Tadinya gue mau nulis hal lain, tapi melihat postingan di bawah ini, rasanya nggak cuma ide-ide yang gatal ingin ditumpahkan ke secarik kertas elektronik, tapi rasanya tangan juga gatal mau gampar pipi karena kesengsem yang overdosis. Uhuk. Syukurlah my love membuat postingan dibawah itu, karena kalau nggak, mungkin mispersepsi yang saya punya sampai beberapa menit tadi bisa menjalar sampai ke akar pikiran, kebawa masuk sampai alam kubur.
Blam.
Coba bayangin, lo pernah di posisi yang begitu suram sampai lo merasa nggak akan pernah mau untuk berada di posisi itu lagi, dan sekarang, ketika lo berkemungkinan untuk menempatkan seseorang di posisi yang udah pernah lo rasa itu, apa coba rasanya? Gile, lutut serasa rontok, paru-paru kehilangan setengah daya kerjanya, dan kecenderungan tremor gue meningkat beberapa kali lipat, ngerokok aja berasa ngelukis getar. Yeah, konyol, padahal gue selalu bilang, jangan pernah prejudice, jangan nilai, jangan mengambil keputusan, jangan menjudge berdasarkan informasi yang parsial, itu goblok, gue bilang. Nyatanya? Seperti yang selalu gue juga biasa sampaikan, kalo udah nyangkut ke hati, teori itu sebatas buku, dan bukan praktikal. Jadilah.. konstruk gue hancur berantakan jam dua pagi.
Khawatir, berguling-guling di kasur super tipis, bangun lagi, misscall, sms, im, semuanya, semua cara gue lakukan untuk ngehubungin satu perempuan yang berada 700 kilometer jauhnya dari tempat duduk gue sekarang, Surabaya. Takut terjadi hal-hal yang nggak gue dan siapapun inginkan, man, lo harus pernah berada di tempat tersebut, di insiden tersebut sebagai tersangka merangkap korban untuk tau rasa khawatir yang gue alami tersebut. Patah arang, patah arah, gue frustasi, dan tanpa mikir panjang, gue memutuskan untuk cabut ke surabaya. Minus modal, minus persiapan, kecuali sepotong celana dalem dan kaos dalam adalah persiapan super oke, lain ceritanya.
Darimana gue mendaptkan duit dan prosesnya sampai ke kereta, gue skip ah, gak.. asik. Haum. Bukan nggak mau berbagi, hanya ngerasa nggak perlu diceritain juga sih.
Oke, setelah rentetan jumlah misscall yang entah berapa puluh, sms putus asa yang entah bunyinya apa, gue udah di kereta, suntuk, ngerokok nggak berenti-berenti, muka kusut, mulut masih bau mad-dragon yang kalau gue cium sendiri bisa bikin gue gak napsu makan. Masih misscall, masih sms sekali-sekali dan saking gobloknya, gue sampe ngeadd beberapa saudara my love saking frustasinya nggak bisa meraih dia sebatas kontak kecil.
Dan akhirnya.
Lebih nikmat daripada ejakulasi ketika jam sebelas siang, SEBELAS!—jam dua malam sampai jam sebelas siang, sembilan jam! Fyi, itu bukan waktu yang pendek untuk diabisin sambil kepala lo ketiban beban mental seberat Ani Yudhoyono—akhirnya, my love ngontak, dia nggak apa-apa, walaupun nggak sepenuhnya, terima kasih Tuhan. Nginformasiin kalau gue bisa tidur dirumahnya, jadi pacet selama beberapa hari disana, padahal, gue udah membayangkan malam-malam Surabaya yang pengap dipeluk nyamuk-nyamuk binal dan kecoak-kecoak jahanam yang siap merebut keperjakaan gue, entah itu di Mushola atau kelurahan terdekat. Sungkan iya, enggan ya enggak dong, 24 jam bisa ngeliat wajah my brown sugar kapanpun gue mau, tempting total itu sih. Akhirnya mengiyakan, walau harus dipaksa dengan ancaman-ancaman sadis terlebih dulu.
Dan?
Gue turun dari kereta, malam Surabaya yang gelap *yaeyalah*, gedung stasiun penuh ornamen jawi dan logat serta bahasa yang asing, gue kembali duduk di salah satu pelataran, ditemani temaram layar handphone dan letupan asap tebal dari sebatang kretek mengawang di sekitar gue. Tebal, tebal khawatir, tebal yang nggak sabar, tebal yang penasaran. Di satu sisi gue khawatir dengan keadannya, seperti apa dia dan gue berdoa sekeras-kerasnya supaya dia masih bisa melangkah di atas kedua kakinya dengan bugar. Di sisi lain, gue seneng setengah mati, cita-cita jangka pendek gue bisa tercapai lebih awal dari dugaan, bertemu perempuan idaman gue yang mengganjal mata dan hati beberapa minggu kebelakang, seneng? Pasti, girang? Apalagi.
Dan waktu berputar semakin lambat, apalagi sewaktu gue ngeliat dia berjalan dari pelataran parkiran ke arah stasiun. Pelan, serasa nyaris berhenti, seolah gue memberikan perintah sporadis kepada otak gue untuk mengabadikan momen ini sebaik-baiknya, 10 megapixel, 3mb persekon kualitas gambar supaya bisa gue inget dengan kualitas blue ray kapanpun gue mau. Dan jadilah.. “kamu yang baru aja masuk ke peron? Saya udah diluar.” :| yea, dia lupa bagaimana bentuk muka gue apalagi badan, jadilah dia ngeloyor tanpa memberikan sebatas-bahkan lirikan pada gue yang mungkin lagi ketutupan kabut karbondioksid.
Gue samperin, sapa, dan melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki, masih segar di ingatan, masih tetap cantik sebagaimana memori gue menyimpannya beberapa bulan lalu, masih dengan tubuh yang terlihat ringkih, namun ketenangan yang dijamin mutu kalau seorang body builder seberat 210 kilogram nggak akan bisa membuat dia bergidik barang setitik, pesona itu, wibawa itu, masih sama. Walaupun ingin mengarah kepada penilaian akan nostalgi keadaan sebelum sesudah, tapi tetep, gue nggak bisa menampik alasan apa yang membuat gue berada sekian ratus kilometer dari kosan gue yang dingin luar binasa itu. Makanya, gue cek tangannya yang mungil kecil itu, bersih, gue tanya-tanya berentet sedikit sarap soal “ngapain semalem? Ngapain? Blalalala.” Yang dijawab dengan cengiran seduktif yang membuat gue membuang muka menangkis serangan maut tersebut. “nanti aja.”
Know whud? Gue minder, ya gimana enggak? Kalau tampilan gue aja sebelas duabelas sama tukang tambal ban pinggir jalan yang diusir istrinya karena nggak bisa bikin ngebul dapur. Diperparah dengan muka kusut pangkat lecek dikali belum mandi dan berakar rambut masih gondrong nglewer-lewer turn off. Blah.. Kalau di post sebelumnya dia berusaha keliatan cantik pas jemput gue, bener banget, total, kalau gue nggak pake kacamata, bisa buta gue saking cantiknya *lebay nying*. Beauty and the Beast, kalimat padu yang diamini kami berdua :|
Awkward? Yea, siapa yang enggak kalau ketemu cewek cakep yang belum pernah liat lo secara langsung. Takut? Tentu, apa kabar kalau misalkan reaksi yang muncul adalah reaksi yang paling gue nggak harapkan dari seorang yang gue suka? Pernah dan rasanya ue ue ue. Grogi? Jelas. Dan gue mau koprol depan disaat tiba-tiba dia bilang, “kok gak digandeng?” dan jantung gue geser ke lambung, gue pun gandeng. Hampir sampai di parkiran, tiba-tiba barista lutju ini berbicara lagi setelah beberapa meter bisu, “kok aku nggak dipeluk?” pakek basa londo pulak, dan jantung gue kabur lewat leher, nggak kuat nerima arus deres adrenalin yang tiba-tiba nyembur kayak kuda ejakulasi. Oh oke, gue pun peluk, dan yea, rasanya biasa aja sih, nggak kenapa-napa, santai, rileks, cuek, pokoknya nggak kenapa-napa, titik. Beneran, gue nggak grogi gak gimana kok, beneran deh, suwer, serius, demi deh. (note: dua kalimat terakhir itu dusta besar, yang riilnya? Balik aja makna kalimat-kalimat tersebut)
Lega? Yea. Gue nggak ditolak, syukur dunia akherat.
Sedikit cekcok di parkiran, dan gue pun menampar hasrat dominatriks gue dan membiarkan sisi matjho garang gue minggir nyemplung ke kali. Yeah.. gue dibonceng, matilah. Dibonceng cewe kurus tipis. Ngga apa-apa deh, seenggaknya bisa peluk :”>
Bersambung (juga).
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment