Sumpeh, ane vingung khalo ngetik engghak vhake rhogok.
Rokok itu sangat membantu gue, beneran. Selain membantu menghilangkan anxiety gue yang berlebihan di tempat umum, benda sepanjang 9 sentimeter ini juga sangat membantu gue dalam berbicara. Ngobrol. Apalagi ketika membahasa sesuatu yang pake kepala, atau mungkin dalam kesempatan lain, hati. Punya sesuatu yang bisa dikerjakan, dikonsumsi tanpa harus menganggu otot mulut bekerja itu sangat mengalihkan gue dari emosi. Mungkin sugestif, tapi andaikan iya pun, toh memang membantu, makanya cuek.
Apa misal? Kemarin nih, gue disidang sama orang-orang rumah, dan itu kali pertamanya gue minta ke mereka untuk diizinkan ngerokok, dalam rumah, ruang keluarga. Haha. Tapi tentunya dengan kipas angin rotasi maksimal menerpa muka gue dan jendela. Kenapa? Gue nggak yakin bisa menghindari amarah saat itu, jadinya ya mendingan gue melakukan pencegahan dengan menjepit batang tembakau di kedua jari gue ini. Dan hasilnya kawan? Sukses, amarah memang ada, di hati, panas, menggelegak berontak minta dikeluarkan, tapi syukurnya enggak. Antara diselamatkan rokok, atau gue mulai menyadarkan diri lebih hebat lagi kalau ngamuk seperti itu fitrahnya cuma buat gue, gue doang yang lega,tapi orang lain ya ngeri total. Uhuk.
Sekarang gue ngerokok djarum super instead of wismilak, ga dapet oy.
Apa ya?
Gue pengen deh ngobrol sama My Love sambil ngerokok. Pasti bisa lebih santai, lebih rileks, karena kecemasan itu gangguan paling menyebalkan buat gue, dan iya, gue masih bisa loh grogi sama pacar sendiri. Aneh? Enggak. Justru wajar, kan groginya sama orang yang punya posisi paling tinggi di hati gue, katakanlah, grogi itu apresiasi. Ngaco. Hueh. Jadi kangen.
Apalagi ribut yang kemaren. Cukup besar, cukup membahayakan. Walaupun sempet pasrah, tapi syukurnya semua menjadi baik, bahkan mungkin lebih baik dari sebelumnya. Hehe. Buat gue nggak ada yang namanya masa ‘jinak-jinak merpati’, ngga ada yang namanya masa pembentukan awal sebuah hubungan itu isinya yang seneng-seneng doang. Namanya juga pembentukan, penyesuaian yang mungkin jika itu dikaitkan dengan gue sebagai pelaku, jadinya malah penyesuaian yang kebablasan. Karena, pada dasarnya gue bukan orang yang cocok punya tautan.
Besar-besaran deh makanya.
Pengen gue ngobrolin masalah kemaren itu secara langsung, kita bedua duduk di sofa Coffee Corner (iya sofa, seenggaknya posisi yang dia nyaman deh walau gue gasuka.) Kopi dan makanan tersaji menggoda, gue dengan Americano tanpa gula yang biasa, Nanda dengan CafĂ© Mocha nya, cemilan-cemilan kecil dan segelas air dingin yang dibagi berdua. Gue merokok dengan impulsif, menatap dia dengan senyuman getir tertahan. Sementara Nanda bermuka jutek bete yang jelas-jelas ada tulisan di jidatnya: “Puhlease deh, godain gue, colek gue, jangan diem aja dengan muka sok begok elo, cuuk!” berlangsung lama demikian sampai akhirnya ada yang lelah duluan menahan beban berat kebisuan kolektif itu.
Ngobrol panjang, sedikit tarik urat, nada tinggi yang mungkin kelepasan tanpa bermaksud begitu, keheningan yang kembali menjalar, dan perbincangan lagi. Rotasi interaksi yang terus berulang sampai kita berdua lelah ngulangnya. Pelanggan-pelanggan lain juga udah mulai pulang, terlarut malam. Gue sama Nanda bolak-balik melihat jam, sadar akan waktu dan harus pulang tapi nggak ingin, masih ada yang harus diselesaikan. Tapi apa? Masalah yang nggak jelas juntrungan asal musababnya ini hanya bikin capek, sampai bingung harus mulai darimana. Lelah. Fisik dan mental. Sampai akhirnya akan ada salah satu yang mengatakan yang nggak bisa dikatakan, kalimat sederhana simpel yang membuat semuanya menjadi baik, dengan magis.
“I love you, baikan yuk..”
“Mana bibirnya.. sini..”
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment