutip yang sama, gue memberikan semua stok cinta yang ada di gudang hati, tanpa ada ketakutan untuk kelaparan pangan pada musim kemarau, nggak, gue nggak takut. Kenapa? Dia bukan worth dying, tapi worth living.

Huruf menjadi kata yang berikutnya menjadi kalimat, paragraf tersusun yang berujung pada wacana. Ciuman, pelukan, dekapan, nafas yang memburu, jerit yang tertahan, itu semua berarti hidup yang membuat gue penasaran, seperti apa hari berikutnya? Apa kata-kata yang akan dia lontarkan? Seperti apa balasan yang gue berikan? Seperti apa marahnya Nanda? Dan bagaimana gue berusaha mendamaikannya? Yang pada akhirnya, berujung pada sebuah keinginan, gue mau terus melihat Nanda senyum dengan begitu manis, yap, plus keriput di sudut mata kanannya yang menjadi favorit gue.

Stasiun, pulang.

Setelah beberapa hari yang dilewati bersama, akhirnya ada yang dinamakan perpisahan. Menyebalkan, pasti. Gue hanya pengen cemberut di hari terakhir, menunjukkan muka kusut nggak disetrika, diam total dan ingin Nanda menghibur gue dengan lawakan-lawakan garingnya. Tapi nggak, sayangnya. Daripada melakukan itu semua, bukannya malah memberatkan dia untuk pulang ninggalin beruang grizzly desperate di stasiun? Hayah. Makanya gue cengengesan, ketawa-ketiwi menghibur Nanda yang tiba-tiba berubah emo dahsyat. Sedikit-sedikit nunduk, sedikit-sedikit murung, apa jadinya kalau gue ikutan seperti itu? Yang ada dicap pasangan suram sama mas-mas tukang anter makanan di Madtari.

Pasrah, gue hanya bisa melihat Nanda dari balik kaca jendela kereta, ngeliat dia merajuk manja dengan ekspresi-ekspresi manisnya. Haaaaah.. pengen rasanya njitak. Tapi tahu endingnya? Dia turun, lima menit sebelum kereta berangkat, senyum-senyum melihat gue haha-hihi yang ketauan palsunya. Minta cium pipi, katanya. Diciumlah kedua pipi, dan bonus.. satu ciuman tepat di bibir, di tengah stasiun besar Bandung yang lagi ramai-ramainya. Nggak terasal amoral, nggak terasa mesum, itu hanya sesimpel tanda cinta. Sesimpel itu.

Kereta berangkat, dan gue ngaso setengah jam di stasiun, ngerokok. Cuma mikir..

Yeah, she’s worth living.

0 komentar:

Post a Comment

Return top