RSS FEED

Blah..

This is Pitiful Speaking

Kepala gue pusing. Kebanyakan makan kali ya?

Apa yang terlintas di kepala gue kalau melihat dua posting dibawah? Banyak, nggak terdeskripsikan kalau-kalau disuruh menjelaskan, walaupun syukurnya kebanyakan adalah emosi positif. Gue terharu karena apa yang gue lakuin udah bisa membuat my love tergerak untuk melakukan perubahan walau sedikit, gue terbahak ketika entah kenapa nama adik gue tercinta itu di mention berapa kali di dua post tersebut, dan gue manyun ketika gue berpikiran, “apa gue pantes?”

Mengesampingkan hasrat dominatrix gue yang mengumbar kemana-mana, rasa sayang yang gue berikan dengan kadar yang bisa bikin sesak paru-paru, dan rasa cinta yang gue terima dari my lovely javanesse sugar yang saking manisnya bisa membuat kopi pait gue berasa caramel machiatto. Tetep, salah satu sifat dasar gue yang paling bikin diri gue sendiri enek bin mual, pesimis dan pasrah. Yeah. Sejauh apapun gue melangkah, yang namanya bayangan jelek selalu mengawang di sekitar pikiran gue, berbentuk kabut yang bahkan saking tebalnya sampai menutupi mata gue sampai jarak pandang tertentu. Pantes gitu gue jalan sama dia? Dia cantik, gue bersisik, dia stabil gue labil, dia matang gue masih nyangkut di pohon. Dan kalau mau dipanjangin, gue bisa nulis empat paragraf padu cuma untuk ngebanding-bandingin gue dalam tata bahasa kancut sama dia, bahkan mantan-mantannya. Such a waste.

Hal ini juga yang membuat gue beberapa hari lalu, disaat ada gath IH di Bandung, bertanya pertanyaan spontan plus konyol kepada salah seorang yang dateng. Ayu, tiba-tiba tanpa tedeng aling-aling, gue nanya begini. “Yu, kalau misalkan lo punya pacar berondong, masih kuliah, sementara lo udah kerja, mapan, dan si berondong ini minder sama si pacar, secara dia masih kuliah dan masih ngelintah sama orang tuanya, kira-kira apa yang bakalan lo lakuin untuk ngebuat dia ngerasa lebih baik?” Oke, konyol. Dan tentunya dijawab dengan cukup baik.

Nggak usah mikirin kalau misalkan orang lain nggak mikirin, apalagi kalau orangtuanya nggak mempermasalahkan, nggak ada yang harus diminderin. Jadikan mindernya sebuah pecutan, katanya, kalau sekarang gue nganggepnya masih dibawah dia soal pendapatan and blah blah, maka suatu saat gue harus nyamain dan bahkan melebihi, motivasi? He eh. Terus, toh perbedaan yang sekarang gue dan dia alami ini disebabkan karena kebetulan my love lahir 5 tahun lebih dulu, bukan salah gue juga kalau masih belum bisa berdikari sekarang :p *pengalesan*. Yea, tau sih, gue ngerti dan paham, mungkin gue cuma pengen nyari pembenaran,mungkin gue cuma pengen ngobrol di sela-sela obrolan yang semakin beranjak basi dan gue terdiam bagai patung ganesha? Dunno.

I love her, it’s a dot.

My cutest barista once told me, kenapa sih, bisa sebegitu sayangnya sama gue? Yang dijawab dengan “Got the best boyfriend ever.” Yea, gue seneng, nggak bisa berhenti nyengir, untung sendirian, kalau rame udah dirante dan digiring ke yayasan mental terdekat kali. Tetep tapi.. suramnya, nguk.

0 komentar:

Post a Comment

Return top