RSS FEED

Nah loo.. Kenapa Nah Loo..

Baru tidur kurang dari setengah jam, mata ini terbuka lagi. Hueeh.. dingin bener, sayang. Mau dipejam paksa, nanti bukan ikhlas. Makanya, gue keluar kamar, bengong menyulut rokok terakhir yang gue punya, batang ke enam dalam dua puluh empat jam, itu cukup. Untuk kesekian juta kalinya, asap mengepul tajam mengalir tanpa cela terbawa aliran angin entah kemana. Lampu-lampu pemukiman berpendar temaram puluhan kilometer jauhnya di perbukitan entah apa namanya, langit cerah tanpa bintang, tangisan Tuhan seharian tadi seakan ilusi yang hilang tanpa jejak. Menunggu air mendidih, apa salahnya menuangkan rasa kangen sekedar rindu, yang dikangenin udah tidur (kayaknya), jadi, ke sini.

Gue nggak tau para penulis-penulis diluar sana itu punya pola pikir yang seperti apa, determinasi sebesar apa sampai-sampai mereka bisa menulis rangkaian kata cantik sepanjang ratusan halaman, beberapa malah ada yang sampai tujuh seri. Buat gue determinasi dalam menulis itu seperti kangen. Gue emang nggak selalu bilang, nggak selalu menyampaikan ke orang yang dikangenin kalau gue lagi kangen, tapi, bukan berarti gue nggak kangen dong. Analoginya, gue memang nggak konsisten dalam menulis, mungkin gue termasuk kategori orang yang jarang menulis untuk yang menamakan dirinya “doyan nulis”, tapi yea, bukan berarti gue nggak suka kan?

Determinasi itu ringkih, sayang. Sesuatu yang belum menjadi kebiasaan, kalau nggak dibiasakan akan hilang. Dan yang mau gue sindir disini adalah, blog ini, haha.. kita berdua terlena, kamu terlena ingin memberikan tulisan terbaik yang mungkin waktu pengerjaannya nggak bisa sembarangan, ujungnya, malah jadi terbengkalai. Sedangkan gue, ingin menulis dari seminggu yang lalu, tapi terbuai sama yang namanya urutan, kamu sekali, saya sekali, padahal nggak ada perjanjian seperti itu, makanya, terbuai.

Ah, sekedar sisipan, tiga paragaraf diatas itu cuma omong kosong, love, sekapur sirih basa-basi yang dibuat seorang penulis dengan penuh gerutu—padahal bukunya udah siap terbit. Ya ya, pemanjang paragranya udah cukup, yang pengen gue sampein disini itu, di post ini, di tulisan ini adalah.. gue kangen pacar. Iya, si imut asal Surabaya yang itu, si Brown Sugar lutju pangkat kiyut. Gue kangen momen-momen yang gue habisin bareng dia, momen gue disuruh mencicipi cafĂ© mocha di CC Surabaya, momen dimana dia merajuk minta digandeng, saat dia melihat gue dengan pandangan (sok) seduktif biar gue malu, saat dia berusaha memasukkan tangannya ke sela-sela jari gue, saat gue terbangung dan ada dia yang ngeliatin dengan tampang yang juga kusut. Haum.. susah menyebutkannya satu-satu, karena momen gue bersama dia hampir semuanya bikin kangen *ciye*.

I love you, dong, kamu tidur, gue bisa bilang cinta, weeek.. ups, air mendidih, teh siap diseduh, sehabis itu kembali ke peraduan, sesuai janji, sayang. Met tidur.

0 komentar:

Post a Comment

Return top