RSS FEED

Bercak

Belum tandas badan gw dikunyah springbed, dan belum jauh nyeri-nyeri nan ngilu meninggalkan daging dan persendian, dan gw masih belum mau percaya kalau gw balik lagi di Surabaya--sendiri. Njing, sumpah gw nangis ngetik ini.


Dibanding segala melankolia yang pernah gw laluin, dri yang paling sarap sampai yang paling sehat, bagian kek gini selalu kill me instead. Waktu beranjak jadi musuh paling ababil, yang kadang bikin lupa, kadang bikin pingin jerit nangis, kadang ngajak damai, kadang nyulut berantem. 5 hari untuk tiap tiga bulan itu siksaan paling manjur bikin otak ga waras.


Tulisan ini juelek, parah, ga pake mikir dan ogah ngedit kalau kelar nanti, plus, sebagai siraman penghilang gersang dari hari-hari disleksia atas ke-non-aktifan gw ngeblog. Maaf untuk Hani, yang pasti menunggu cukup lama sampai sebuah telur keluar dari kepala gw--ujug-ujug setengah busuk kek gini. Too much love kills me.


Gw ga mau nulis soal apa yang udah gw lewatin di Bandung, karena... kalau gw tulis, laptop banjir ingus dan tangis. Malu, ada Dinda pula di sini. Jadi dipending untuk lain kali, toh tulisan gw lagi ga konstruktif, ga kompositif, ga kualitas. Jangan sampai moment-moment sakral nan manis sadis itu rusak gegara isinya gw tulis ngasal, ga makna, ga jadi sejarah. Terus kenapa ini gw terus nulis? Apa yang pingin gw utarakan? Entahlah. Mungkin kalo bisa liat muka gw in real, siapapun bakal tahu kalo gw lagi terpendam deeply in shit, di satu sisi kerjaan kantor gw buang, di sisi lain mo nulis buat editorial aja ga kelar-kelar. Demi apapun, gw gay banget.


Pukul 11.05 waktu laptop. Ga sanggup rampungin kerjaan dan ga tega bangunin Hani yang tadi sempet pamit tidur sebentar. Sungguh telinga gw ga akan terbiasa dengan batuknya, dan hati gw pun keiris-iris sakit, nyeri, dan ikut berdarah kalo inget gw ga bisa apa-apa saat Hani sakit kek gini. Hani, if you read this, I love you. Pasti bosen dengernya ya? Terus gimana dong?


Galau ternyata sakit ya.


Dan Efek Rumah Kaca ini band paling gay yang pernah gw denger. Mampus sana. Jangan bikin makin banjir dong :((

Melankolia
Music : Efek Rumah Kaca

Tersungkur di sisa malam
Kosong dan rendah gairah

Puisi yang romantik
Menetes dari bibir

Murung itu sungguh indah
Melambatkan butir darah

Nikmatilah saja kegundahan ini
Segala denyutnya yang merobek sepi

Kelesuan ini jangan lekas pergi
Aku menyelami sampai lelah hati

Efek Rumah Kaca - Melankolia.mp3

Akan Baik Pada Saatnya

Sumpeh, ane vingung khalo ngetik engghak vhake rhogok.

Rokok itu sangat membantu gue, beneran. Selain membantu menghilangkan anxiety gue yang berlebihan di tempat umum, benda sepanjang 9 sentimeter ini juga sangat membantu gue dalam berbicara. Ngobrol. Apalagi ketika membahasa sesuatu yang pake kepala, atau mungkin dalam kesempatan lain, hati. Punya sesuatu yang bisa dikerjakan, dikonsumsi tanpa harus menganggu otot mulut bekerja itu sangat mengalihkan gue dari emosi. Mungkin sugestif, tapi andaikan iya pun, toh memang membantu, makanya cuek.

Apa misal? Kemarin nih, gue disidang sama orang-orang rumah, dan itu kali pertamanya gue minta ke mereka untuk diizinkan ngerokok, dalam rumah, ruang keluarga. Haha. Tapi tentunya dengan kipas angin rotasi maksimal menerpa muka gue dan jendela. Kenapa? Gue nggak yakin bisa menghindari amarah saat itu, jadinya ya mendingan gue melakukan pencegahan dengan menjepit batang tembakau di kedua jari gue ini. Dan hasilnya kawan? Sukses, amarah memang ada, di hati, panas, menggelegak berontak minta dikeluarkan, tapi syukurnya enggak. Antara diselamatkan rokok, atau gue mulai menyadarkan diri lebih hebat lagi kalau ngamuk seperti itu fitrahnya cuma buat gue, gue doang yang lega,tapi orang lain ya ngeri total. Uhuk.

Sekarang gue ngerokok djarum super instead of wismilak, ga dapet oy.

Apa ya?

Gue pengen deh ngobrol sama My Love sambil ngerokok. Pasti bisa lebih santai, lebih rileks, karena kecemasan itu gangguan paling menyebalkan buat gue, dan iya, gue masih bisa loh grogi sama pacar sendiri. Aneh? Enggak. Justru wajar, kan groginya sama orang yang punya posisi paling tinggi di hati gue, katakanlah, grogi itu apresiasi. Ngaco. Hueh. Jadi kangen.

Apalagi ribut yang kemaren. Cukup besar, cukup membahayakan. Walaupun sempet pasrah, tapi syukurnya semua menjadi baik, bahkan mungkin lebih baik dari sebelumnya. Hehe. Buat gue nggak ada yang namanya masa ‘jinak-jinak merpati’, ngga ada yang namanya masa pembentukan awal sebuah hubungan itu isinya yang seneng-seneng doang. Namanya juga pembentukan, penyesuaian yang mungkin jika itu dikaitkan dengan gue sebagai pelaku, jadinya malah penyesuaian yang kebablasan. Karena, pada dasarnya gue bukan orang yang cocok punya tautan.

Besar-besaran deh makanya.

Pengen gue ngobrolin masalah kemaren itu secara langsung, kita bedua duduk di sofa Coffee Corner (iya sofa, seenggaknya posisi yang dia nyaman deh walau gue gasuka.) Kopi dan makanan tersaji menggoda, gue dengan Americano tanpa gula yang biasa, Nanda dengan CafĂ© Mocha nya, cemilan-cemilan kecil dan segelas air dingin yang dibagi berdua. Gue merokok dengan impulsif, menatap dia dengan senyuman getir tertahan. Sementara Nanda bermuka jutek bete yang jelas-jelas ada tulisan di jidatnya: “Puhlease deh, godain gue, colek gue, jangan diem aja dengan muka sok begok elo, cuuk!” berlangsung lama demikian sampai akhirnya ada yang lelah duluan menahan beban berat kebisuan kolektif itu.

Ngobrol panjang, sedikit tarik urat, nada tinggi yang mungkin kelepasan tanpa bermaksud begitu, keheningan yang kembali menjalar, dan perbincangan lagi. Rotasi interaksi yang terus berulang sampai kita berdua lelah ngulangnya. Pelanggan-pelanggan lain juga udah mulai pulang, terlarut malam. Gue sama Nanda bolak-balik melihat jam, sadar akan waktu dan harus pulang tapi nggak ingin, masih ada yang harus diselesaikan. Tapi apa? Masalah yang nggak jelas juntrungan asal musababnya ini hanya bikin capek, sampai bingung harus mulai darimana. Lelah. Fisik dan mental. Sampai akhirnya akan ada salah satu yang mengatakan yang nggak bisa dikatakan, kalimat sederhana simpel yang membuat semuanya menjadi baik, dengan magis.

“I love you, baikan yuk..”

“Mana bibirnya.. sini..”

Minta? Beli Aja Sendiri.

Gue males meminta, gue males punya harapan, gue males berekspektasi. Kenapa? Karena nggak semua hal yang kita inginin orang lain untuk lakuin itu bisa dikabulin, diamini atau dilakukan. Faktor macem-macem, kondisional yang emang nggak memungkinkan untuk dikabulin atau emang sekedar gak mau ngabulin. Buat gue sama aja, sama-sama ditolak intinya, dan oh Tuhan segala Demit dan Lelembut paling buruk rupa di Dunia dan Akherat, nggak dikabulin buat gue itu sama kayak nyuruh gue melek kontinyu beberapa hari berturut-turut.

Makanya, enakan ngasih, masa bodo terus-terusan, masa bodo mau dibilang manjain atau apalah namanya. Yang penting nggak usah ada kata kecewanya, nggak usah ada kata gondoknya, nggak usah ada kata takut untuk ditolaknya, ngerasa worthless.
Return top