Prejudice itu rugi. Dan gue rugi. Gue selalu membayangkan Surabaya sebagaimana diceritakan orang dan kabar angin yang berhembus semilir, Surabaya itu puannas! Pengap! Tapi toh salah, nggak semengerikan mindset yang udah terbentuk menahun. Kuda besi melaju, pangerannya kecil, kurus, lesu, sekali lihat mungkin akan mengira gampang doyong ketiup angin. Sang putrinya ageng, besuar, dan wajah yang terlalu banyak suntikan steroid hingga terlihat sangat macho, makanya, fail. Seperti yang gue sebut sebelumnya, gue dibonceng, rancu, ragu, nggak enak baik hati maupun harga diri, terasa dorongan nyemplung ke sumur meningkat ingin melarikan diri, tapi mungkin nggak ada salahnya kalau sesekali.
Malam Surabaya sejuk, angin gelebug sesekali menepuk leher yang terlalu lama kaku dipakai duduk. Pemandangan tenang, beberapa kali terlihat banyak anak muda di tempat-tempat tertentu yang nampak diamini sebagai tempat nongkrong kolektif. Jalanan lengang, entah karena memang hari merah, atau mungkin dewi jalanan lagi berpihak pada kami yang udah nggak tahan melampiaskan rasa kangen kelewat rindu #dueh. Bisu, sesekali basa-basi ragu, ingin berbicara satu dua hal tapi ngeri malah menjadi gagu, gak lucu kalau-kalau dia mendapatkan kesan pertama gugupan tercetak bold di jidat gue dong. Bicara itu verbal, kadang komplementer kadang substitusi sama non verbal, gue memilih subtitusi sebagai fungsi, maka, gue peluk dari belakang badan mungilnya, mungil. Kalau ada tiga orang Nanda, dijamin masuk semua. Disaat itu gue sadar, dominatriks nggak harus dibelakang setir.
Serasa mimpi, tapi gue tau ini nyata, soalnya pas meluk sakit kepentok tulang.
*duakk*
Gue memilih warteg ketimbang resto, gue memilih motor ketimbang mobil, dan gue memilih warkop ketimbang cafĂ©—walau sesekali gue mengamini ajakan kesana demi tali yang dinamakan pertemanan. Makanya, ketika gue mendengar nama destinasi yang akan kita tuju, rada pesimis, gue langsung cek, apa rokok gue cukup? Apa tampilan gue sendiri udah cukup bikin gue nyaman? Dan.. apa gue siap keliatan seperti bromocorah kecelup Versace? Karena, jika sesuai dugaan, pasti gue bakalan berwajah kayak abis disetubuhi lelembut. Dan syukurnya, nggak. Tempatnya nggak seglamour yang gue kira dan masih ada ‘rumah’nya sebagai konsep, lega, ditoleransi, dan mungkin lebih ke arah anggukan pengaminan. Dan my lovely brown sugar? Gue nggak bisa melepaskan pandangan dari dia, barang sedetik, terkesan gombal dan penajisan jamaah dari yang ngebaca, tapi sayangnya, itu nyata baik literal maupun metafor.
Perut lapar, kepala saking pusingnya sampai gue meminta digampar pake carvil, dan kaki pun melangkah masuk. Nanda familiar, gue asing. Satu Coffee corner bagai disihir, seorang perempuan dateng dan semua mata langsung tertuju padanya. Dan bukan pandangan biasa, heran setengah takjub, bibir menganga setitik terperangah, respon ajaib yang muncul kalau perempuan ini sudah melakukan salah satu dari tujuh dosa besar. Sedikit merasa, karena ada gue, karena si manis bawa cowok? Mungkin. Nanda menyapa kanan kiri, gue antara menunduk dan tersenyum getir, sekedar balasan sebatas lengkung penghormatan. Ada satu titik, dimana gue merasa ada sesuatu yang aneh. Markas tersembunyi yang sayangnya di depannya jelas-jelas ditulis “rahasia”, sama aja boong. Dan beberapa saat kemudian setelah diverifikasi, bener. Heu. Si cipika-cipiki mantan affair valentine, guk.
“Disana?”
Gue menolak, berkenaan dengan tempat duduk, gue menafikkan sofa dan coffee tablenya walaupun gue minum kopi kayak minum susu, my love tau kenapa. Sofa dan coffee table nggak cocok sama gue, yang menjadikan jarak adalah hal yang penting dalam sebuah obrolan, ketika gue di sofa, dengan adanya kemungkinan gue bakalan bisa senderan, itu berarti gue menjauhkan jarak obrolan dong, nggak mau. Sementara ketika gue maksa untukk memajukan tubuh, kaki gue yang kepanjangan bakal ngebuat gue keliatan jongkok, nggak ergonomis. Ah kawan, itu cuma alibi belaka, intinya sih, gue milih meja dan kursi konvensional karena emang pengen lebih deket aja sama si Nanda :3. Yea, walau dengan situasi dan kondisi yang berbeda, sofa memang lebih mendekatkan, sampai gak ada jarak malah. Eaa..
Duduk, badan dinyamankan, menu datang dan pilihan dijatuhkan, 3 jenis kopi yang berbeda, dua jenis makanan yang berlainan. Kami ngobrol, dari sekedar prolog nggak perlu, sampai ke tahapan yang bisa bikin NWO berdecak kagum saking konspiratif apa yang kami bicarakan *halah* Gue menikmati waktu-waktu itu, dari kopi sampai tempat, terutama dia. Hal-hal seperti makanan, tempat, kemana dan mau apa itu trivial buat gue, hampir nggak ada artinya, andaikan cocok, enak, dan fun itu hanya sekedar tambahan, ekstra. Apa yang penting? Buat gue, dengan siapa lo menjalani itu semua. Dan dengan Nanda? Singkirkan semua yang ada di meja gue, dan gantikan dengan dia yang tersenyum semanis gula aren, itu aja gue udah ngutang.
Detail bergulir, kalimat demi kalimat terjalin panjang membentuk paragraf yang semakin lama beralih menjadi sebuah wacana. Gue mendengar sesekali berbicara, kadang menjelaskan, dia tertawa, dia mendengar dan sesekali mencium. Ciuman tipis minim gestur tapi terlalu menumpuk makna akan maksud dan kausal. Satu ciuman efeknya psikoaktif. Kata berhenti, gerakkan terhambat, endorphin menggelegak dan darah terasa deras mengalir, dan jangan ngeres, nggak deres mengalir ke penis, percaya aja. Gue defensif bukan penolakan, defensif karena pertahanan gue dalam kata, dalam postur, dalam kebanggaan gue sebagai seseorang terlahir lelaki runtuh dihantam sebuah kejujuran. Gue mengutuk topeng, jaimlogy dan tetek bengek munafikisme, ketika gue malu tentu buat apa ditutupi, malu itu kadang berefek apresiasi, kepada orang yang kalian sayang, bahwa mereka punya efek besar buat kalian.
Orang memandang pedas, beberapa getir tertahan, dan sedikitnya agak mau tahu. Tindakan dia bukan hal yang bisa gue balas dengan tindakan, mungkin bisa, dan mungkin seri. Tapi bukan itu, gue mengincar hook kiri setajam silet ketika dia lengah terlalu lebar mengambil straight, cross counter pamungkas Hollyfied yang menjatuhkan De La Hoya beberapa tahun lampau di Caesar Pallace. Itu. Gue bercerita sedikit, twist mengelak yang bermaksud sad ending tapi mengarah lain. Dia terpancing dan kalimat yang sejujurnya membuat lidah gue kelu beberapa saat akhirnya keluar.
*Blam*
Dijawab deh.
The End.
Kidding.
But Seriously.
Naaaaa aa…
Gue memandang dia, dalam diam, khusyuk. Berusaha mengabadikan momen-momen itu sebagai hal manis yang nggak akan gue lupa, sebagai senjata sakti yang bisa melupakan tetes-tetes amarah gue di masa nanti, bahwa, gue pernah melihat perempuan yang begitu manisnya sampai Americano gue berasa dicemplungin lima sendok gula, dan gue baru saja memenangkan hati perempuan ini. Nggak mudah, banyak yang harus dibayar, banyak yang harus ditebus, dan dikorbankan, tapi setimpal dan malah surplus.
“Pulang yuk.”
I love you, it’s a dot.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment