Baru tidur kurang dari setengah jam, mata ini terbuka lagi. Hueeh.. dingin bener, sayang. Mau dipejam paksa, nanti bukan ikhlas. Makanya, gue keluar kamar, bengong menyulut rokok terakhir yang gue punya, batang ke enam dalam dua puluh empat jam, itu cukup. Untuk kesekian juta kalinya, asap mengepul tajam mengalir tanpa cela terbawa aliran angin entah kemana. Lampu-lampu pemukiman berpendar temaram puluhan kilometer jauhnya di perbukitan entah apa namanya, langit cerah tanpa bintang, tangisan Tuhan seharian tadi seakan ilusi yang hilang tanpa jejak. Menunggu air mendidih, apa salahnya menuangkan rasa kangen sekedar rindu, yang dikangenin udah tidur (kayaknya), jadi, ke sini.
Gue nggak tau para penulis-penulis diluar sana itu punya pola pikir yang seperti apa, determinasi sebesar apa sampai-sampai mereka bisa menulis rangkaian kata cantik sepanjang ratusan halaman, beberapa malah ada yang sampai tujuh seri. Buat gue determinasi dalam menulis itu seperti kangen. Gue emang nggak selalu bilang, nggak selalu menyampaikan ke orang yang dikangenin kalau gue lagi kangen, tapi, bukan berarti gue nggak kangen dong. Analoginya, gue memang nggak konsisten dalam menulis, mungkin gue termasuk kategori orang yang jarang menulis untuk yang menamakan dirinya “doyan nulis”, tapi yea, bukan berarti gue nggak suka kan?
Determinasi itu ringkih, sayang. Sesuatu yang belum menjadi kebiasaan, kalau nggak dibiasakan akan hilang. Dan yang mau gue sindir disini adalah, blog ini, haha.. kita berdua terlena, kamu terlena ingin memberikan tulisan terbaik yang mungkin waktu pengerjaannya nggak bisa sembarangan, ujungnya, malah jadi terbengkalai. Sedangkan gue, ingin menulis dari seminggu yang lalu, tapi terbuai sama yang namanya urutan, kamu sekali, saya sekali, padahal nggak ada perjanjian seperti itu, makanya, terbuai.
Ah, sekedar sisipan, tiga paragaraf diatas itu cuma omong kosong, love, sekapur sirih basa-basi yang dibuat seorang penulis dengan penuh gerutu—padahal bukunya udah siap terbit. Ya ya, pemanjang paragranya udah cukup, yang pengen gue sampein disini itu, di post ini, di tulisan ini adalah.. gue kangen pacar. Iya, si imut asal Surabaya yang itu, si Brown Sugar lutju pangkat kiyut. Gue kangen momen-momen yang gue habisin bareng dia, momen gue disuruh mencicipi cafĂ© mocha di CC Surabaya, momen dimana dia merajuk minta digandeng, saat dia melihat gue dengan pandangan (sok) seduktif biar gue malu, saat dia berusaha memasukkan tangannya ke sela-sela jari gue, saat gue terbangung dan ada dia yang ngeliatin dengan tampang yang juga kusut. Haum.. susah menyebutkannya satu-satu, karena momen gue bersama dia hampir semuanya bikin kangen *ciye*.
I love you, dong, kamu tidur, gue bisa bilang cinta, weeek.. ups, air mendidih, teh siap diseduh, sehabis itu kembali ke peraduan, sesuai janji, sayang. Met tidur.
Dan Ketika Perlahan Merangkak Menuju Hati
- 10:43 AM
- Write comment
Tadinya gue mau nulis hal lain, tapi melihat postingan di bawah ini, rasanya nggak cuma ide-ide yang gatal ingin ditumpahkan ke secarik kertas elektronik, tapi rasanya tangan juga gatal mau gampar pipi karena kesengsem yang overdosis. Uhuk. Syukurlah my love membuat postingan dibawah itu, karena kalau nggak, mungkin mispersepsi yang saya punya sampai beberapa menit tadi bisa menjalar sampai ke akar pikiran, kebawa masuk sampai alam kubur.
Blam.
Coba bayangin, lo pernah di posisi yang begitu suram sampai lo merasa nggak akan pernah mau untuk berada di posisi itu lagi, dan sekarang, ketika lo berkemungkinan untuk menempatkan seseorang di posisi yang udah pernah lo rasa itu, apa coba rasanya? Gile, lutut serasa rontok, paru-paru kehilangan setengah daya kerjanya, dan kecenderungan tremor gue meningkat beberapa kali lipat, ngerokok aja berasa ngelukis getar. Yeah, konyol, padahal gue selalu bilang, jangan pernah prejudice, jangan nilai, jangan mengambil keputusan, jangan menjudge berdasarkan informasi yang parsial, itu goblok, gue bilang. Nyatanya? Seperti yang selalu gue juga biasa sampaikan, kalo udah nyangkut ke hati, teori itu sebatas buku, dan bukan praktikal. Jadilah.. konstruk gue hancur berantakan jam dua pagi.
Khawatir, berguling-guling di kasur super tipis, bangun lagi, misscall, sms, im, semuanya, semua cara gue lakukan untuk ngehubungin satu perempuan yang berada 700 kilometer jauhnya dari tempat duduk gue sekarang, Surabaya. Takut terjadi hal-hal yang nggak gue dan siapapun inginkan, man, lo harus pernah berada di tempat tersebut, di insiden tersebut sebagai tersangka merangkap korban untuk tau rasa khawatir yang gue alami tersebut. Patah arang, patah arah, gue frustasi, dan tanpa mikir panjang, gue memutuskan untuk cabut ke surabaya. Minus modal, minus persiapan, kecuali sepotong celana dalem dan kaos dalam adalah persiapan super oke, lain ceritanya.
Darimana gue mendaptkan duit dan prosesnya sampai ke kereta, gue skip ah, gak.. asik. Haum. Bukan nggak mau berbagi, hanya ngerasa nggak perlu diceritain juga sih.
Oke, setelah rentetan jumlah misscall yang entah berapa puluh, sms putus asa yang entah bunyinya apa, gue udah di kereta, suntuk, ngerokok nggak berenti-berenti, muka kusut, mulut masih bau mad-dragon yang kalau gue cium sendiri bisa bikin gue gak napsu makan. Masih misscall, masih sms sekali-sekali dan saking gobloknya, gue sampe ngeadd beberapa saudara my love saking frustasinya nggak bisa meraih dia sebatas kontak kecil.
Dan akhirnya.
Lebih nikmat daripada ejakulasi ketika jam sebelas siang, SEBELAS!—jam dua malam sampai jam sebelas siang, sembilan jam! Fyi, itu bukan waktu yang pendek untuk diabisin sambil kepala lo ketiban beban mental seberat Ani Yudhoyono—akhirnya, my love ngontak, dia nggak apa-apa, walaupun nggak sepenuhnya, terima kasih Tuhan. Nginformasiin kalau gue bisa tidur dirumahnya, jadi pacet selama beberapa hari disana, padahal, gue udah membayangkan malam-malam Surabaya yang pengap dipeluk nyamuk-nyamuk binal dan kecoak-kecoak jahanam yang siap merebut keperjakaan gue, entah itu di Mushola atau kelurahan terdekat. Sungkan iya, enggan ya enggak dong, 24 jam bisa ngeliat wajah my brown sugar kapanpun gue mau, tempting total itu sih. Akhirnya mengiyakan, walau harus dipaksa dengan ancaman-ancaman sadis terlebih dulu.
Dan?
Gue turun dari kereta, malam Surabaya yang gelap *yaeyalah*, gedung stasiun penuh ornamen jawi dan logat serta bahasa yang asing, gue kembali duduk di salah satu pelataran, ditemani temaram layar handphone dan letupan asap tebal dari sebatang kretek mengawang di sekitar gue. Tebal, tebal khawatir, tebal yang nggak sabar, tebal yang penasaran. Di satu sisi gue khawatir dengan keadannya, seperti apa dia dan gue berdoa sekeras-kerasnya supaya dia masih bisa melangkah di atas kedua kakinya dengan bugar. Di sisi lain, gue seneng setengah mati, cita-cita jangka pendek gue bisa tercapai lebih awal dari dugaan, bertemu perempuan idaman gue yang mengganjal mata dan hati beberapa minggu kebelakang, seneng? Pasti, girang? Apalagi.
Dan waktu berputar semakin lambat, apalagi sewaktu gue ngeliat dia berjalan dari pelataran parkiran ke arah stasiun. Pelan, serasa nyaris berhenti, seolah gue memberikan perintah sporadis kepada otak gue untuk mengabadikan momen ini sebaik-baiknya, 10 megapixel, 3mb persekon kualitas gambar supaya bisa gue inget dengan kualitas blue ray kapanpun gue mau. Dan jadilah.. “kamu yang baru aja masuk ke peron? Saya udah diluar.” :| yea, dia lupa bagaimana bentuk muka gue apalagi badan, jadilah dia ngeloyor tanpa memberikan sebatas-bahkan lirikan pada gue yang mungkin lagi ketutupan kabut karbondioksid.
Gue samperin, sapa, dan melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki, masih segar di ingatan, masih tetap cantik sebagaimana memori gue menyimpannya beberapa bulan lalu, masih dengan tubuh yang terlihat ringkih, namun ketenangan yang dijamin mutu kalau seorang body builder seberat 210 kilogram nggak akan bisa membuat dia bergidik barang setitik, pesona itu, wibawa itu, masih sama. Walaupun ingin mengarah kepada penilaian akan nostalgi keadaan sebelum sesudah, tapi tetep, gue nggak bisa menampik alasan apa yang membuat gue berada sekian ratus kilometer dari kosan gue yang dingin luar binasa itu. Makanya, gue cek tangannya yang mungil kecil itu, bersih, gue tanya-tanya berentet sedikit sarap soal “ngapain semalem? Ngapain? Blalalala.” Yang dijawab dengan cengiran seduktif yang membuat gue membuang muka menangkis serangan maut tersebut. “nanti aja.”
Know whud? Gue minder, ya gimana enggak? Kalau tampilan gue aja sebelas duabelas sama tukang tambal ban pinggir jalan yang diusir istrinya karena nggak bisa bikin ngebul dapur. Diperparah dengan muka kusut pangkat lecek dikali belum mandi dan berakar rambut masih gondrong nglewer-lewer turn off. Blah.. Kalau di post sebelumnya dia berusaha keliatan cantik pas jemput gue, bener banget, total, kalau gue nggak pake kacamata, bisa buta gue saking cantiknya *lebay nying*. Beauty and the Beast, kalimat padu yang diamini kami berdua :|
Awkward? Yea, siapa yang enggak kalau ketemu cewek cakep yang belum pernah liat lo secara langsung. Takut? Tentu, apa kabar kalau misalkan reaksi yang muncul adalah reaksi yang paling gue nggak harapkan dari seorang yang gue suka? Pernah dan rasanya ue ue ue. Grogi? Jelas. Dan gue mau koprol depan disaat tiba-tiba dia bilang, “kok gak digandeng?” dan jantung gue geser ke lambung, gue pun gandeng. Hampir sampai di parkiran, tiba-tiba barista lutju ini berbicara lagi setelah beberapa meter bisu, “kok aku nggak dipeluk?” pakek basa londo pulak, dan jantung gue kabur lewat leher, nggak kuat nerima arus deres adrenalin yang tiba-tiba nyembur kayak kuda ejakulasi. Oh oke, gue pun peluk, dan yea, rasanya biasa aja sih, nggak kenapa-napa, santai, rileks, cuek, pokoknya nggak kenapa-napa, titik. Beneran, gue nggak grogi gak gimana kok, beneran deh, suwer, serius, demi deh. (note: dua kalimat terakhir itu dusta besar, yang riilnya? Balik aja makna kalimat-kalimat tersebut)
Lega? Yea. Gue nggak ditolak, syukur dunia akherat.
Sedikit cekcok di parkiran, dan gue pun menampar hasrat dominatriks gue dan membiarkan sisi matjho garang gue minggir nyemplung ke kali. Yeah.. gue dibonceng, matilah. Dibonceng cewe kurus tipis. Ngga apa-apa deh, seenggaknya bisa peluk :”>
Bersambung (juga).
Blam.
Coba bayangin, lo pernah di posisi yang begitu suram sampai lo merasa nggak akan pernah mau untuk berada di posisi itu lagi, dan sekarang, ketika lo berkemungkinan untuk menempatkan seseorang di posisi yang udah pernah lo rasa itu, apa coba rasanya? Gile, lutut serasa rontok, paru-paru kehilangan setengah daya kerjanya, dan kecenderungan tremor gue meningkat beberapa kali lipat, ngerokok aja berasa ngelukis getar. Yeah, konyol, padahal gue selalu bilang, jangan pernah prejudice, jangan nilai, jangan mengambil keputusan, jangan menjudge berdasarkan informasi yang parsial, itu goblok, gue bilang. Nyatanya? Seperti yang selalu gue juga biasa sampaikan, kalo udah nyangkut ke hati, teori itu sebatas buku, dan bukan praktikal. Jadilah.. konstruk gue hancur berantakan jam dua pagi.
Khawatir, berguling-guling di kasur super tipis, bangun lagi, misscall, sms, im, semuanya, semua cara gue lakukan untuk ngehubungin satu perempuan yang berada 700 kilometer jauhnya dari tempat duduk gue sekarang, Surabaya. Takut terjadi hal-hal yang nggak gue dan siapapun inginkan, man, lo harus pernah berada di tempat tersebut, di insiden tersebut sebagai tersangka merangkap korban untuk tau rasa khawatir yang gue alami tersebut. Patah arang, patah arah, gue frustasi, dan tanpa mikir panjang, gue memutuskan untuk cabut ke surabaya. Minus modal, minus persiapan, kecuali sepotong celana dalem dan kaos dalam adalah persiapan super oke, lain ceritanya.
Darimana gue mendaptkan duit dan prosesnya sampai ke kereta, gue skip ah, gak.. asik. Haum. Bukan nggak mau berbagi, hanya ngerasa nggak perlu diceritain juga sih.
Oke, setelah rentetan jumlah misscall yang entah berapa puluh, sms putus asa yang entah bunyinya apa, gue udah di kereta, suntuk, ngerokok nggak berenti-berenti, muka kusut, mulut masih bau mad-dragon yang kalau gue cium sendiri bisa bikin gue gak napsu makan. Masih misscall, masih sms sekali-sekali dan saking gobloknya, gue sampe ngeadd beberapa saudara my love saking frustasinya nggak bisa meraih dia sebatas kontak kecil.
Dan akhirnya.
Lebih nikmat daripada ejakulasi ketika jam sebelas siang, SEBELAS!—jam dua malam sampai jam sebelas siang, sembilan jam! Fyi, itu bukan waktu yang pendek untuk diabisin sambil kepala lo ketiban beban mental seberat Ani Yudhoyono—akhirnya, my love ngontak, dia nggak apa-apa, walaupun nggak sepenuhnya, terima kasih Tuhan. Nginformasiin kalau gue bisa tidur dirumahnya, jadi pacet selama beberapa hari disana, padahal, gue udah membayangkan malam-malam Surabaya yang pengap dipeluk nyamuk-nyamuk binal dan kecoak-kecoak jahanam yang siap merebut keperjakaan gue, entah itu di Mushola atau kelurahan terdekat. Sungkan iya, enggan ya enggak dong, 24 jam bisa ngeliat wajah my brown sugar kapanpun gue mau, tempting total itu sih. Akhirnya mengiyakan, walau harus dipaksa dengan ancaman-ancaman sadis terlebih dulu.
Dan?
Gue turun dari kereta, malam Surabaya yang gelap *yaeyalah*, gedung stasiun penuh ornamen jawi dan logat serta bahasa yang asing, gue kembali duduk di salah satu pelataran, ditemani temaram layar handphone dan letupan asap tebal dari sebatang kretek mengawang di sekitar gue. Tebal, tebal khawatir, tebal yang nggak sabar, tebal yang penasaran. Di satu sisi gue khawatir dengan keadannya, seperti apa dia dan gue berdoa sekeras-kerasnya supaya dia masih bisa melangkah di atas kedua kakinya dengan bugar. Di sisi lain, gue seneng setengah mati, cita-cita jangka pendek gue bisa tercapai lebih awal dari dugaan, bertemu perempuan idaman gue yang mengganjal mata dan hati beberapa minggu kebelakang, seneng? Pasti, girang? Apalagi.
Dan waktu berputar semakin lambat, apalagi sewaktu gue ngeliat dia berjalan dari pelataran parkiran ke arah stasiun. Pelan, serasa nyaris berhenti, seolah gue memberikan perintah sporadis kepada otak gue untuk mengabadikan momen ini sebaik-baiknya, 10 megapixel, 3mb persekon kualitas gambar supaya bisa gue inget dengan kualitas blue ray kapanpun gue mau. Dan jadilah.. “kamu yang baru aja masuk ke peron? Saya udah diluar.” :| yea, dia lupa bagaimana bentuk muka gue apalagi badan, jadilah dia ngeloyor tanpa memberikan sebatas-bahkan lirikan pada gue yang mungkin lagi ketutupan kabut karbondioksid.
Gue samperin, sapa, dan melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki, masih segar di ingatan, masih tetap cantik sebagaimana memori gue menyimpannya beberapa bulan lalu, masih dengan tubuh yang terlihat ringkih, namun ketenangan yang dijamin mutu kalau seorang body builder seberat 210 kilogram nggak akan bisa membuat dia bergidik barang setitik, pesona itu, wibawa itu, masih sama. Walaupun ingin mengarah kepada penilaian akan nostalgi keadaan sebelum sesudah, tapi tetep, gue nggak bisa menampik alasan apa yang membuat gue berada sekian ratus kilometer dari kosan gue yang dingin luar binasa itu. Makanya, gue cek tangannya yang mungil kecil itu, bersih, gue tanya-tanya berentet sedikit sarap soal “ngapain semalem? Ngapain? Blalalala.” Yang dijawab dengan cengiran seduktif yang membuat gue membuang muka menangkis serangan maut tersebut. “nanti aja.”
Know whud? Gue minder, ya gimana enggak? Kalau tampilan gue aja sebelas duabelas sama tukang tambal ban pinggir jalan yang diusir istrinya karena nggak bisa bikin ngebul dapur. Diperparah dengan muka kusut pangkat lecek dikali belum mandi dan berakar rambut masih gondrong nglewer-lewer turn off. Blah.. Kalau di post sebelumnya dia berusaha keliatan cantik pas jemput gue, bener banget, total, kalau gue nggak pake kacamata, bisa buta gue saking cantiknya *lebay nying*. Beauty and the Beast, kalimat padu yang diamini kami berdua :|
Awkward? Yea, siapa yang enggak kalau ketemu cewek cakep yang belum pernah liat lo secara langsung. Takut? Tentu, apa kabar kalau misalkan reaksi yang muncul adalah reaksi yang paling gue nggak harapkan dari seorang yang gue suka? Pernah dan rasanya ue ue ue. Grogi? Jelas. Dan gue mau koprol depan disaat tiba-tiba dia bilang, “kok gak digandeng?” dan jantung gue geser ke lambung, gue pun gandeng. Hampir sampai di parkiran, tiba-tiba barista lutju ini berbicara lagi setelah beberapa meter bisu, “kok aku nggak dipeluk?” pakek basa londo pulak, dan jantung gue kabur lewat leher, nggak kuat nerima arus deres adrenalin yang tiba-tiba nyembur kayak kuda ejakulasi. Oh oke, gue pun peluk, dan yea, rasanya biasa aja sih, nggak kenapa-napa, santai, rileks, cuek, pokoknya nggak kenapa-napa, titik. Beneran, gue nggak grogi gak gimana kok, beneran deh, suwer, serius, demi deh. (note: dua kalimat terakhir itu dusta besar, yang riilnya? Balik aja makna kalimat-kalimat tersebut)
Lega? Yea. Gue nggak ditolak, syukur dunia akherat.
Sedikit cekcok di parkiran, dan gue pun menampar hasrat dominatriks gue dan membiarkan sisi matjho garang gue minggir nyemplung ke kali. Yeah.. gue dibonceng, matilah. Dibonceng cewe kurus tipis. Ngga apa-apa deh, seenggaknya bisa peluk :”>
Bersambung (juga).
Saat Mata Bertemu Mata
- 7:55 AM
- Write comment
Ceritanya, tepat tanggal 4 Februari lalu, gw begitu hebohnya naik turun tangga, mikir dengan rambut berantakan, boxer keluar dari lipatan sabuk celana, kaos berlengan pendek dan tak berselubung bra, kacamata yang lepas-pake-lepas-pake, dan BB yang kalau kelaminnya betina pasti udah bunting anak kelima. Bukan karena semalam gw ga ingat apa-apa, lost track dan bangun dengan mulut penuh comet darah, Bukan juga karena sakit di bagian perut bawah dekat tulang pinggang yang kalo lagi kumat naudzubillah sakitnya. Semata-mata karena gw bingung bilang mama ato papa, soal kedatangan cowok berinisial CH yang tiba-tiba ngabarin udah di atas kereta Argo Wilis (kalo ga salah smsnya terkirim pukul 7.45an, sedangkan gw bacanya udah pukul 11.00). Mo bilang temen, salah—ga menjelaskan kenapa gw harus kelimpungan menghadapi kedatangannya. Mo bilang pacar, belum ada persetujuan dari kedua belah pihak kalau hubungan ini perlu dilabeli demikian atau nggak. Mo bilang apa dong?
Alhasil, mama yang punya six sense lebih peka dari kucing, apalagi soal bau-bauan—nyamperin dan nanya, “Opo tho kak? Munyer ae koyok obat lamuk.” (Apa sih kak? Muter aja kek obat nyamuk) dan karena pada dasarnya gw setransparan toples permen, bilanglah gw apa adanya pada sang bunda. “Gini ma, ada anak namanya Cubung. Dia lagi di Argo Wilis, sampe Surabaya kira-kira jam 7. Kalo misal dia tidur di sofa selama di sini, boleh ga?” Ya terang alis mama yang tipis itu goyang dombret dong.
Sumpah gw keknya salah merangkai kata. Harusnya sebelum mengajukan proposal, harus ada perkenalan dulu, pembukaan dan salam manja, terus pelan-pelan ngelunjak minta-minta-maksa. Ga langsung tembak mati di tempat kek gitu. Dan lucunya, sakit gw yang kemarin rasanya ga tertahankan itu hilang diganti mules di ujung perut yang tiba-tiba datang lantaran kepikiran mo alasan apalagi buat bawa cowok ke rumah. Masalahnya, sejak hancurnya pertunangan gw dengan Nash tiga tahun lalu, gw sekalipun ga pernah bawa cowok ke rumah lagi—dengan alasan apapun. Mama, yang notabene merasa perlu ngenalin ke gw cowok-cowok pilihannya, melihat fenomena ini sebagai sebuah keajaiban. Ajaib, Nanda mau bawa cowoknya dong. Selama ini diem-dieman doang, malah lebih seringnya gw yang ga pernah pulang rumah dan nginep di tempat Azmi pas week end.
Mama ga membuka pertanyaan dengan bertanya, “Siapa CH?” tapi malah “Dateng berdua? Bertiga? Kamarmu bersihin lho, kak.”
Duar!
Yang jelas-jelas pasang muka ngempet boker malah Dinda. Dan segera setelah mama bilang gitu, Dinda nimpalin. “Cowok? Ga. Tidur luar. Enak aja masuk kamar.” Bahkan selanjutnya, adik gw paling overprotektif itu menunjukkan tampang tergaharnya waktu dia tahu nama Cubung Hanito send request follow ke twitternya. D’oh, iya gw tahu betul gimana hancurnya perasaan Dinda waktu gw mutusin nenggak 35.000 mg Dyfenhidramine tiga tahun lalu. Dan dengan segala cara, dia berusaha lindungin gw dari hal-hal yang berpotensi membuat gw nenggak obat itu lagi, termasuk soal ga bisa tidur dan pacaran.
Dan baru kali ini gw memohon sama Dinda untuk seseorang yang bukan sapa-sapa. Hebat kan? Gw keluarin lagi bakat-bakat manipulator yang dari bayi udah melekat di nama belakang gw, dengan satu dan tiga frase yang gw puntir maknanya demi sesuatu yang menguntungkan, akhirnya Dinda nyerah dan bolehin. Iklas ga iklas yang penting “Iya.” Walau belakangnya ada tambahan, “terserah.”
Dan, dengan setengah teler gw berdandan, berharap cukup cantik biar pas ketemu sama Cubung, dia ga ilfil, ga muntah, apalagi tiba-tiba kayang pulang ke Bandung. Tapi jelas dengan keadaan ga normal itu, gw mengalami banyak disorientasi mengemudi. Ga ada bantuan dari siapapun, dan coret nama Dinda sebagai pendukung lovelife gw kali ini. Dia sudah kapok dan nyesel jadi pendukung Nash dulu though. Dan setelah yakin gw telat hamper 15 menit dari jadwal keretanya merapat gegara ga berani ngebut malem-malem, akhirnya tibalah di Stasiun Gubeng dengan sok cantik. Ga lupa pake kacamata, karena rabun ayam gw mulai masuk taraf keterlaluan. Apalagi ditambah kenyataan kalo gw sama sekali blur dengan cirri fisik dan wajah Cubung. Dan setelah masuk peron, heck, gw deg-degan. Kopi darat bok, ga adilnya—dia tahu gw dang w clueless gimana dia. Akhirnya setelah perjuangan cengok dan kesasar, akhirnya ketemu sesosok gede, jaket hitem rambut berantakan, genderuwo, yaa awalnya belum terlintas kata “cakep” di kepala gw karena mata jiper, rabun ayam, chicken blindness. Begitu nemu pencahayaan yang lumayan, gw melabeli fisik dia dengan sebutan, “Not bad.”
Awkward banget. Bukannya dipeluk atau digandeng, dia malah tarik dua tangan gw dan ngelihat bagian pergelangan. Terus liat muka gw, baru turunin tangan gw sembari bilang. “Baguslah ga kenapa-kenapa. Aku kesini cuma mastiin kamu baik-baik aja.” Dan otak gw saat itu, blank space, berusaha nyari padanan kalimat dan link yang menghubungkan pergelangan tangan dengan keadaan gw yang baik atau nggaknya aja gw ga yakin. Oh, so this boy thought I was slitting my wrist and suicide… for what? Knowing that he was back with his ex? Okay. That’s cute!
Dan kami berjalan beriringan, dengan tidak terjadi apapun yang membuat hati gw terlonjak. Lempeng, diem, dan gw berubah jadi bebek mentok yang ngembik-ngembik bawel. I hate awkwardness, walo mungkin Cubung ga suka liat gw, tapi gw suka liat dia. Gw seneng ketemu dia, apapun alasannya dan gimanapun keadaannya, dan sayangnya gw saat itu terlalu takut bilang itu. Takut kecewa dengan kata-kata, “Gue biasa aja sih Nan.” Sampai di satu ujung parkiran, gw minta peluk. Iya, kurang kerjaan apa coba, dimana harga diri gw? Di sol sepatu, gw injek-injek ga berbekas, dan gw ga peduli. Rasa sayang, seneng, kaget, semuanya ga pingin gw tutupin dengan kemunafikan dan sok jual mahal. Karena bagi gw, cinta itu ditunjukkan dengan bangga, dan diperjuangkan.
To be continued.
Alhasil, mama yang punya six sense lebih peka dari kucing, apalagi soal bau-bauan—nyamperin dan nanya, “Opo tho kak? Munyer ae koyok obat lamuk.” (Apa sih kak? Muter aja kek obat nyamuk) dan karena pada dasarnya gw setransparan toples permen, bilanglah gw apa adanya pada sang bunda. “Gini ma, ada anak namanya Cubung. Dia lagi di Argo Wilis, sampe Surabaya kira-kira jam 7. Kalo misal dia tidur di sofa selama di sini, boleh ga?” Ya terang alis mama yang tipis itu goyang dombret dong.
Sumpah gw keknya salah merangkai kata. Harusnya sebelum mengajukan proposal, harus ada perkenalan dulu, pembukaan dan salam manja, terus pelan-pelan ngelunjak minta-minta-maksa. Ga langsung tembak mati di tempat kek gitu. Dan lucunya, sakit gw yang kemarin rasanya ga tertahankan itu hilang diganti mules di ujung perut yang tiba-tiba datang lantaran kepikiran mo alasan apalagi buat bawa cowok ke rumah. Masalahnya, sejak hancurnya pertunangan gw dengan Nash tiga tahun lalu, gw sekalipun ga pernah bawa cowok ke rumah lagi—dengan alasan apapun. Mama, yang notabene merasa perlu ngenalin ke gw cowok-cowok pilihannya, melihat fenomena ini sebagai sebuah keajaiban. Ajaib, Nanda mau bawa cowoknya dong. Selama ini diem-dieman doang, malah lebih seringnya gw yang ga pernah pulang rumah dan nginep di tempat Azmi pas week end.
Mama ga membuka pertanyaan dengan bertanya, “Siapa CH?” tapi malah “Dateng berdua? Bertiga? Kamarmu bersihin lho, kak.”
Duar!
Yang jelas-jelas pasang muka ngempet boker malah Dinda. Dan segera setelah mama bilang gitu, Dinda nimpalin. “Cowok? Ga. Tidur luar. Enak aja masuk kamar.” Bahkan selanjutnya, adik gw paling overprotektif itu menunjukkan tampang tergaharnya waktu dia tahu nama Cubung Hanito send request follow ke twitternya. D’oh, iya gw tahu betul gimana hancurnya perasaan Dinda waktu gw mutusin nenggak 35.000 mg Dyfenhidramine tiga tahun lalu. Dan dengan segala cara, dia berusaha lindungin gw dari hal-hal yang berpotensi membuat gw nenggak obat itu lagi, termasuk soal ga bisa tidur dan pacaran.
Dan baru kali ini gw memohon sama Dinda untuk seseorang yang bukan sapa-sapa. Hebat kan? Gw keluarin lagi bakat-bakat manipulator yang dari bayi udah melekat di nama belakang gw, dengan satu dan tiga frase yang gw puntir maknanya demi sesuatu yang menguntungkan, akhirnya Dinda nyerah dan bolehin. Iklas ga iklas yang penting “Iya.” Walau belakangnya ada tambahan, “terserah.”
Dan, dengan setengah teler gw berdandan, berharap cukup cantik biar pas ketemu sama Cubung, dia ga ilfil, ga muntah, apalagi tiba-tiba kayang pulang ke Bandung. Tapi jelas dengan keadaan ga normal itu, gw mengalami banyak disorientasi mengemudi. Ga ada bantuan dari siapapun, dan coret nama Dinda sebagai pendukung lovelife gw kali ini. Dia sudah kapok dan nyesel jadi pendukung Nash dulu though. Dan setelah yakin gw telat hamper 15 menit dari jadwal keretanya merapat gegara ga berani ngebut malem-malem, akhirnya tibalah di Stasiun Gubeng dengan sok cantik. Ga lupa pake kacamata, karena rabun ayam gw mulai masuk taraf keterlaluan. Apalagi ditambah kenyataan kalo gw sama sekali blur dengan cirri fisik dan wajah Cubung. Dan setelah masuk peron, heck, gw deg-degan. Kopi darat bok, ga adilnya—dia tahu gw dang w clueless gimana dia. Akhirnya setelah perjuangan cengok dan kesasar, akhirnya ketemu sesosok gede, jaket hitem rambut berantakan, genderuwo, yaa awalnya belum terlintas kata “cakep” di kepala gw karena mata jiper, rabun ayam, chicken blindness. Begitu nemu pencahayaan yang lumayan, gw melabeli fisik dia dengan sebutan, “Not bad.”
Awkward banget. Bukannya dipeluk atau digandeng, dia malah tarik dua tangan gw dan ngelihat bagian pergelangan. Terus liat muka gw, baru turunin tangan gw sembari bilang. “Baguslah ga kenapa-kenapa. Aku kesini cuma mastiin kamu baik-baik aja.” Dan otak gw saat itu, blank space, berusaha nyari padanan kalimat dan link yang menghubungkan pergelangan tangan dengan keadaan gw yang baik atau nggaknya aja gw ga yakin. Oh, so this boy thought I was slitting my wrist and suicide… for what? Knowing that he was back with his ex? Okay. That’s cute!
Dan kami berjalan beriringan, dengan tidak terjadi apapun yang membuat hati gw terlonjak. Lempeng, diem, dan gw berubah jadi bebek mentok yang ngembik-ngembik bawel. I hate awkwardness, walo mungkin Cubung ga suka liat gw, tapi gw suka liat dia. Gw seneng ketemu dia, apapun alasannya dan gimanapun keadaannya, dan sayangnya gw saat itu terlalu takut bilang itu. Takut kecewa dengan kata-kata, “Gue biasa aja sih Nan.” Sampai di satu ujung parkiran, gw minta peluk. Iya, kurang kerjaan apa coba, dimana harga diri gw? Di sol sepatu, gw injek-injek ga berbekas, dan gw ga peduli. Rasa sayang, seneng, kaget, semuanya ga pingin gw tutupin dengan kemunafikan dan sok jual mahal. Karena bagi gw, cinta itu ditunjukkan dengan bangga, dan diperjuangkan.
To be continued.
Blah..
- 12:58 AM
- Write comment
This is Pitiful Speaking
Kepala gue pusing. Kebanyakan makan kali ya?
Apa yang terlintas di kepala gue kalau melihat dua posting dibawah? Banyak, nggak terdeskripsikan kalau-kalau disuruh menjelaskan, walaupun syukurnya kebanyakan adalah emosi positif. Gue terharu karena apa yang gue lakuin udah bisa membuat my love tergerak untuk melakukan perubahan walau sedikit, gue terbahak ketika entah kenapa nama adik gue tercinta itu di mention berapa kali di dua post tersebut, dan gue manyun ketika gue berpikiran, “apa gue pantes?”
Mengesampingkan hasrat dominatrix gue yang mengumbar kemana-mana, rasa sayang yang gue berikan dengan kadar yang bisa bikin sesak paru-paru, dan rasa cinta yang gue terima dari my lovely javanesse sugar yang saking manisnya bisa membuat kopi pait gue berasa caramel machiatto. Tetep, salah satu sifat dasar gue yang paling bikin diri gue sendiri enek bin mual, pesimis dan pasrah. Yeah. Sejauh apapun gue melangkah, yang namanya bayangan jelek selalu mengawang di sekitar pikiran gue, berbentuk kabut yang bahkan saking tebalnya sampai menutupi mata gue sampai jarak pandang tertentu. Pantes gitu gue jalan sama dia? Dia cantik, gue bersisik, dia stabil gue labil, dia matang gue masih nyangkut di pohon. Dan kalau mau dipanjangin, gue bisa nulis empat paragraf padu cuma untuk ngebanding-bandingin gue dalam tata bahasa kancut sama dia, bahkan mantan-mantannya. Such a waste.
Hal ini juga yang membuat gue beberapa hari lalu, disaat ada gath IH di Bandung, bertanya pertanyaan spontan plus konyol kepada salah seorang yang dateng. Ayu, tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling, gue nanya begini. “Yu, kalau misalkan lo punya pacar berondong, masih kuliah, sementara lo udah kerja, mapan, dan si berondong ini minder sama si pacar, secara dia masih kuliah dan masih ngelintah sama orang tuanya, kira-kira apa yang bakalan lo lakuin untuk ngebuat dia ngerasa lebih baik?” Oke, konyol. Dan tentunya dijawab dengan cukup baik.
Nggak usah mikirin kalau misalkan orang lain nggak mikirin, apalagi kalau orangtuanya nggak mempermasalahkan, nggak ada yang harus diminderin. Jadikan mindernya sebuah pecutan, katanya, kalau sekarang gue nganggepnya masih dibawah dia soal pendapatan and blah blah, maka suatu saat gue harus nyamain dan bahkan melebihi, motivasi? He eh. Terus, toh perbedaan yang sekarang gue dan dia alami ini disebabkan karena kebetulan my love lahir 5 tahun lebih dulu, bukan salah gue juga kalau masih belum bisa berdikari sekarang :p *pengalesan*. Yea, tau sih, gue ngerti dan paham, mungkin gue cuma pengen nyari pembenaran,mungkin gue cuma pengen ngobrol di sela-sela obrolan yang semakin beranjak basi dan gue terdiam bagai patung ganesha? Dunno.
I love her, it’s a dot.
My cutest barista once told me, kenapa sih, bisa sebegitu sayangnya sama gue? Yang dijawab dengan “Got the best boyfriend ever.” Yea, gue seneng, nggak bisa berhenti nyengir, untung sendirian, kalau rame udah dirante dan digiring ke yayasan mental terdekat kali. Tetep tapi.. suramnya, nguk.
Kepala gue pusing. Kebanyakan makan kali ya?
Apa yang terlintas di kepala gue kalau melihat dua posting dibawah? Banyak, nggak terdeskripsikan kalau-kalau disuruh menjelaskan, walaupun syukurnya kebanyakan adalah emosi positif. Gue terharu karena apa yang gue lakuin udah bisa membuat my love tergerak untuk melakukan perubahan walau sedikit, gue terbahak ketika entah kenapa nama adik gue tercinta itu di mention berapa kali di dua post tersebut, dan gue manyun ketika gue berpikiran, “apa gue pantes?”
Mengesampingkan hasrat dominatrix gue yang mengumbar kemana-mana, rasa sayang yang gue berikan dengan kadar yang bisa bikin sesak paru-paru, dan rasa cinta yang gue terima dari my lovely javanesse sugar yang saking manisnya bisa membuat kopi pait gue berasa caramel machiatto. Tetep, salah satu sifat dasar gue yang paling bikin diri gue sendiri enek bin mual, pesimis dan pasrah. Yeah. Sejauh apapun gue melangkah, yang namanya bayangan jelek selalu mengawang di sekitar pikiran gue, berbentuk kabut yang bahkan saking tebalnya sampai menutupi mata gue sampai jarak pandang tertentu. Pantes gitu gue jalan sama dia? Dia cantik, gue bersisik, dia stabil gue labil, dia matang gue masih nyangkut di pohon. Dan kalau mau dipanjangin, gue bisa nulis empat paragraf padu cuma untuk ngebanding-bandingin gue dalam tata bahasa kancut sama dia, bahkan mantan-mantannya. Such a waste.
Hal ini juga yang membuat gue beberapa hari lalu, disaat ada gath IH di Bandung, bertanya pertanyaan spontan plus konyol kepada salah seorang yang dateng. Ayu, tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling, gue nanya begini. “Yu, kalau misalkan lo punya pacar berondong, masih kuliah, sementara lo udah kerja, mapan, dan si berondong ini minder sama si pacar, secara dia masih kuliah dan masih ngelintah sama orang tuanya, kira-kira apa yang bakalan lo lakuin untuk ngebuat dia ngerasa lebih baik?” Oke, konyol. Dan tentunya dijawab dengan cukup baik.
Nggak usah mikirin kalau misalkan orang lain nggak mikirin, apalagi kalau orangtuanya nggak mempermasalahkan, nggak ada yang harus diminderin. Jadikan mindernya sebuah pecutan, katanya, kalau sekarang gue nganggepnya masih dibawah dia soal pendapatan and blah blah, maka suatu saat gue harus nyamain dan bahkan melebihi, motivasi? He eh. Terus, toh perbedaan yang sekarang gue dan dia alami ini disebabkan karena kebetulan my love lahir 5 tahun lebih dulu, bukan salah gue juga kalau masih belum bisa berdikari sekarang :p *pengalesan*. Yea, tau sih, gue ngerti dan paham, mungkin gue cuma pengen nyari pembenaran,mungkin gue cuma pengen ngobrol di sela-sela obrolan yang semakin beranjak basi dan gue terdiam bagai patung ganesha? Dunno.
I love her, it’s a dot.
My cutest barista once told me, kenapa sih, bisa sebegitu sayangnya sama gue? Yang dijawab dengan “Got the best boyfriend ever.” Yea, gue seneng, nggak bisa berhenti nyengir, untung sendirian, kalau rame udah dirante dan digiring ke yayasan mental terdekat kali. Tetep tapi.. suramnya, nguk.
Love Letter
- 6:17 AM
- Write comment
Love Letter by Gackt
Romanji
Yasashii egao de boku ni hohoemu,
Kimi ga, ima mo, kawarazu ni soba ni iru
Me wo tojireba hora ikutsumo no kisetsu ga
Bokura wo sotto tsutsumikonde yuku yo
Nagai tabiji no hate ni nani ga aru no ka
Dare mo wakaranai keredo
Fuan na yoru wa mou nido to otozurenai kara
Eien wo aruite yukeru
Korekara mo zutto futari de
Kono mune ni tsuyoku dakishimeta
Omoi wa kawaranai, tatta hitotsu dake no
“Aishiteru”
Suyokaze ni nabiku chiisana hana no you na
Kimi ni hajimete deatta hi wa tooku
Mada osanasugite kizutzukeau hibi mo
Atta keredo ima de waraiaeru omoide
Chikauiau yakusoku wo wasurenaide
Dare yori mo taisetsu dakara
Egaita yume wo sukoshi zutsu kanaete yukou yo
Eien wo aruite yukeru
Korekara mo zutto futari de
Kono mune ni tsuyoku dakishimeta
Omoi wa kawaranai, tatta hitotsu dake no
“Aishiteru”
English
Even now, you’re still by my side
Smiling at me with that sweet smile
When I close my eyes, see, a myriad of seasons
Quietly envelop me
Nobody knows what’s at the end
Of this long journey
But these uncertain nights will never come again
We can keep walking forever
Smiling at me with that sweet smile
When I close my eyes, see, a myriad of seasons
Quietly envelop me
Nobody knows what’s at the end
Of this long journey
But these uncertain nights will never come again
We can keep walking forever
Together, now and forever
This love I clutch close to my heart
Will never change, this one unique
“I love you”
The day I met you, like a little flower dancing in the win, is far away
There were days when we hurt each other
This love I clutch close to my heart
Will never change, this one unique
“I love you”
The day I met you, like a little flower dancing in the win, is far away
There were days when we hurt each other
Because we were still too young
But now they’re memories we can laugh at together
Don’t forget this promise we’re making
Because you’re more important to me than anyone else
I want to make the dreams you told me about come true, little by little
We can keep walking forever
Together, now and forever
This love I clutch close to my heart
Will never change, this one unique
“I love you”
But now they’re memories we can laugh at together
Don’t forget this promise we’re making
Because you’re more important to me than anyone else
I want to make the dreams you told me about come true, little by little
We can keep walking forever
Together, now and forever
This love I clutch close to my heart
Will never change, this one unique
“I love you”
This is Clover speaking,
Klise, sangat. Betapa lagu ini nyayat kelopak mata gw dan menumpahkan segala percah-percah kemurnian ego. Air mata, embun paling murni, ekskresi paling mulia, dan jelas… kerapuhan hati gw terbuka, telanjang menguar di udara. Gw nangis sejadi-jadinya gara-gara nih lagu. Cemen, cengeng, haum, gapapa yang penting cute #loh. Menit selanjutnya, gw sisir rambut, pake gaun putih yang biasanya baru keluar kalo ada sodara ato temen nikahan, mematut diri di depan kaca, pose senyum, ketawa, malu-malu, deg-degan, kek orang gila. Dan gw lihat sebelah kanan, berharap ada sesosok pria berjas, eh, bertuxedo. Bututnya, otak gw membayangkan Gackt ada di sana alih-alih my lovely grizzly bear (maaf ya sayang, kesalahan pada daya kreatif otak kanan), gamit tangan gw di lengannya, dan yah… bunyi lonceng gereja alih-alih adzan Maghrib (sujud tobat deh gw).
Ya namanya juga berandai, boleh dong yang paling keren dan sedikit murtad.
Terus, yah, sakramen pernikahan. Apakah anda, Camui Gakuto, menerima Imaniar Permana sepenuh hati dan mencintainya hingga ajal menjemput. Gackt bilang iya, sambil diulang lengkap (kalo di Lie To Me sih, itu tanda-tanda manipulator. Sebodo) , dan gw dapat pertanyaan yang sama dengan subjek yang berbeda, yang dengan lugas plus penuh nafsu gw jawab “Yes I do”
Lalu confetti bertebaran. Prok Prok Prok! (bunyinya kek dilemparin se-keranjangnya sekaligus)
Yap, betapa klisenya mimpi basah gw, gentlemen, sayang, Haniku. Ga sebanding dengan mimpi basah liarmu. Tapi inti dari sekelumit imajinasi itu bener-bener besar, dan kamu bisa lihat betapa besarnya mimpi saya untuk dipersunting Gackt untuk merasakan syahdunya diikat dalam kehalalan #leh. Tapi gw menulis semua ini bukan dalam itikad buruk, apalagi minta dipersunting dalam waktu dekat, itu jelas out of option. Gw cuma ingin suatu saat imajinasi ini bener-bener kenyataan, karena faktanya, gw suka menyanyikan lagu ini sembari guling-guling di kasur nungguin yayang grizzly balik ngepoke. Mungkin alam bawah sadar gw lebih cepat melangkah daripada perasaan, tapi yang jelas gw mencambuk diri sendiri biar ga begitu larut dalam euphoria cinta buta yang cuma berkisar persenggamaan. Karena so far, gw merasa begitu tololnya menghabiskan waktu kuliah dengan pacaran ga jelas macam itu.
Terus bicara soal keseriusan sekarang.
Serius, gw mules. Mules membayangkan betapa ternyata dalam dua minggu ini gw dan Cubung sudah begitu syahdunya merenda harapan sampe bulan April kita jadi kakek nenek. Gimana Cubung ngerasa perlu buat memanjain anak cowoknya, superheronya, pewaris Little John-nya, dan betapa berkali-kali dia perlu ngingetin kalo gw yang harus urus tuh anak cewek kami di kemudian hari. Kalo inget itu, gw dongkol sendiri, dan ga sadar, tangan gw mempraktikkan adegan ‘menarik Little John’nya dengan sekuat tenaga. Haum, sensor deh adegan selanjutnya.
Secara fisik, gw masih terlalu muda untuk jadi ibunda jagoan-jagoan dia. Secara yuridis, gw pun masih menyandang status belum menikah di KTP dan Kartu Keluarga, secara imajiner-pun, gw masih belum sanggup membayangkan Cubung menamatkan ijab qobul dengan keringat bercucur. Kami masih semuda itu, dan otak gw (walau secara fakta sudah berumur 25) masih bekerja dengan Intel Pentium anak kuliah. Belum dewasa, tapi belajar dewasa, berusaha sekuat tenaga—dan yah, walau lebih seringnya falling miserably ke pelukan Cubung, bermanja. Tapi apa salah kalau cita-cita gw sudah sampe sana? I mean, sampe kami melakukan hubungan seksual yang sebenarnya, sampe bagaimana gw membawa satu nyawa di dalam rahim, sampe kami berdua dipanggil papa-mama, sampe dipanggil kakek-nenek? (dih, muda-muda mikirin veteran) Ga kan? Ga ada yang salah, bahkan ga bisa disalahkan dalam bentuk apapun. Ini cita-cita, bukan soal UAS, apalagi skripshit.
Hmm,
Kan, ngoceh apa aja sih *baca lagi*. D’oh!
Halaman ketiga di MS Words nih, mo sampe berapa halaman nih?
So Hani, get my point? Itu baru soal keseriusan. Belum point-point kenapa gw jatuh cinta sama Cubung. Belum ditambah kenapa point-point itu bisa muncul. Belum lagi kenapa gw perlu menuliskan point-point itu di sini. Belum apalagi, hmm, belum masturbasi ya? *lirik Cubung dengan tatapan pingin ngakak seantero jagat raya dunia persilatan* Lucu sumpah, ini perlu gw tulis di sini, bukan dengan itikad menjelek-jelekkan apalagi menghina dina laki-laki yang gw cintai. Cuma pengingat manis betapa hari ini gw kenyang dibuat tertawa oleh kepolosannya. Pingin gigit deh, sampe putus.
Krauk!
Download :
Haumm bingung judul
- 1:45 AM
- Write comment
This is Clover speaking,
Sampai detik ini, gw belum selesai menghabiskan tandon air mata lantaran lagu romantic Gackt yang judulnya Love Letter. Duh, setan cium kek gw keknya juga punya sisi romantisme yang genuine, I mean—yah, sometimes I fake everything about love, not mention fake orgasms. Semua hal yang rasanya bisa dengan gampang didapat, laki-laki pulang dan pergi, datang dan kembali, hubungan fisik yang ga berlabel, ato lebih parah lagi Role Chat sex yang melibatkan karakter (dan seringnya terlalu malu untuk disebut pelesiran seksualitas lewat ym). Indeed, gw cewek parah, rusak moral, sangat tidak mencerminkan gadis yang sakinah, yang berjilbab dan kemana-mana bawa Juz Amma. Gw berjilbab, walau dalam hati masih dalam keadaan terpaksa dan aji mumpung. Cubung yang paling tahu apa yang bikin gw harus mengenakan perlambang kesahihan perempuan dalam Islam itu, dan sumpah gw ga pingin bawa-bawa agama kalo bisa, untuk menjustify keburukan-keburukan gw.
Tapi beberapa hari ini berbeda, or tepatnya, sejak Cubung datang ke Surabaya.
Awalnya gw berpolemik dengan jilbab secara hati, memandang kain dan asesoris itu cuma tuntutan keluarga, worse, gw mikir pake jilbab demi menghindari image-image buruk yang mungkin secara ga langsung dicantolin di depan jidat gw. Dan yang lebih parah lagi, gw pake jilbab cuma buat alibi ngehindarin perlakukan-perlakuan ga senonoh (yang sayangnya, secara yuridis di banyak pengajian, cewek disuruh pake jilbab dengan dalih-dalih itu). Setengah hati dan empot-empotan, gw make jilbab, jadilah aksi pasang-copot-pasang-copot kek kancut. Ditambah lagi, pakaian-pakaian gw juga ga semuanya nutup aurat (apa maunya coba).
Dan waktu gw secara halus diingetin yayang, lovely hubby, my grizzly bear, kalo lengan harus ketutup sampe pergelangan tangan dan pake jilbab yang bener, gw jadi ketagihan pake jilbab. Dan entah kenapa gw ngeliat aura gw bueeddaaa banget. Sering senyum-senyum liat kaca, koleksi segala pernik asesoris, dan yah.. jadi sering cerewet kalo keabisan jilbab yang cocok sama baju di lemari. Mama gw bingung bin takjub sama perubahan itu, dan yang paling ga bisa gw lukiskan, rona kebanggaan Dinda pas liat gw, kini muncul lagi. (aduh gw nangis)
Mungkin klise buat orang lain, tapi ini moment yang glorious buat gw. Dari berapa puluh kali gw pacaran, baru kali ini gw bisa merasakan indahnya dicintai, nikmatnya mencintai, dan kami berdua sama-sama saling bersaing jadi yang paling baik. Well, serius. Gw kadang ngeliat Cubung ga selalu sebagai cowok gw, lebih seringnya malah sebagai saingan. Kami sama-sama ga mau berada di bawah #loh, dalam artian kami ga mau jadi yang submissive, menerima apa adanya dan adanya apa. Kami masing-masing berlomba, nunjukin kalo segala keburukan-keburukan yang dulu kami bikin (dan jadi kebiasaan) lama-lama kehapus, walau ga semua sekaligus. Lucunya lagi, ga ada di antara kami yang merasa perlu memaksa dan terpaksa untuk melakukan itu. Iya ga sayang?
Ya mungkin emang masih terlalu dini, masih jinak-jinak merpati, sedep-sedep e kembang mayang, umur pacaran kami masih setua taneman cabe di taman depan. Itulah kenapa segalanya masih indah-indahnya pemandangan, sayang, cinta, saling menghormati, saling toleransi. Mungkin sejalan waktu, keburukan-keburukan personal dan watak culas nan suram kami mulai naik ke permukaan—dan ga, gw ga takut soal itu. Gw siap nerima segala hal yg buruk di diri Cubung, sampe tahap dia ngaku gay sekalipun.
Well, rasanya gw perlu menuliskan how much I love him lain kali. So, kalo gw kehilangan arah, tersesat langkah, dan berpikir berpisah jadi solusi terbaik, gw bisa baca semua list kenapa gw cinta Cubung, dan berharap segala perasaan sayang dan kasih itu terpanggil lagi. Tiba-tiba surem—nyet, ini gara-gara mendung. I hate cold.
Janjimu Hampaa~
- 12:38 PM
- Write comment
This is Pitiful Speaking.
…..
:|
*hela nafas*
:|
*pasrah*
Jam tiga pagi, ditinggal tidur sama my love. Harusnya sih ngambek ceritanya, tapi secara umur saya udah terlalu berkumis untuk bisa meluapkan emosi-emosi anak esempe macem itu, jadi let it be lah *cih*. Kidding, tidur itu fitrah paling luar biasanya dalam bentuk rekreasi yang bisa diberikan oleh Tuhan kepada umatnya, berkah paling konsisten yang bisa lo nikmati setiap hari, dan sampah paling kompeten kalau udah menyangkut soal deadline kerjaan. Jadi gue nggak punya kapabilitias dong untuk ngelarang, atau bahkan marah ketika seseorang sedang memetik bunga tidurnya yang paling cantik? Gue juga ogah kalau dibangunin tidur hanya gara-gara ada kecoak nemplok di muka. Itu sih perang.
Ah, apa sih. Gue mau ngomongin soal janji nih. Janji is penting, kata sohib sehati setoeboe gue yang satu itu. Kalau kata yakin nggak sempat terlintas di otak ketika merumuskan sebuah janji, ada baiknya kalau-kalau batalkan aja lidah bergoyang dan bibir berjoget, hasilnya fatal, bukan hanya yang dijanjiin yang luka, tapi diri sendiri juga bakalan ketimpa rasa bersalah seberat tuyul obesitas. Seenggaknya itu dia, kalau gue? Gue menganggap janji itu sebelas duabelas sama yang namanya kutukan, in a good way, tentu. Maka kampret lah nature gue yang bergolongan darah A *nyalahin*, ada kecenderungan untuk sempurna, ada kecenderungan untuk tanpa salah, ada kecenderungan untuk selalu lurus walaupun Little John belok ke kanan. Sekalinya gue berjanji, maka nggak ada alasan buat gue untuk nggak menepati janji itu, selama syarat dan ketentuan masih berlaku.
Takut, bukan berarti nggak mau.
Elo elo kira gue nggak takut nonton horror sendirian di kamar kosan gue yang gelap gulita? Takut kalik, nggak jarang gue gigit bantal atau selimut kalau lagi nonton, kadang malah sampe nutup muka atau kuping. Huahaha, kontradiktif sama apa yang gue sampein selama ini, baik di twit ataupun langsung? Gue takut, tapi gue nggak bisa nahan kenikmatan yang nggak bisa gue dapetin dari film-film genre lain, apa itu? Boobs lebih banyak di film horor, nggak ding, emosi lebih terlibat kalau nonton genre ini, seenggaknya itu gue. Emosi takut sih.
Gue mungkin nggak bisa janji, apalagi sama madu paling manis yang satu itu, tapi gue selalu mengusahakan yang terbaik, sebaik yang gue bisa dan sekeren yang gue mampu. Dunno, mungkin gue udah terlalu banyak bicara tai banteng sampai-sampai gue ngerasa nggak pantas untuk memberikan satu-dua janji, mungkin juga karena gue terlalu takut sama masa lalu my love, nggak pengen dia inget hal-hal jelek di masa lampau, mungkin juga karena gue emang brengsek? Uu.. heavhey. Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue bukan nggak mikirin masa depan, untuk apa pacaran kalau tujuannya hanya hari ini dan bukannya memikirkan gimana gue hidup nantinya? Sama siapa? Nikah dimana? Punya anak berapa? Oke, umur gue 20, 20 labil yang kecolek dikit bisa rontok fondasi prinsipnya. Beberapa orang mungkin gue bicara terlalu jauh, beberapa juga mungkin akan berkata kalau gue ini terlalu santai, tapi toh ini gue,kekar dan ganteng *ngek*, hidup apa adanya tapi juga berusaha untuk sampai ke tahap ada apanya, kenapa? Gue nggak mau ngasih makan anak gue pake daon singkong.
Doh, tiap nulis model begini pasti ada saatnya mentok deh.
I love you. Kalau ada satu janji yang bisa gue berikan sekarang-sekarang ini adalah. I wanna be with you, titik. Koma, dan gue mau ketemu my love lebih sering dari perencanaan awal di tahun ini.
…..
:|
*hela nafas*
:|
*pasrah*
Jam tiga pagi, ditinggal tidur sama my love. Harusnya sih ngambek ceritanya, tapi secara umur saya udah terlalu berkumis untuk bisa meluapkan emosi-emosi anak esempe macem itu, jadi let it be lah *cih*. Kidding, tidur itu fitrah paling luar biasanya dalam bentuk rekreasi yang bisa diberikan oleh Tuhan kepada umatnya, berkah paling konsisten yang bisa lo nikmati setiap hari, dan sampah paling kompeten kalau udah menyangkut soal deadline kerjaan. Jadi gue nggak punya kapabilitias dong untuk ngelarang, atau bahkan marah ketika seseorang sedang memetik bunga tidurnya yang paling cantik? Gue juga ogah kalau dibangunin tidur hanya gara-gara ada kecoak nemplok di muka. Itu sih perang.
Ah, apa sih. Gue mau ngomongin soal janji nih. Janji is penting, kata sohib sehati setoeboe gue yang satu itu. Kalau kata yakin nggak sempat terlintas di otak ketika merumuskan sebuah janji, ada baiknya kalau-kalau batalkan aja lidah bergoyang dan bibir berjoget, hasilnya fatal, bukan hanya yang dijanjiin yang luka, tapi diri sendiri juga bakalan ketimpa rasa bersalah seberat tuyul obesitas. Seenggaknya itu dia, kalau gue? Gue menganggap janji itu sebelas duabelas sama yang namanya kutukan, in a good way, tentu. Maka kampret lah nature gue yang bergolongan darah A *nyalahin*, ada kecenderungan untuk sempurna, ada kecenderungan untuk tanpa salah, ada kecenderungan untuk selalu lurus walaupun Little John belok ke kanan. Sekalinya gue berjanji, maka nggak ada alasan buat gue untuk nggak menepati janji itu, selama syarat dan ketentuan masih berlaku.
Takut, bukan berarti nggak mau.
Elo elo kira gue nggak takut nonton horror sendirian di kamar kosan gue yang gelap gulita? Takut kalik, nggak jarang gue gigit bantal atau selimut kalau lagi nonton, kadang malah sampe nutup muka atau kuping. Huahaha, kontradiktif sama apa yang gue sampein selama ini, baik di twit ataupun langsung? Gue takut, tapi gue nggak bisa nahan kenikmatan yang nggak bisa gue dapetin dari film-film genre lain, apa itu? Boobs lebih banyak di film horor, nggak ding, emosi lebih terlibat kalau nonton genre ini, seenggaknya itu gue. Emosi takut sih.
Gue mungkin nggak bisa janji, apalagi sama madu paling manis yang satu itu, tapi gue selalu mengusahakan yang terbaik, sebaik yang gue bisa dan sekeren yang gue mampu. Dunno, mungkin gue udah terlalu banyak bicara tai banteng sampai-sampai gue ngerasa nggak pantas untuk memberikan satu-dua janji, mungkin juga karena gue terlalu takut sama masa lalu my love, nggak pengen dia inget hal-hal jelek di masa lampau, mungkin juga karena gue emang brengsek? Uu.. heavhey. Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue bukan nggak mikirin masa depan, untuk apa pacaran kalau tujuannya hanya hari ini dan bukannya memikirkan gimana gue hidup nantinya? Sama siapa? Nikah dimana? Punya anak berapa? Oke, umur gue 20, 20 labil yang kecolek dikit bisa rontok fondasi prinsipnya. Beberapa orang mungkin gue bicara terlalu jauh, beberapa juga mungkin akan berkata kalau gue ini terlalu santai, tapi toh ini gue,
Doh, tiap nulis model begini pasti ada saatnya mentok deh.
I love you. Kalau ada satu janji yang bisa gue berikan sekarang-sekarang ini adalah. I wanna be with you, titik. Koma, dan gue mau ketemu my love lebih sering dari perencanaan awal di tahun ini.
Alter
- 5:28 AM
- Write comment
Manusia mana yang ga punya alter? Saya punya banyak, mampus. Dan semua punya cerita, yang saya tulis dengan suka rela walau kadang-kadang ga bermakna. Itulah mengapa saya menikmati dunia Role Play, saat saya punya wajah yang super cakep, ato super cantik, dan bertingkah super marysue dengan latar belakang ekonomi super tajir, super berkuasa, super bertahta. Super mimpi. Ya maaf kalo kenyataannya saya cuma sebongkah tulang dan kulit berjalan yang sok inosen, hahahehe, IQ jongkok yang lumayan dianggap jenius kalo dibandingin sama pasien departemen saraf. Tapi saya yakin, saya ga kalah nakal ditandingin sama psikolog manapun. Mungkin teori psikologi yang dijepret dalam diktat-diktat maha tebal itu tak satupun saya mengerti. Bahkan diagnosis dan anamnesis pergilaan tak satupun saya kenal. Tapi saya yakin, orang gila yang barusan waras seperti saya ini tahu benar bagaimana enaknya hidup di dalam ribuan wajah. Sumprit.
Nah, ceritanya soal Role Play. Saya punya banyak alter (eaa dibaleni maneh) dan khusus di Indohogwart (indohogwarts.co.nr) saya punya 4 anak, 4 alter, 4 nyawa yang terbagi-bagi secara nista. Perkenalkan satu-satu ya :
1. Areski Gale Leiden
Vicodin,
Dari botolnya langsung, tiga pil sekaligus, kunyah—telan. Reaksinya nihil, mungkin lima menit lagi kejang. Inilah yang kusebut mufakat soal idiotism. Kita tak pernah menciptakan sesuatu yang dihargai orang melebihi aku menghargainya sendiri. Tapi beberapa lagu picisan, yang sebenarnya asal genjreng dan tak bermakna apa-apa, justru menjeplak indie records dan kini anjing label mencium bau kita. Aku beritikad lebih baik menelannya sendiri, chord rekaman ini kubuang di selokan. Terima kasih atas hidupmu yang selalu membawa perkara.
Apa yang ditulis bukan selalu yang ada sebenarnya. Kantung mata hitam berarti kurang tidur, dehidrasi, kehilangan kemampuan fleksibilitas atau bahkan terjadi karbonasi di bawah kulit. Itu yang akan dituliskan ahli kecantikan dan dokter syaraf. Tak ada yang menulis bahwa kehilangan sahabat, saudara, teman, dibukukan sebagai catatan medis yang responsibel. Padahal kenyataannya, aku kehilangan kau, dan mataku bengkak, hidungku berair, bantalku basah. Terima kasih atas matimu yang ternyata masih membawa perkara.
Jake Farro—almarhum.
*****
Jas hitam,sepatu hitam, jeans seperti biasa, maaf aku tak punya yang lain. Berdiri di depan nisanmu dan mengikuti prosedur Lutherian—aku baru tahu kau punya Tuhan—tak pernah berada dalam daftar belanja kostumku. Honore bisa membawakan satu dua stel untukku asal kuminta, tapi siapa yang mengira aku akan membutuhkan jas, kemeja, dasi, pantofel dan kaos kaki untuk ke makam instead ke pelaminan? Sepertinya Agrippina Proust—gadis yang kauidam-idamkan—melihat kedokku lebih baik daripada Ellena. Dan Tequilla Sirius bilang, ‘Mananya yang dariku normal’. Dan kau, hell, kau yang paling tahu sejak awal.
Jake, harusnya kuselipkan Tattler edisi kita ke balik petimu. Mungkin setelah sampai di Surga, akan jadi barang bukti bahwa kau tak cocok berada di sana dikelilingi para bidadari (harusnya bidadara? entahlah).
Pemakamanmu membosankan. Tak ada Sub-woofer di sini, tak ada konser, gitar berderit—paling nyaring cuma klarinet dan isak tangis ibumu, ibuku, ibu Damon. Mauku, kencing di lubang kuburmu, menyalak dan menggongong menyuruhmu bangun. Atau hei, tunggu reaksi Jake Farro saat ia bangun dan jas tuxedonya bau pesing. Oh, itu memang yang aku tunggu. Nyatanya, suasana ini terlalu suram. Orang tuamu—yang warna rambut si ibu sama seperti bulu bebek dan rambut si ayah yang mirip bulu ketiak—sedang tak ingin berkompromi dengan idiotism gaya baru. Jadi kutarik lagi ke atas resliting yang sudah kuturunkan.
Sepertinya tema pemakaman kali ini adalah Lily, padahal harusnya mereka tahu kau alergi serbuk bunga. Bersinlah seharian di sana dan muncullah keluar dari lubang makammu. Kubawakan satu ransel penuh Genesis dan lima lembar sapu tangan, in case kau menangisi kebaikan hatiku yang mau mengerti apa kesukaanmu.
Hei, kau masih perawan kan? Harusnya kau coba sekali sebelum memutuskan gantung diri. Kubawakan kond*m, tinggal pilih. Melon, anggur, strawberry. Kau pernah bilang kalau Blake Guillory tak memakai kutang, pasti Agy telah jadi milikmu. Masalahnya, Guillory pakai kutang, dan Agy jatuh cinta dengan lengannya yang sebesar pahamu. Kupikir lain kali kau akan menemukan gadis lain. Yang terakhir kudengar kau menemukan yang cantik—bintang iklan sumpit. Kim... Kim... siapa itulah. Setidaknya siapapun dia, masih lebih cantik daripada milikku. Tapi tetap saja, kau perawan.
Aku berpikir begini ya. Buatlah lima menit lebih lama lagi, pastur yang tak habis-habisnya membaca ayat akan membuatmu terbakar di dalam sana. Kau tak merasakan pori-porimu panas? Well, aku merasakannya.
"Dia berdoa kepada Bapa-Nya, kalau boleh cawan ini lalu daripadanya, tetapi bukan kehendakKu yang jadi melainkan kehendakMulah yang jadi, Amen."
Damon Nutcracker ada di sampingku, kau pasti lihat. Tahun ini berat buatnya, kemarin Xuxa sekarang kau. Mungkin tahun depan aku. Damon masih utuh, tetapi raut wajahnya aneh. Mungkin ia menelan satu dosis Calomel, tapi dari caranya berjalan aku tahu satu hal. Ia tak membiarkan kenyataan ini membunuhnya, walau pada nyatanya kau terbunuh. Yang tersisa di antara kita bertiga seperti noda yang tak bisa dibersihkan deterjen manapun. Bersih, tak berbau, tapi warnanya masih ada.
Jake,
*****
Ibumu menangis lagi, kau berdosa besar telah membuat kecantikan itu luntur lebih cepat dari yang bisa dilakukan usia. Tabur bunga pun tak terelakkan, kulihat dari sini, Damon menumpahkan satu keranjang penuh sekaligus ke batu nisanmu. Dia marah, dia kecewa—yang kurasakan diwakilinya 200%. Anggaplah hidungmu yang sudah tak bisa membau itu takkan terusik, tak perlu bersin-bersin, tak keluar ingus. Karena demi Tuhan... segala yang hidup padamu sudah tak berfungsi lagi.
"Asshole.”
Oh tambahan, Nabelle akan menikah dengan Nyle. Lengkap sudah deritamu.
2. Jeremy Atticus Brian
Tidak ada hari tanpa bertengkar, satu dan selanjutnya semuanya seperti arisan. Waktu itu ia duduk di ranjang Toni seperti biasa, menunggu gadis itu mandi sambil membuat lubang di dinding apel—satu dari tiga kilo yang ia bawakan dari kebun tetangga. Teman seangkatannya sibuk mencalonkan diri menjadi Prefek, teman-teman Toni stres menghafal bahan ujian owl. Dia dan gadisnya—sedikitpun tak memikirkan keduanya. Sepuluh menit kemudian Toni keluar berbalut handuk dan mengibaskan rambut seperti pudel di depan kaca.
Sekali-kali patut dicoba. Hannah dan Dawson entah bilang apa, Toni sepertinya lama-lama tergoda juga. Mojok—ah, Jem juga suka. Menikmati pemandangan berdua, lalu diganggu bocah-bocah tolol yang tak tahu kalau mereka petinggi klub duel. Samsak sukarela yang datang sendiri seperti itu kadang meningkatkan pelesirnya, semoga Toni juga.
“Tak bawa Paul?”
“Tak usah. Repot sekali. Aku cuma ingin berdua denganmu.”
“Memang kita ngapain?”
“.......”
KATANYA KENCAN!
Perutnya tergelitik, tangannya terulur hendak mengangkat pinggang Toni ke angkasa sebelum menggendongnya kabur ke sebuah tempat rahasia, tapi toh ditahan juga. Khusus hari ini ia jadi manusia baik hati, penyabar dan tak pencemburu atau segala isi neraka meluber karena bertengkar mulut.
“Ken-can. Melakukan apa yang biasa dilakukan pasangan seumuran kita, main lumpur, mencari cacing, membakar kolor Hagrid—kidding.”
Tidak ada yang seperti gadisnya ini. Biarlah dadanya rata, pinggangnya cekung, rambut pendek. Hanya Toni yang menyayanginya, menerima ketololannya seratus persen dan biasa-biasa saja, tak merasa apes mendapatkan dirinya. One in million, Jem. Karena itulah ia bertahan, karena opsi bercinta di dalam kamar masih belum terjamah.
Joking.
Awalnya konsolidasi ini melibatkan ocehan setengah waras soal video bokep yang seratus persen disalah-artikan Toni sebagai duel model baru. Lalu haha-hihi, Jem menawarkan diri untuk menjadi korban pertama andai Toni benar-benar mau mempraktekkannya. Hebatnya, gadis itu mengiyakan tanpa sedikitpun pikiran mesum menjangkiti bayangan. Jujur saja, hatinya tercabik rasa bersalah. Tapi ini kemauan Toni, kalau disuruh menikahinya sekarang pun Jem rela-rela saja.
Begitu segalanya siap, ia menjemput Toni—seperti yang kini terjadi—dan berdua berjalan menyusuri beberapa bocah bau jamur yang melintas sambil mencela soal homo-phobia (Who’s homo, freak!—Toni just have tiny breast!). Selanjutnya bau tanah dan rimbun pepohonan perdu yang terpejara di dalam akuarium Sprout menyapa hangat. Tak dingin, tak lembab—average. Jangan salahkan musim begini pohon kecil di balik lipitan celananya menyembul. Mantera pengunci demi menghindari hal-hal memuakkan macam prefek jablay tukang intip atau bahkan Sprout sendiri yang sedang galau karena musim kawin hampir usai.
Kalau berduaan begini—ketiganya pasti setan. Kan?
Genggaman tangannya makin erat, Toni Taylor, tidakkah kau gugup?
“So. Kau sudah yakin akan melakukannya di sini?”
3. Tabriz Brian (Divani Shamsi Tabriz Brian)
Bau-bau keturunan aristokrat menguar dari tiap lipit ketiak para tetangganya di sini. Gaya rambut Hearts of Love berpadu dengan obat asafoetida, tembakau, parfum Hoyt’s Cologne, tembakau Brown’s Mule, peppermint dan talk melati. Bau bangkai.
Kurang lebih satu setengah jerigen parfum-parfuman perahan Eropa bergemuruh menyeruak hidungnya yang sensitif. Citronela atau tidak, sekarang semuanya tak ada yang sanggup membuat ujung hidung Tabriz Brian menyembulkan spotch merah karena begitu sering dikucek. Ia lupa dengan dandanannya, oh rambut dan jubahnya, oh senyum pura-pura baik saja-nya, oh persetan kuda betina. Satu ampul coca cola dan lima ribu miligram Difenhydramine di dalam urat nadimu sanggup membalik kelamin Severus Snape jadi ambivalen. Dan kedatangan Juan di dekatnya sudah barang sebuah pelengkap teater kedok yang akan ia tampilkan sebentar lagi.
”Apa kabar Tabb? Dimana Constantine?”
Ups, morfoditnya bisa bicara.
*cegukan*
“I’m here, Brother, good evening.”
Jadi peribahasanya Tak Ada Norrean yang Mengurus Urusannya Sendiri, Sembilan Dari Sepuluh Ravenclaw Melankolis, Bahu Vega Knight Bungkuk Karena Phoebe Whitney 8 inci di Bawahnya, Jika Mrs Aurora Sinistra menghirup gin dari botol Nikolas Morcerf, itu tidak aneh—ibunya melakukan hal yang sama. Semua yang bagi segala mata adalah keremehan yang tak lebih berarti dari pada sepenggal penny, sayangnya mata Tabriz tak pernah kehilangan memori. Lalu laki-laki ini, yang kini mengalungkan lengannya ke selujur pinggang yang sejak beberapa hari ini kehilangan kekenyalan alias bantal lemak—apa sebutannya?
“Juan, Don Juan. Perutmu keruyukan? Ah—“ dihibahkannya seratus persen perhatian pada si kakak—yang tak pernah berhenti menjadi bak bermacam macam keluh kesah, yang selalu menemaninya menghabiskan satu nampan besar mocca, yang memberinya gelang giok berwarna hijau yang hingga saat ini masih dipakainya. “Kubuatkan morfodit, khusus untukmu. Dan bisa kau makan.” Rasberry cupcakes yang sebenarnya berwarna jingga dengan muffle krim seputih uban Dumbledore disulap menjadi karikatur Juan Norrean lengkap dengan senyumnya yang super pelit. Tak perlu berterima kasih, ini hal terindah yang bisa ia lakukan, bukan apa-apa jika dibandingkan setumpuk puisi Pavane dan Aria berisi...
“Love you, Schat. I’m sorry, Dear. Will you accept me again, please?”
Yap, yang berisi timbunan frase-frase yang begitu-begitu itu isinya. Cinta.
“Kau tahu Schat, sejak kita bersama... aku seperti berjalan membawa telur di atas kepalaku.” Torquisenya menatap balas Constantine Ridgett, hanya memastikan semua kata-katanya diserap sebaik mungkin dalam Cerebellum yang berlekuk-lekuk dan plegmatis (itulah mayoritas isi otak Ravenclaw, kau tahu?) “Nah sekarang pulanglah ke ranjangmu dan biarkan aku bersenang-senang.”
4. Abel Sahincelik
Krik sangat hidupnya, macam keripik.
Pertama bangun pagi dan menemukan kotak sigaretnya sudah tak lagi berpenghuni, Abel depresi. Oh kau tahu depresi macam apa yang menghantamnya? Pagi-pagi sekali dia sudah mandi (telanjang—yang jarang-jarang, biasanya masih pakai celana dalam), lalu naik turun koridor dengan handuk menutup selangkang. Belum ada yang bangun, bahkan Nikolas si kepala nyaris buntung masih memeluk paha kudanya, dan nyonya gemuk-bagai-bunting yang biasanya bernyanyi berisik masih mendengkur bak halilintar. Dan prefek-prefek sapi yang pasti tidak berpatroli sepagi ini, apa kabar? Intinya, Abel sangat—sangat tak tertolong jika ia memutuskan bunuh diri dengan menabrakkan diri ke baju-baju zirah berketopong itu, atau loncat dari tangga—atau dua-duanya.
Kepalanya nyaris kosong, nyaris sekosong kotak sigaretnya. Satu-satunya yang menggerakkan badannya hanya ilustrasi awang-awangan bahwa di ujung pelangi ada harta (rokok.red) dan dia sedang berjalan tertatih mencari ujung koridor yang disinyalirnya sebagai..kau tahu lah. Slytherin tahun awal ini memang tak punya banyak teman yang bisa diajak berdiskusi, curhat, bahkan bertransaksi barang haram. Katanya banyak yang takut dengan Snape—hukumannya itu lho. Bagi Abel, selama hukuman itu tak menyisirkan rambut berminyak nan lepek nan belah tengah itu, semuanya masih dalam taraf wajar. Tapi tetap saja, bergundil-bergundil itu macam kerbau dipatuk hidung. Draco Malfoy pun cuma sekilas pandang terlihat sarkas, Janice Burns pun masih berkutat dengan peri-peri (aduh kasihan sekali—bagaimana Abel harus menolongnya coba?), dan Lacrime brengsek nan bedebah itu belum bayar hutangnya!
“Oh… brengsek kau Lac.” Abel bergumam tak sadar, berbalik masuk kembali ke kamarnya dan segera memakai baju dengan mata masih tertutup dan mulut komat-kamit. Agendanya hari ini berubah, ia perlu membunuh Lacrime Fauchelevent karena tunggakan hutang tak terbayar yang sangat keterlaluan. Bocah itu hilang dengan sisa rokoknya, meninggalkan Abel sakaw tak berdaya. Mengambil satu sandwich dan Daily Prophet langganannya yang baru bertengger di jendela, Abel berjalan lagi, menghilang di balik dinding-dinding kusam.
***
Mengunyah Daily Prophet dan membaca sandwich di toilet. Mau coba? Haha, cuma Abel yang bisa Cherie. Ia menyapa beberapa bocah yang berada di depan toilet, biasanya kalau pagi begini banyak yang ‘setor’. Dan mungkin wajah-wajah buronan macam Lacrime atau Janice ikut antri di sana? Well, kenapa tak dicoba saja. Dilihatnya wajah-wajah pathetic bergumam, mengumpatinya dalam hati seolah tak pernah melihat pureblood sejorok Abel. Slytherin lho, dirinya. Kalau mau perang bacot langsung bilang keras-keras di depan wajahnya dong. Dan bocah yang disapanya itu segera bergegas pergi—kalah adu desis.
“Cuci tangan—“ ia bergegas melipat Daily Prophet dan mengempitnya di antara paha, dengan tangan terjulur ke wastafel dan mata melirik ke beberapa gadis pesolek yang mengaca sambil tersenyum haha-haha. “Waduh, pagi-pagi… ”
Zina mata.
Nah, ceritanya soal Role Play. Saya punya banyak alter (eaa dibaleni maneh) dan khusus di Indohogwart (indohogwarts.co.nr) saya punya 4 anak, 4 alter, 4 nyawa yang terbagi-bagi secara nista. Perkenalkan satu-satu ya :
1. Areski Gale Leiden
Vicodin,
Dari botolnya langsung, tiga pil sekaligus, kunyah—telan. Reaksinya nihil, mungkin lima menit lagi kejang. Inilah yang kusebut mufakat soal idiotism. Kita tak pernah menciptakan sesuatu yang dihargai orang melebihi aku menghargainya sendiri. Tapi beberapa lagu picisan, yang sebenarnya asal genjreng dan tak bermakna apa-apa, justru menjeplak indie records dan kini anjing label mencium bau kita. Aku beritikad lebih baik menelannya sendiri, chord rekaman ini kubuang di selokan. Terima kasih atas hidupmu yang selalu membawa perkara.
Apa yang ditulis bukan selalu yang ada sebenarnya. Kantung mata hitam berarti kurang tidur, dehidrasi, kehilangan kemampuan fleksibilitas atau bahkan terjadi karbonasi di bawah kulit. Itu yang akan dituliskan ahli kecantikan dan dokter syaraf. Tak ada yang menulis bahwa kehilangan sahabat, saudara, teman, dibukukan sebagai catatan medis yang responsibel. Padahal kenyataannya, aku kehilangan kau, dan mataku bengkak, hidungku berair, bantalku basah. Terima kasih atas matimu yang ternyata masih membawa perkara.
Jake Farro—almarhum.
*****
Jas hitam,sepatu hitam, jeans seperti biasa, maaf aku tak punya yang lain. Berdiri di depan nisanmu dan mengikuti prosedur Lutherian—aku baru tahu kau punya Tuhan—tak pernah berada dalam daftar belanja kostumku. Honore bisa membawakan satu dua stel untukku asal kuminta, tapi siapa yang mengira aku akan membutuhkan jas, kemeja, dasi, pantofel dan kaos kaki untuk ke makam instead ke pelaminan? Sepertinya Agrippina Proust—gadis yang kauidam-idamkan—melihat kedokku lebih baik daripada Ellena. Dan Tequilla Sirius bilang, ‘Mananya yang dariku normal’. Dan kau, hell, kau yang paling tahu sejak awal.
Jake, harusnya kuselipkan Tattler edisi kita ke balik petimu. Mungkin setelah sampai di Surga, akan jadi barang bukti bahwa kau tak cocok berada di sana dikelilingi para bidadari (harusnya bidadara? entahlah).
Pemakamanmu membosankan. Tak ada Sub-woofer di sini, tak ada konser, gitar berderit—paling nyaring cuma klarinet dan isak tangis ibumu, ibuku, ibu Damon. Mauku, kencing di lubang kuburmu, menyalak dan menggongong menyuruhmu bangun. Atau hei, tunggu reaksi Jake Farro saat ia bangun dan jas tuxedonya bau pesing. Oh, itu memang yang aku tunggu. Nyatanya, suasana ini terlalu suram. Orang tuamu—yang warna rambut si ibu sama seperti bulu bebek dan rambut si ayah yang mirip bulu ketiak—sedang tak ingin berkompromi dengan idiotism gaya baru. Jadi kutarik lagi ke atas resliting yang sudah kuturunkan.
Sepertinya tema pemakaman kali ini adalah Lily, padahal harusnya mereka tahu kau alergi serbuk bunga. Bersinlah seharian di sana dan muncullah keluar dari lubang makammu. Kubawakan satu ransel penuh Genesis dan lima lembar sapu tangan, in case kau menangisi kebaikan hatiku yang mau mengerti apa kesukaanmu.
Hei, kau masih perawan kan? Harusnya kau coba sekali sebelum memutuskan gantung diri. Kubawakan kond*m, tinggal pilih. Melon, anggur, strawberry. Kau pernah bilang kalau Blake Guillory tak memakai kutang, pasti Agy telah jadi milikmu. Masalahnya, Guillory pakai kutang, dan Agy jatuh cinta dengan lengannya yang sebesar pahamu. Kupikir lain kali kau akan menemukan gadis lain. Yang terakhir kudengar kau menemukan yang cantik—bintang iklan sumpit. Kim... Kim... siapa itulah. Setidaknya siapapun dia, masih lebih cantik daripada milikku. Tapi tetap saja, kau perawan.
Aku berpikir begini ya. Buatlah lima menit lebih lama lagi, pastur yang tak habis-habisnya membaca ayat akan membuatmu terbakar di dalam sana. Kau tak merasakan pori-porimu panas? Well, aku merasakannya.
"Dia berdoa kepada Bapa-Nya, kalau boleh cawan ini lalu daripadanya, tetapi bukan kehendakKu yang jadi melainkan kehendakMulah yang jadi, Amen."
Damon Nutcracker ada di sampingku, kau pasti lihat. Tahun ini berat buatnya, kemarin Xuxa sekarang kau. Mungkin tahun depan aku. Damon masih utuh, tetapi raut wajahnya aneh. Mungkin ia menelan satu dosis Calomel, tapi dari caranya berjalan aku tahu satu hal. Ia tak membiarkan kenyataan ini membunuhnya, walau pada nyatanya kau terbunuh. Yang tersisa di antara kita bertiga seperti noda yang tak bisa dibersihkan deterjen manapun. Bersih, tak berbau, tapi warnanya masih ada.
Jake,
*****
Ibumu menangis lagi, kau berdosa besar telah membuat kecantikan itu luntur lebih cepat dari yang bisa dilakukan usia. Tabur bunga pun tak terelakkan, kulihat dari sini, Damon menumpahkan satu keranjang penuh sekaligus ke batu nisanmu. Dia marah, dia kecewa—yang kurasakan diwakilinya 200%. Anggaplah hidungmu yang sudah tak bisa membau itu takkan terusik, tak perlu bersin-bersin, tak keluar ingus. Karena demi Tuhan... segala yang hidup padamu sudah tak berfungsi lagi.
"Asshole.”
Oh tambahan, Nabelle akan menikah dengan Nyle. Lengkap sudah deritamu.
2. Jeremy Atticus Brian
Tidak ada hari tanpa bertengkar, satu dan selanjutnya semuanya seperti arisan. Waktu itu ia duduk di ranjang Toni seperti biasa, menunggu gadis itu mandi sambil membuat lubang di dinding apel—satu dari tiga kilo yang ia bawakan dari kebun tetangga. Teman seangkatannya sibuk mencalonkan diri menjadi Prefek, teman-teman Toni stres menghafal bahan ujian owl. Dia dan gadisnya—sedikitpun tak memikirkan keduanya. Sepuluh menit kemudian Toni keluar berbalut handuk dan mengibaskan rambut seperti pudel di depan kaca.
Sekali-kali patut dicoba. Hannah dan Dawson entah bilang apa, Toni sepertinya lama-lama tergoda juga. Mojok—ah, Jem juga suka. Menikmati pemandangan berdua, lalu diganggu bocah-bocah tolol yang tak tahu kalau mereka petinggi klub duel. Samsak sukarela yang datang sendiri seperti itu kadang meningkatkan pelesirnya, semoga Toni juga.
“Tak bawa Paul?”
“Tak usah. Repot sekali. Aku cuma ingin berdua denganmu.”
“Memang kita ngapain?”
“.......”
KATANYA KENCAN!
Perutnya tergelitik, tangannya terulur hendak mengangkat pinggang Toni ke angkasa sebelum menggendongnya kabur ke sebuah tempat rahasia, tapi toh ditahan juga. Khusus hari ini ia jadi manusia baik hati, penyabar dan tak pencemburu atau segala isi neraka meluber karena bertengkar mulut.
“Ken-can. Melakukan apa yang biasa dilakukan pasangan seumuran kita, main lumpur, mencari cacing, membakar kolor Hagrid—kidding.”
Tidak ada yang seperti gadisnya ini. Biarlah dadanya rata, pinggangnya cekung, rambut pendek. Hanya Toni yang menyayanginya, menerima ketololannya seratus persen dan biasa-biasa saja, tak merasa apes mendapatkan dirinya. One in million, Jem. Karena itulah ia bertahan, karena opsi bercinta di dalam kamar masih belum terjamah.
Joking.
Awalnya konsolidasi ini melibatkan ocehan setengah waras soal video bokep yang seratus persen disalah-artikan Toni sebagai duel model baru. Lalu haha-hihi, Jem menawarkan diri untuk menjadi korban pertama andai Toni benar-benar mau mempraktekkannya. Hebatnya, gadis itu mengiyakan tanpa sedikitpun pikiran mesum menjangkiti bayangan. Jujur saja, hatinya tercabik rasa bersalah. Tapi ini kemauan Toni, kalau disuruh menikahinya sekarang pun Jem rela-rela saja.
Begitu segalanya siap, ia menjemput Toni—seperti yang kini terjadi—dan berdua berjalan menyusuri beberapa bocah bau jamur yang melintas sambil mencela soal homo-phobia (Who’s homo, freak!—Toni just have tiny breast!). Selanjutnya bau tanah dan rimbun pepohonan perdu yang terpejara di dalam akuarium Sprout menyapa hangat. Tak dingin, tak lembab—average. Jangan salahkan musim begini pohon kecil di balik lipitan celananya menyembul. Mantera pengunci demi menghindari hal-hal memuakkan macam prefek jablay tukang intip atau bahkan Sprout sendiri yang sedang galau karena musim kawin hampir usai.
Kalau berduaan begini—ketiganya pasti setan. Kan?
Genggaman tangannya makin erat, Toni Taylor, tidakkah kau gugup?
“So. Kau sudah yakin akan melakukannya di sini?”
3. Tabriz Brian (Divani Shamsi Tabriz Brian)
Bau-bau keturunan aristokrat menguar dari tiap lipit ketiak para tetangganya di sini. Gaya rambut Hearts of Love berpadu dengan obat asafoetida, tembakau, parfum Hoyt’s Cologne, tembakau Brown’s Mule, peppermint dan talk melati. Bau bangkai.
Kurang lebih satu setengah jerigen parfum-parfuman perahan Eropa bergemuruh menyeruak hidungnya yang sensitif. Citronela atau tidak, sekarang semuanya tak ada yang sanggup membuat ujung hidung Tabriz Brian menyembulkan spotch merah karena begitu sering dikucek. Ia lupa dengan dandanannya, oh rambut dan jubahnya, oh senyum pura-pura baik saja-nya, oh persetan kuda betina. Satu ampul coca cola dan lima ribu miligram Difenhydramine di dalam urat nadimu sanggup membalik kelamin Severus Snape jadi ambivalen. Dan kedatangan Juan di dekatnya sudah barang sebuah pelengkap teater kedok yang akan ia tampilkan sebentar lagi.
”Apa kabar Tabb? Dimana Constantine?”
Ups, morfoditnya bisa bicara.
*cegukan*
“I’m here, Brother, good evening.”
Jadi peribahasanya Tak Ada Norrean yang Mengurus Urusannya Sendiri, Sembilan Dari Sepuluh Ravenclaw Melankolis, Bahu Vega Knight Bungkuk Karena Phoebe Whitney 8 inci di Bawahnya, Jika Mrs Aurora Sinistra menghirup gin dari botol Nikolas Morcerf, itu tidak aneh—ibunya melakukan hal yang sama. Semua yang bagi segala mata adalah keremehan yang tak lebih berarti dari pada sepenggal penny, sayangnya mata Tabriz tak pernah kehilangan memori. Lalu laki-laki ini, yang kini mengalungkan lengannya ke selujur pinggang yang sejak beberapa hari ini kehilangan kekenyalan alias bantal lemak—apa sebutannya?
“Juan, Don Juan. Perutmu keruyukan? Ah—“ dihibahkannya seratus persen perhatian pada si kakak—yang tak pernah berhenti menjadi bak bermacam macam keluh kesah, yang selalu menemaninya menghabiskan satu nampan besar mocca, yang memberinya gelang giok berwarna hijau yang hingga saat ini masih dipakainya. “Kubuatkan morfodit, khusus untukmu. Dan bisa kau makan.” Rasberry cupcakes yang sebenarnya berwarna jingga dengan muffle krim seputih uban Dumbledore disulap menjadi karikatur Juan Norrean lengkap dengan senyumnya yang super pelit. Tak perlu berterima kasih, ini hal terindah yang bisa ia lakukan, bukan apa-apa jika dibandingkan setumpuk puisi Pavane dan Aria berisi...
“Love you, Schat. I’m sorry, Dear. Will you accept me again, please?”
Yap, yang berisi timbunan frase-frase yang begitu-begitu itu isinya. Cinta.
“Kau tahu Schat, sejak kita bersama... aku seperti berjalan membawa telur di atas kepalaku.” Torquisenya menatap balas Constantine Ridgett, hanya memastikan semua kata-katanya diserap sebaik mungkin dalam Cerebellum yang berlekuk-lekuk dan plegmatis (itulah mayoritas isi otak Ravenclaw, kau tahu?) “Nah sekarang pulanglah ke ranjangmu dan biarkan aku bersenang-senang.”
4. Abel Sahincelik
Krik sangat hidupnya, macam keripik.
Pertama bangun pagi dan menemukan kotak sigaretnya sudah tak lagi berpenghuni, Abel depresi. Oh kau tahu depresi macam apa yang menghantamnya? Pagi-pagi sekali dia sudah mandi (telanjang—yang jarang-jarang, biasanya masih pakai celana dalam), lalu naik turun koridor dengan handuk menutup selangkang. Belum ada yang bangun, bahkan Nikolas si kepala nyaris buntung masih memeluk paha kudanya, dan nyonya gemuk-bagai-bunting yang biasanya bernyanyi berisik masih mendengkur bak halilintar. Dan prefek-prefek sapi yang pasti tidak berpatroli sepagi ini, apa kabar? Intinya, Abel sangat—sangat tak tertolong jika ia memutuskan bunuh diri dengan menabrakkan diri ke baju-baju zirah berketopong itu, atau loncat dari tangga—atau dua-duanya.
Kepalanya nyaris kosong, nyaris sekosong kotak sigaretnya. Satu-satunya yang menggerakkan badannya hanya ilustrasi awang-awangan bahwa di ujung pelangi ada harta (rokok.red) dan dia sedang berjalan tertatih mencari ujung koridor yang disinyalirnya sebagai..kau tahu lah. Slytherin tahun awal ini memang tak punya banyak teman yang bisa diajak berdiskusi, curhat, bahkan bertransaksi barang haram. Katanya banyak yang takut dengan Snape—hukumannya itu lho. Bagi Abel, selama hukuman itu tak menyisirkan rambut berminyak nan lepek nan belah tengah itu, semuanya masih dalam taraf wajar. Tapi tetap saja, bergundil-bergundil itu macam kerbau dipatuk hidung. Draco Malfoy pun cuma sekilas pandang terlihat sarkas, Janice Burns pun masih berkutat dengan peri-peri (aduh kasihan sekali—bagaimana Abel harus menolongnya coba?), dan Lacrime brengsek nan bedebah itu belum bayar hutangnya!
“Oh… brengsek kau Lac.” Abel bergumam tak sadar, berbalik masuk kembali ke kamarnya dan segera memakai baju dengan mata masih tertutup dan mulut komat-kamit. Agendanya hari ini berubah, ia perlu membunuh Lacrime Fauchelevent karena tunggakan hutang tak terbayar yang sangat keterlaluan. Bocah itu hilang dengan sisa rokoknya, meninggalkan Abel sakaw tak berdaya. Mengambil satu sandwich dan Daily Prophet langganannya yang baru bertengger di jendela, Abel berjalan lagi, menghilang di balik dinding-dinding kusam.
***
Mengunyah Daily Prophet dan membaca sandwich di toilet. Mau coba? Haha, cuma Abel yang bisa Cherie. Ia menyapa beberapa bocah yang berada di depan toilet, biasanya kalau pagi begini banyak yang ‘setor’. Dan mungkin wajah-wajah buronan macam Lacrime atau Janice ikut antri di sana? Well, kenapa tak dicoba saja. Dilihatnya wajah-wajah pathetic bergumam, mengumpatinya dalam hati seolah tak pernah melihat pureblood sejorok Abel. Slytherin lho, dirinya. Kalau mau perang bacot langsung bilang keras-keras di depan wajahnya dong. Dan bocah yang disapanya itu segera bergegas pergi—kalah adu desis.
“Cuci tangan—“ ia bergegas melipat Daily Prophet dan mengempitnya di antara paha, dengan tangan terjulur ke wastafel dan mata melirik ke beberapa gadis pesolek yang mengaca sambil tersenyum haha-haha. “Waduh, pagi-pagi… ”
Zina mata.
Do And Don't
- 11:07 PM
- Write comment
This is Clover speaking.
You don’t need the detail since Cubung had introduced me sweetly :”>
I might have some difficulties writing in Indonesia since I used to made my blog seems like a dead boring International Journalism rather than a diary. And you’ll find the same exactly face if you read my real diary, papers and pen,--but you’ll regret a lot if you think I’m a boring girl, coz I don’t.
I love my boyfriend, Cubung, that walking grizzly teddy bear. With any conditional and terms, and regarding that our mutual banter used to be the sign on how we’re so connected on each other, we fall too much in pitfall of love enchanted. Hear the thud?
Starting with twitter, with those damn 140 words of blabbing, I met him. We barely met before in WordNation 2010 in Jakarta which I’d participated with all my IndoHogwarts friends. But he’s too small to grab my attention. So yeah, pardon darling. I still cant believe that I was in love with this guy coz he was a jerk. He taught me to smoke and tempted me to make an excuse—bring me back to where I had fallen—and do some cigaretting. Jerk. Dumbass jerk, and I hated him a lot to the core. As if it’s not enough, he bathed my anger with the fuel, and made those fire succesfully burned everything with jealousy, especially when I watched Bayu cuddled his arm. What a fuck. And we started having a chat, mostly by kniving words, but deep inside, I got something monsterly—enomoursly—growing deep in my heart (ciyee) but I didn’t know what it was. The result was, I couldn’t reach my sleep. I barely had troubled in getting my sober, my eyes refused to knocked off, and my brain was searching some agonizing mind inside, tried so hard to find the answer of ‘why I have these feeling toward that bastard’ until I was too sore to ask. And I realized I couldn’t help a minute without talking to him. So I made my confession, yeah, I was the first one made things happen *towel Hani*
Bored already? Haha, I’m so sorry.
I knew I couldn’t write good things, peop, I’m sorry. This blog should’ve be something more interesting, and I would stop doing this creepy-english-bitch.
…….
Kenapa ga dari tadi *plak*
Biar kerasa aura gw yang charming smart brainful dan hard to get. Kenalin, gw Nanda. Kebawa-bawa pake ‘gw’ instead of ‘saya’ karena kebiasa punya pacar anak Jakarta. Dan anehnya, saat belum jadian, panggilan itu tersebar bak ketan wijen yang disiramin ke Klepon. Tapi begitu udah jadian, entah kenapa gw ngerasa panggilan ‘gw’ terlalu labil buat didenger telinga manisnya. Kurang sopan, lagaknya, padahal gw orang Surabaya, yang nganggep sopan santun tata bahasa kek tai ikan di ujung jalan. Tapi karena blog ini jadi diary kami berdua, yang rasanya ga bakal berisi hal-hal paling intim yang sudah kami lakukan (karena gw punya diary sendiri khusus stensilan macam begonoan), yawda, berusaha pake bahasa yang santai aja.
Kelebihan dari diary elektrik kek gini, secara spacial dan timing, memang memungkinkan kami berdua tetap stay intact. Jujur, gw suka dengan tulisan Cubung, bagaimana dari paragraf ke paragraf dia bikin penikmat tulisannya tertipu, apalagi yang mikir kalo Cubung ternyata sekeren yang dipesonakan secara deskripsi (blah, tapi emang cakep kok), tapi wajar sih. Gw aja bisa jatuh cinta dengan tulisan-tulisan dia yang sepanjang 140 kata, apalagi yang sepanjang dosa. Tapi sebagus-bagusnya kami menjalin cerita, dan sekeras-kerasnya anda tertawa, ini tetap cerita kami, copyright kami, hak cipta ini dilindungi Undang-Undang Cinta. Jadi kalau mikir dari blog ini anda akan dapat inspirasi kisah-kisah keren, hehoh, coba cari link yang lain. Apalagi buat para kritikus cinta yang mengira kami cuma tebar-tebar kemesraan di dunia maya, karena sepatutnya anda lihat sendiri di dunia nyata, kami lebih mesra dari ini.
Nah, mo nulis apa lagi? *lirik jam* saatnya pulang kantor sih. Mungkin bakal lanjut ntar di rumah, tapi mau tidur dulu. Dan btw, kenapa celana jeans gw sesek di bagian perut ya. And darling, I miss you.
Kenalan Dongs
- 10:32 AM
- Write comment
This is Pitiful speaking.
Hola, my vicious friends, whoever you are, but you just stumble upon this magnificent blog of us. Us? Yeah, jamak. Blog ini bisa dikatakan sebagai blog keroyokan, kalau memang ngebet, boleh menyebut ini sebagai diari kami berdua. Kami, saya Cubung Hanito, dan rekanan, partner, lover saya, Imaniar “Nanda” Permana, punya ide sedikit sweet tentang bagaimana mengakomodasikan sebuah hubungan jarak jauh, yaitu blog, rada mustahil kalau harus mengirim diari tiap sebulan sekali, disamping nggak efektif, tulisan tangan saya kayak ayam dicakar, kasihan dia nanti bacanya.
Oh yea, jarak jauh, kita ngambil metode hubungan LDR,lenguhan dalam ranjang, errr.. long distance relationship, maksudnya. Dia di Surabaya, sedangkan saya di Bandung. Jauh? Uuh yeaa.. 12 jam naik kereta eksekutif, kawan, 20 jam kereta ekonomi, 11 jam bis malam cepat, 30 jam naik motor, dan mungkin 3 minggu jalan kaki. Ngok.
Sedikit tentang titel blog, belum resmi sih, tapi nama ini, Pitiful Clover, hanya comotan sekedar colong dari pecahan kecil diri kami berdua. Pitiful, trademark saya yang rada suram sendu mendurja, sering dibilang mengasihani diri sendiri sampai saya frustasi (pas SMA) akhirnya masa bodo dan pake kata tersebut. Sementara Clover? Ah, itu Nanda aja yang punya fetish tersendiri sama tumbuhan menjalar itu, selebihnya, biar dia yang njelasin. Digabung dan voila, jadilah.
Soal jadi menjadi…
Kami resmi jadian belum lama kok, kenalan juga sama aja, seumur kecoak. Tapi kami yakin kalau kami saling sudi menukar sayang, dan saya punya setitik perasaan yakin bahwa ini bukan sekedar anget-anget teh manis baru selesai dijerang. *uhuk* sekedar gladi resik grand opening, sekapur sirih tulis kemiri, saya mau coba ngenalin diri kami dengan cara saya, karena saya nggak total kenal lover saya, lalu siapa tau dia mau ngenalin diri dengan caranya sendiri.
Saya? Atau mungkin, ehem, enakan pakek ‘gue’ deh kalau ngeblog. Okeh.. gue? Cubung Hanito, 21 tahun kurang dikit, menetap sementara di Bandung, perawakan tinggi besar bermuka sangar bagai preman tanah abang, tapi berhati lembut bak pastur baru dikebiri. Nggak ganteng tapi syukur banyak yang naksir *siapaaaaa?? :((*, pragmatis melankolis koleris, bergolongan darah A perfeksionis najis, kadang sinis, tapi nggak jarang bikin miris dengan sifat impulsifnya yang luar biasa kinyis-kinyis. Sangat sayang dengan lovernya, saking sayangnya sampai bisa melantunkan kata terlarang dengan lantang menantang, “saya cinta kamuu~”
Cinta siapa?
Nanda, Imaniar Permana, rondo girangku :3, si barista imut manis legit, si cantik yang saya nggak pernah bisa lepas ngeliat wajahnya, kurus papan kutilang dara tapi selalu ingin saya peluk kemana-mana. 25 tahun, tinggal di Surabaya. Dan kalau ada yang berani-berani bilang saya ini berondongnya.. err… anda tepat *dang*. 25 bukan cuma sekedar angka, dia banyak loh ngajarin gue hal-hal baru, dia lebih mateng pola pikirnya, lebih komunikatif, lebih bisa menyampaikan pendapat sesuai maksudnya, tapi tetep, kalau manja-manjaan saya yang ngemong :3 iya dong. And the bottom line is, I love her. Dot.
Lalu disinilah kita, berusaha menuliskan segala hal yang kami rasakan, keluh kesah, rasa sayang yang nggak tertahankan, rasa marah yang nggak tertampung, kangen tanpa pelampiasan, rindu menggebu, nafs—ups, sensor—pokoknya itulah, disini di blog ini. Kata langgeng saya amini, kata konsisten saya restui. Mengakhiri postingan singkat versi maskulin ini, gue akan memberikan pepatah lama.
Hola, my vicious friends, whoever you are, but you just stumble upon this magnificent blog of us. Us? Yeah, jamak. Blog ini bisa dikatakan sebagai blog keroyokan, kalau memang ngebet, boleh menyebut ini sebagai diari kami berdua. Kami, saya Cubung Hanito, dan rekanan, partner, lover saya, Imaniar “Nanda” Permana, punya ide sedikit sweet tentang bagaimana mengakomodasikan sebuah hubungan jarak jauh, yaitu blog, rada mustahil kalau harus mengirim diari tiap sebulan sekali, disamping nggak efektif, tulisan tangan saya kayak ayam dicakar, kasihan dia nanti bacanya.
Oh yea, jarak jauh, kita ngambil metode hubungan LDR,
Sedikit tentang titel blog, belum resmi sih, tapi nama ini, Pitiful Clover, hanya comotan sekedar colong dari pecahan kecil diri kami berdua. Pitiful, trademark saya yang rada suram sendu mendurja, sering dibilang mengasihani diri sendiri sampai saya frustasi (pas SMA) akhirnya masa bodo dan pake kata tersebut. Sementara Clover? Ah, itu Nanda aja yang punya fetish tersendiri sama tumbuhan menjalar itu, selebihnya, biar dia yang njelasin. Digabung dan voila, jadilah.
Soal jadi menjadi…
Kami resmi jadian belum lama kok, kenalan juga sama aja, seumur kecoak. Tapi kami yakin kalau kami saling sudi menukar sayang, dan saya punya setitik perasaan yakin bahwa ini bukan sekedar anget-anget teh manis baru selesai dijerang. *uhuk* sekedar gladi resik grand opening, sekapur sirih tulis kemiri, saya mau coba ngenalin diri kami dengan cara saya, karena saya nggak total kenal lover saya, lalu siapa tau dia mau ngenalin diri dengan caranya sendiri.
Saya? Atau mungkin, ehem, enakan pakek ‘gue’ deh kalau ngeblog. Okeh.. gue? Cubung Hanito, 21 tahun kurang dikit, menetap sementara di Bandung, perawakan tinggi besar bermuka sangar bagai preman tanah abang, tapi berhati lembut bak pastur baru dikebiri. Nggak ganteng tapi syukur banyak yang naksir *siapaaaaa?? :((*, pragmatis melankolis koleris, bergolongan darah A perfeksionis najis, kadang sinis, tapi nggak jarang bikin miris dengan sifat impulsifnya yang luar biasa kinyis-kinyis. Sangat sayang dengan lovernya, saking sayangnya sampai bisa melantunkan kata terlarang dengan lantang menantang, “saya cinta kamuu~”
Cinta siapa?
Nanda, Imaniar Permana, rondo girangku :3, si barista imut manis legit, si cantik yang saya nggak pernah bisa lepas ngeliat wajahnya, kurus papan kutilang dara tapi selalu ingin saya peluk kemana-mana. 25 tahun, tinggal di Surabaya. Dan kalau ada yang berani-berani bilang saya ini berondongnya.. err… anda tepat *dang*. 25 bukan cuma sekedar angka, dia banyak loh ngajarin gue hal-hal baru, dia lebih mateng pola pikirnya, lebih komunikatif, lebih bisa menyampaikan pendapat sesuai maksudnya, tapi tetep, kalau manja-manjaan saya yang ngemong :3 iya dong. And the bottom line is, I love her. Dot.
Lalu disinilah kita, berusaha menuliskan segala hal yang kami rasakan, keluh kesah, rasa sayang yang nggak tertahankan, rasa marah yang nggak tertampung, kangen tanpa pelampiasan, rindu menggebu, nafs—ups, sensor—pokoknya itulah, disini di blog ini. Kata langgeng saya amini, kata konsisten saya restui. Mengakhiri postingan singkat versi maskulin ini, gue akan memberikan pepatah lama.
“Dunia serasa milik berdua, yang lain ngontrak, cuk!”
Subscribe to:
Posts (Atom)





