Hehe, akhirnya bikin post di sini karena gundah yang ga tau mau disalurkan ke sebelah mana. Satu sisi, gw pingin muntah, sisi lain saking marahnya sampe gw diem aja. Padahal gw terkenal destruktif kalo ngamuk, tapi entah, rasanya saking kerasnya berusaha ga marah, gw malah diem aja. Hai dear, if you were there, read this thing—don’t believe in every word I type, biasanya kalo lagi marah bukan otak yang bicara, tapi emosi. Sama halnya waktu kita bertengkar di telfon, please don’t mind of this. Aku cuma berusaha melepas apa yang ga bisa kusalurkan dengan nunjek wajah mama. Hahaha, syiiiitttt. Like I could aja nunjek muka segala.
Kalo mau nyalahin masa lalu dan masalah bakal kelar, maka gw akan terus-terusin nyalahin kebegoan yang pernah gw lakuin sama Nash. Iya bego, bego ketahuan gituan, bego pake bawa-bawa ortu ke masalah perkelaminan, bego sampe gw setengah gila dan hampir tinggal nama di nisan. Kalau udah tahap itu, dan orang tua gw ga tau, apa ya… istilah Jawanya ‘kebacut’.
Gw ngomong apa sih, gueje.
Iya, Nash alias Muhammad Iqbal Javi adalah duri dalam otak yang gw kira ga mungkin bisa sembuh. Gw ga bisa maju sama Azmi, atau ga bisa ngeiyain ajakan pacaran si emaknya Dino sama anaknya gara-gara empat huruf brengsek yang gw ciptakan sendiri. Betapa tiga tahun itu kesia-siaan tahap akut yang ternyata baru gw sadarin sekarang. You’ve changed me, a lot, more than anyone could this far. And yet I thank God for you, for everything we have today, and everything we’ll seek.
Inti masalahnya, traumatic. Trauma, tapi bukan gwnya—ortu gw bo’. Iya dulu gw trauma, sampai bisu tiga bulan, sampai berangkat ke Jogja demi berada di kota dan menghirup udara yang sama dengan Nash di jarak yang kurang dari 10 kilometer. Dan seolah belum puas, gw saking traumanya sampai ga bisa ngeliat sapa-sapa yang udah deketin gw, membangun tembok nan kokoh tinggi menjulang bahkan buat siapapun yang sekedar pingin melihat. Trust me, kalau kamu datang sebelum Azmi, yang kamu dapet dari aku cuma sakit hati (kalo kamu berminat sama aku sih).
Gw ga inget gimana caranya tuh revisi skripsi lolos, atau test TOEFL gw above advance dengan keadaan gw masih bisu, ga berani keluar kamar (dan seinget gw, Henny sampe nyewa mobil njemput gw demi bawa gw berangkat kampus ngasih revisi dan ujian Toefl), dan yang jelas—otak tercecer. Saking takutnya, gw sampe pake surat-suratan sama mama papa dinda sebagai ganti gw ngomong apa. Saking takutnya, keluar rumah aja gw langsung histeris. Saking takutnya, gw ga mau terima telfon siapapun—termasuk dosen gw yang sengaja nelfon biar gw bangkit lagi. Gw berhenti bereaksi, dan hanya menerima reaksi. Gw ga pernah nulis surat buat siapapun, mereka yang nulis surat. Gw ga pernah telfon, mereka yang telfon di loudspeaker dan gw sekedar mendengarkan nasehat, wejangan, semangat, blabla itu. Hari-hari berlalu dengan gw ngeringkuk di kamar mama dan cuma keluar kalo gw butuh ke kamar mandi. Dengan keadaan itu, gimana ortu ga nyadar kalo memang terjadi sesuatu yang ‘lebih’ di antara gw dan Nash? Ortu dongo kalo ga kerasa itu mah.
Lha terus?
Haha, sudah sampe sini dan hati gw suruh berhenti nulis. Ini kampretos. Aku tahu kamu pasti khawatir baca post separuh nyawa kek gini, dan aku belum menjelaskan apa-apa tentang sesuatu yang bikin aku marah. Entahlah dear, aku ngerasa berbeda selama bersamamu. Aku jadi sering impulsive, tapi kutelan lagi apapun itu. Seringnya kamu yang sebel dan bilang, “Bilang aja sampe kelar. Kamu pacarku dan aku pacarmu, seamis apapun masalah itu toh ga menghentikanku untuk pingin tahu.” Yap. Bahkan sekarangpun aku bisa bayangin suara kamu ngomong gitu. “Nandaaaa, keluarin, cepet, atau mau aku marah?” Hehe, the thing is—untuk yang ini rasanya lebih baik kutelan sendiri.
Oke, ga lega sama sekali. Uwaaahhhh. Jari langsung gatel pingin jepit sesuatu dan nyulut di depan bibirku. Mungkin segalanya lebih baik dengan itu, hmm, nyedot aspal dilinting.
Maaf, dear.
Dan Saat Tangan-tangan Kami Saling Bertaut Hangat
- 1:43 PM
- Write comment
Prejudice itu rugi. Dan gue rugi. Gue selalu membayangkan Surabaya sebagaimana diceritakan orang dan kabar angin yang berhembus semilir, Surabaya itu puannas! Pengap! Tapi toh salah, nggak semengerikan mindset yang udah terbentuk menahun. Kuda besi melaju, pangerannya kecil, kurus, lesu, sekali lihat mungkin akan mengira gampang doyong ketiup angin. Sang putrinya ageng, besuar, dan wajah yang terlalu banyak suntikan steroid hingga terlihat sangat macho, makanya, fail. Seperti yang gue sebut sebelumnya, gue dibonceng, rancu, ragu, nggak enak baik hati maupun harga diri, terasa dorongan nyemplung ke sumur meningkat ingin melarikan diri, tapi mungkin nggak ada salahnya kalau sesekali.
Malam Surabaya sejuk, angin gelebug sesekali menepuk leher yang terlalu lama kaku dipakai duduk. Pemandangan tenang, beberapa kali terlihat banyak anak muda di tempat-tempat tertentu yang nampak diamini sebagai tempat nongkrong kolektif. Jalanan lengang, entah karena memang hari merah, atau mungkin dewi jalanan lagi berpihak pada kami yang udah nggak tahan melampiaskan rasa kangen kelewat rindu #dueh. Bisu, sesekali basa-basi ragu, ingin berbicara satu dua hal tapi ngeri malah menjadi gagu, gak lucu kalau-kalau dia mendapatkan kesan pertama gugupan tercetak bold di jidat gue dong. Bicara itu verbal, kadang komplementer kadang substitusi sama non verbal, gue memilih subtitusi sebagai fungsi, maka, gue peluk dari belakang badan mungilnya, mungil. Kalau ada tiga orang Nanda, dijamin masuk semua. Disaat itu gue sadar, dominatriks nggak harus dibelakang setir.
Serasa mimpi, tapi gue tau ini nyata, soalnya pas meluk sakit kepentok tulang.
*duakk*
Gue memilih warteg ketimbang resto, gue memilih motor ketimbang mobil, dan gue memilih warkop ketimbang café—walau sesekali gue mengamini ajakan kesana demi tali yang dinamakan pertemanan. Makanya, ketika gue mendengar nama destinasi yang akan kita tuju, rada pesimis, gue langsung cek, apa rokok gue cukup? Apa tampilan gue sendiri udah cukup bikin gue nyaman? Dan.. apa gue siap keliatan seperti bromocorah kecelup Versace? Karena, jika sesuai dugaan, pasti gue bakalan berwajah kayak abis disetubuhi lelembut. Dan syukurnya, nggak. Tempatnya nggak seglamour yang gue kira dan masih ada ‘rumah’nya sebagai konsep, lega, ditoleransi, dan mungkin lebih ke arah anggukan pengaminan. Dan my lovely brown sugar? Gue nggak bisa melepaskan pandangan dari dia, barang sedetik, terkesan gombal dan penajisan jamaah dari yang ngebaca, tapi sayangnya, itu nyata baik literal maupun metafor.
Perut lapar, kepala saking pusingnya sampai gue meminta digampar pake carvil, dan kaki pun melangkah masuk. Nanda familiar, gue asing. Satu Coffee corner bagai disihir, seorang perempuan dateng dan semua mata langsung tertuju padanya. Dan bukan pandangan biasa, heran setengah takjub, bibir menganga setitik terperangah, respon ajaib yang muncul kalau perempuan ini sudah melakukan salah satu dari tujuh dosa besar. Sedikit merasa, karena ada gue, karena si manis bawa cowok? Mungkin. Nanda menyapa kanan kiri, gue antara menunduk dan tersenyum getir, sekedar balasan sebatas lengkung penghormatan. Ada satu titik, dimana gue merasa ada sesuatu yang aneh. Markas tersembunyi yang sayangnya di depannya jelas-jelas ditulis “rahasia”, sama aja boong. Dan beberapa saat kemudian setelah diverifikasi, bener. Heu. Si cipika-cipiki mantan affair valentine, guk.
“Disana?”
Gue menolak, berkenaan dengan tempat duduk, gue menafikkan sofa dan coffee tablenya walaupun gue minum kopi kayak minum susu, my love tau kenapa. Sofa dan coffee table nggak cocok sama gue, yang menjadikan jarak adalah hal yang penting dalam sebuah obrolan, ketika gue di sofa, dengan adanya kemungkinan gue bakalan bisa senderan, itu berarti gue menjauhkan jarak obrolan dong, nggak mau. Sementara ketika gue maksa untukk memajukan tubuh, kaki gue yang kepanjangan bakal ngebuat gue keliatan jongkok, nggak ergonomis. Ah kawan, itu cuma alibi belaka, intinya sih, gue milih meja dan kursi konvensional karena emang pengen lebih deket aja sama si Nanda :3. Yea, walau dengan situasi dan kondisi yang berbeda, sofa memang lebih mendekatkan, sampai gak ada jarak malah. Eaa..
Duduk, badan dinyamankan, menu datang dan pilihan dijatuhkan, 3 jenis kopi yang berbeda, dua jenis makanan yang berlainan. Kami ngobrol, dari sekedar prolog nggak perlu, sampai ke tahapan yang bisa bikin NWO berdecak kagum saking konspiratif apa yang kami bicarakan *halah* Gue menikmati waktu-waktu itu, dari kopi sampai tempat, terutama dia. Hal-hal seperti makanan, tempat, kemana dan mau apa itu trivial buat gue, hampir nggak ada artinya, andaikan cocok, enak, dan fun itu hanya sekedar tambahan, ekstra. Apa yang penting? Buat gue, dengan siapa lo menjalani itu semua. Dan dengan Nanda? Singkirkan semua yang ada di meja gue, dan gantikan dengan dia yang tersenyum semanis gula aren, itu aja gue udah ngutang.
Detail bergulir, kalimat demi kalimat terjalin panjang membentuk paragraf yang semakin lama beralih menjadi sebuah wacana. Gue mendengar sesekali berbicara, kadang menjelaskan, dia tertawa, dia mendengar dan sesekali mencium. Ciuman tipis minim gestur tapi terlalu menumpuk makna akan maksud dan kausal. Satu ciuman efeknya psikoaktif. Kata berhenti, gerakkan terhambat, endorphin menggelegak dan darah terasa deras mengalir, dan jangan ngeres, nggak deres mengalir ke penis, percaya aja. Gue defensif bukan penolakan, defensif karena pertahanan gue dalam kata, dalam postur, dalam kebanggaan gue sebagai seseorang terlahir lelaki runtuh dihantam sebuah kejujuran. Gue mengutuk topeng, jaimlogy dan tetek bengek munafikisme, ketika gue malu tentu buat apa ditutupi, malu itu kadang berefek apresiasi, kepada orang yang kalian sayang, bahwa mereka punya efek besar buat kalian.
Orang memandang pedas, beberapa getir tertahan, dan sedikitnya agak mau tahu. Tindakan dia bukan hal yang bisa gue balas dengan tindakan, mungkin bisa, dan mungkin seri. Tapi bukan itu, gue mengincar hook kiri setajam silet ketika dia lengah terlalu lebar mengambil straight, cross counter pamungkas Hollyfied yang menjatuhkan De La Hoya beberapa tahun lampau di Caesar Pallace. Itu. Gue bercerita sedikit, twist mengelak yang bermaksud sad ending tapi mengarah lain. Dia terpancing dan kalimat yang sejujurnya membuat lidah gue kelu beberapa saat akhirnya keluar.
*Blam*
Dijawab deh.
The End.
Kidding.
But Seriously.
Naaaaa aa…
Gue memandang dia, dalam diam, khusyuk. Berusaha mengabadikan momen-momen itu sebagai hal manis yang nggak akan gue lupa, sebagai senjata sakti yang bisa melupakan tetes-tetes amarah gue di masa nanti, bahwa, gue pernah melihat perempuan yang begitu manisnya sampai Americano gue berasa dicemplungin lima sendok gula, dan gue baru saja memenangkan hati perempuan ini. Nggak mudah, banyak yang harus dibayar, banyak yang harus ditebus, dan dikorbankan, tapi setimpal dan malah surplus.
“Pulang yuk.”
I love you, it’s a dot.
Malam Surabaya sejuk, angin gelebug sesekali menepuk leher yang terlalu lama kaku dipakai duduk. Pemandangan tenang, beberapa kali terlihat banyak anak muda di tempat-tempat tertentu yang nampak diamini sebagai tempat nongkrong kolektif. Jalanan lengang, entah karena memang hari merah, atau mungkin dewi jalanan lagi berpihak pada kami yang udah nggak tahan melampiaskan rasa kangen kelewat rindu #dueh. Bisu, sesekali basa-basi ragu, ingin berbicara satu dua hal tapi ngeri malah menjadi gagu, gak lucu kalau-kalau dia mendapatkan kesan pertama gugupan tercetak bold di jidat gue dong. Bicara itu verbal, kadang komplementer kadang substitusi sama non verbal, gue memilih subtitusi sebagai fungsi, maka, gue peluk dari belakang badan mungilnya, mungil. Kalau ada tiga orang Nanda, dijamin masuk semua. Disaat itu gue sadar, dominatriks nggak harus dibelakang setir.
Serasa mimpi, tapi gue tau ini nyata, soalnya pas meluk sakit kepentok tulang.
*duakk*
Gue memilih warteg ketimbang resto, gue memilih motor ketimbang mobil, dan gue memilih warkop ketimbang café—walau sesekali gue mengamini ajakan kesana demi tali yang dinamakan pertemanan. Makanya, ketika gue mendengar nama destinasi yang akan kita tuju, rada pesimis, gue langsung cek, apa rokok gue cukup? Apa tampilan gue sendiri udah cukup bikin gue nyaman? Dan.. apa gue siap keliatan seperti bromocorah kecelup Versace? Karena, jika sesuai dugaan, pasti gue bakalan berwajah kayak abis disetubuhi lelembut. Dan syukurnya, nggak. Tempatnya nggak seglamour yang gue kira dan masih ada ‘rumah’nya sebagai konsep, lega, ditoleransi, dan mungkin lebih ke arah anggukan pengaminan. Dan my lovely brown sugar? Gue nggak bisa melepaskan pandangan dari dia, barang sedetik, terkesan gombal dan penajisan jamaah dari yang ngebaca, tapi sayangnya, itu nyata baik literal maupun metafor.
Perut lapar, kepala saking pusingnya sampai gue meminta digampar pake carvil, dan kaki pun melangkah masuk. Nanda familiar, gue asing. Satu Coffee corner bagai disihir, seorang perempuan dateng dan semua mata langsung tertuju padanya. Dan bukan pandangan biasa, heran setengah takjub, bibir menganga setitik terperangah, respon ajaib yang muncul kalau perempuan ini sudah melakukan salah satu dari tujuh dosa besar. Sedikit merasa, karena ada gue, karena si manis bawa cowok? Mungkin. Nanda menyapa kanan kiri, gue antara menunduk dan tersenyum getir, sekedar balasan sebatas lengkung penghormatan. Ada satu titik, dimana gue merasa ada sesuatu yang aneh. Markas tersembunyi yang sayangnya di depannya jelas-jelas ditulis “rahasia”, sama aja boong. Dan beberapa saat kemudian setelah diverifikasi, bener. Heu. Si cipika-cipiki mantan affair valentine, guk.
“Disana?”
Gue menolak, berkenaan dengan tempat duduk, gue menafikkan sofa dan coffee tablenya walaupun gue minum kopi kayak minum susu, my love tau kenapa. Sofa dan coffee table nggak cocok sama gue, yang menjadikan jarak adalah hal yang penting dalam sebuah obrolan, ketika gue di sofa, dengan adanya kemungkinan gue bakalan bisa senderan, itu berarti gue menjauhkan jarak obrolan dong, nggak mau. Sementara ketika gue maksa untukk memajukan tubuh, kaki gue yang kepanjangan bakal ngebuat gue keliatan jongkok, nggak ergonomis. Ah kawan, itu cuma alibi belaka, intinya sih, gue milih meja dan kursi konvensional karena emang pengen lebih deket aja sama si Nanda :3. Yea, walau dengan situasi dan kondisi yang berbeda, sofa memang lebih mendekatkan, sampai gak ada jarak malah. Eaa..
Duduk, badan dinyamankan, menu datang dan pilihan dijatuhkan, 3 jenis kopi yang berbeda, dua jenis makanan yang berlainan. Kami ngobrol, dari sekedar prolog nggak perlu, sampai ke tahapan yang bisa bikin NWO berdecak kagum saking konspiratif apa yang kami bicarakan *halah* Gue menikmati waktu-waktu itu, dari kopi sampai tempat, terutama dia. Hal-hal seperti makanan, tempat, kemana dan mau apa itu trivial buat gue, hampir nggak ada artinya, andaikan cocok, enak, dan fun itu hanya sekedar tambahan, ekstra. Apa yang penting? Buat gue, dengan siapa lo menjalani itu semua. Dan dengan Nanda? Singkirkan semua yang ada di meja gue, dan gantikan dengan dia yang tersenyum semanis gula aren, itu aja gue udah ngutang.
Detail bergulir, kalimat demi kalimat terjalin panjang membentuk paragraf yang semakin lama beralih menjadi sebuah wacana. Gue mendengar sesekali berbicara, kadang menjelaskan, dia tertawa, dia mendengar dan sesekali mencium. Ciuman tipis minim gestur tapi terlalu menumpuk makna akan maksud dan kausal. Satu ciuman efeknya psikoaktif. Kata berhenti, gerakkan terhambat, endorphin menggelegak dan darah terasa deras mengalir, dan jangan ngeres, nggak deres mengalir ke penis, percaya aja. Gue defensif bukan penolakan, defensif karena pertahanan gue dalam kata, dalam postur, dalam kebanggaan gue sebagai seseorang terlahir lelaki runtuh dihantam sebuah kejujuran. Gue mengutuk topeng, jaimlogy dan tetek bengek munafikisme, ketika gue malu tentu buat apa ditutupi, malu itu kadang berefek apresiasi, kepada orang yang kalian sayang, bahwa mereka punya efek besar buat kalian.
Orang memandang pedas, beberapa getir tertahan, dan sedikitnya agak mau tahu. Tindakan dia bukan hal yang bisa gue balas dengan tindakan, mungkin bisa, dan mungkin seri. Tapi bukan itu, gue mengincar hook kiri setajam silet ketika dia lengah terlalu lebar mengambil straight, cross counter pamungkas Hollyfied yang menjatuhkan De La Hoya beberapa tahun lampau di Caesar Pallace. Itu. Gue bercerita sedikit, twist mengelak yang bermaksud sad ending tapi mengarah lain. Dia terpancing dan kalimat yang sejujurnya membuat lidah gue kelu beberapa saat akhirnya keluar.
*Blam*
Dijawab deh.
The End.
Kidding.
But Seriously.
Naaaaa aa…
Gue memandang dia, dalam diam, khusyuk. Berusaha mengabadikan momen-momen itu sebagai hal manis yang nggak akan gue lupa, sebagai senjata sakti yang bisa melupakan tetes-tetes amarah gue di masa nanti, bahwa, gue pernah melihat perempuan yang begitu manisnya sampai Americano gue berasa dicemplungin lima sendok gula, dan gue baru saja memenangkan hati perempuan ini. Nggak mudah, banyak yang harus dibayar, banyak yang harus ditebus, dan dikorbankan, tapi setimpal dan malah surplus.
“Pulang yuk.”
I love you, it’s a dot.
Ketika Kopi yang Bicara
- 9:05 AM
- Write comment
Kek ngangkut satu beruang bercula, gw naik motor menyisir daerah Gubeng—nyusul Hani dari stasiun setelah sedikit tumpah-tumpahan testosteron vs estrogen demi mutusin siapa yang bonceng siapa. As I expect—gw yang menang, secara Bonek Surabaya ga bisa dilawan pendatang. Dengan badan dan kepala yang ringan, gw bonceng Hani nyari makan. Berhubung ga pernah melanglang daerah Gubeng di malem hari dan ga hapal tempat makan mana yang yahud, cuz aja-lah ke Coffee Corner Surabaya. Jelas venuenya dapet, makanannya ga kalah asik, dan yang terutama—kopi. Pinginnya sih, bikinin Espresso Triple Shoot dengan tangan sendiri, tapi masuk CC—gw langsung disapa Dimas. Dengan nada yang agak ‘ehem’ dia nunjuk Hani sambil tanya, “Masnya Nanda ya?” blabla, gw cipok pipi kanan-kiri Dimas dan langsung cabut ke upstair. Request dari Hani, akhirnya kami milih beranda atas yang langsung ngadep ke depan sungai, disapa barista-barista baru yang gw lupa siapa aja namanya—iye, gw bangkotan abitch.
Ngerasa jadi tuan rumah dan hapal menu di luar kepala, gw pesen 1 Café Mocha (buat gw sendiri), 1 Hot Americano dan 1 Hot Cappuchino Viena (buat Hani). Ga tega nyekokin minuman ajib espresso Triple Shoot, takut khasiatnya yang terbukti bisa bikin kencing gw dan seluruh interior toilet bau kopi 2 hari, gw ambil jalan aman—pesan makanan buat Hani (yang secara mengejutkan ternyata suka makanan kambing = Cap Cay Goreng) dan French Fries. Untungnya Surabaya ga lagi galak dengan suhunya yang ekstrim, gw lepas jaket, dan di situlah awal mula Hani minta ijin buat ngerokok. Dalam hati, gw ngerasa kalah lagi—dulu sama Azmi gw kalah lawan Arema, sekarang sama Hani gw kalah lawan Wismilak. Tapi balik lagii, gw siapaaaa larang-larang anak orang bunuh diri. Yawda deh, gw biarin tuh mulut mengepul kek cerobong asep, sekali dua kali gw sindir tapi karena si Hani ga kejeduk blas yawda tuh rokok mengepul terus sampe wafat sendiri.
Terus, ya… hmm, pesanan dateng. Satu persatu, mulai dari Vienna, Americano dan endingnya Mocca. Lucunya pas tangan udah kebelet nyeruput Mocca—my most favourite coffee—tangan ga sadar ngaminin otak yang bilang, ‘Save the best for him’ dan ujug-ujug malah ngeraih cangkir Vienna. Yaudin, bakat SPG lagi muncrat, gw rayu dia nyoba Mocca. Sebenernya tau sih kalo si Hani ga terlalu suka kopi manis, apalagi yang ditambahin susu. Dan apa yang diharapkan dari Café Mocca? Manislah, pake coklat pula. Tapi keknya Hani ga tega kalo nolak sodoran gw, disruputlah itu cairan. Dan ada senyum kikuk yang manis bin bikin meleleh waktu dia tandasin hampir separuh cangkir Mocca. Nah dipecut leather fetish Sadomasokist, atau tiba-tiba kesambet jin janda bunting, gw melting dan tergerak buat ngerapat ke wajah dia. Deket, makin deket, maakk deket banget dan blar! Taulah. Saya menghamili anak orang.
Apa ya, ga tau malu? Cewek gampangan? Penghilang keperjakaan? Nggak lah Ya Allah Ya Gaffar Ya Gofur. Tapi emang kalo diflashback sekarang—inget-inget lagi apa kedongoan yang pernah gw lakuin—gw malu #telaaattt. Tapi ya gimana dong? Mukanya si Hani itu ya, kalo dibuat role-play, bibirnya kek merapal mantera apa gitu yang bikin gw kesengsem, dan pipinya yang jadi korban bully berbagai sun dengan beragam pose dan kelembapan. Dan tebak, setiap kali gw cium, si Hani malah sendekapin tangan dan mundurin kursi. Kalo di Lie To Me itu artinya bukti ketidak-percayaan diri atas kata-katanya sendiri,… emang dia ngomong apa? Paling cuma “Humm..” doang setiap bibir gw cari landasan mendarat. Arga, barista #8 yang gw hapal namanya (gw barista #3 men! Tuwek men! Veteran men!) ngikik kunti di balik station upstair setiap ngeliat gw cium pipi Cubung. Sebodo, gitu juga sama cowok-cowok arisan di meja nomer 23, ato cewek-cewek jablay meja 22. Ini Sabtu, Malam Minggu, dan di samping gw udah duduk cowok yang selama ini cuma bisa gw pisuhin lewat twitter. Ya kenapa nggak sekali-sekali bikin si Hani keabisan gaya di depan publik.
Hauuhh, kok masih segini sih.
Okay, ceritanya, pertanyaan itu diulang lagi. “Semalam ngapain?” dengan pandangan nanar dari balik kacamatanya, si Hani mencoba menstimuli gw buat beberkan soal apa yang terjadi semalam. Dan yah—mau ditanya berapa kali juga gw tetep bingung apa yang terjadi semalam. Gw nangis, iya nangis sejadi-jadinya saat tau dia balik sama mantannya dengan alasan absurd macem, “Terserah dia, aku sudah kebas. Mauku sih jalanin semua semau-gw dan bikin dia lama-lama muak.”. Nah kalo lo jadi gw pas itu, gimana rasanya? Kuping panas, mata pedas. Bisanya si Hani ngebuang perasaan gw demi menjalani hubungan sesampah itu, mana adilnya buat gw? Yah, itulah. Kalo terus-terusan flashback ga kelar-kelar ntar. Intinya, gw bilang ga senaif dan semudah itu buat gw buang-buang nyawa, ga untuk yang kedua kalinya, holly sake. Kecewa iya, sakit iya, kebawa fisik banget. Dan itulah alasan kenapa kemarin gw bener-bener drop down, bukan bunuh diri. Dan dia keknya lega, percaya, dan mulai menikmati kenaifan dia sendiri yang serta merta dateng ke Surabaya demi mastiin gw baik-baik aja. Jujur aja, ada sign kentara yang bisa gw rasakan kalau perasaan Hani benar-benar sebuah cinta. Tapi ga ada harapan, ngingat kalo baru kemarin dia balik sama Alita.
Dan—eh, ternyata gw salah tangkep.
Gimanalah ceritanya gw bingung, si Hani bilang kalo dia dan Alita udah over. He? Iya, over, dan sekarang dia dateng buat me…me…lamar gw #gobskibecandabeutt. Ya intinya gw mendengar azimat itu lagi, something like ‘would you gonna be my girl?’ tapi lupa gimana dia ngucapinnya. Masa setelah enam kali sosor pipi, gw bisa bilang nggak? Dan setelah legalized, ijab qobul, suasana Surabaya mulai dingin lagi. Gw pake jaket lagi, dan semua hot coffee udah mendingin di dalam cangkir. Gw liat jarum jam nunjuk pukul 11 malem. Dan barulah sadar kalo gw dan Hani ditunggu orang rumah! Nyaaakk! Awalnya karena insting kedinginan yang ga tau malu, kebiasaan gw kalo ada cowok di samping pas gw kedinginan, cari-cari kehangatan dari tangannya. Dan yah, itu yang gw lakukan ke telapak tangan yang lebih besar dari punya gw itu. Di antara sela-sela jarinya yang ragu-ragu balas menggenggam, hangatnya tangan si Hani tetep aja bikin nagih. Moar moar moar!!
*bersambung dulu, ngantuk parah*
Ngerasa jadi tuan rumah dan hapal menu di luar kepala, gw pesen 1 Café Mocha (buat gw sendiri), 1 Hot Americano dan 1 Hot Cappuchino Viena (buat Hani). Ga tega nyekokin minuman ajib espresso Triple Shoot, takut khasiatnya yang terbukti bisa bikin kencing gw dan seluruh interior toilet bau kopi 2 hari, gw ambil jalan aman—pesan makanan buat Hani (yang secara mengejutkan ternyata suka makanan kambing = Cap Cay Goreng) dan French Fries. Untungnya Surabaya ga lagi galak dengan suhunya yang ekstrim, gw lepas jaket, dan di situlah awal mula Hani minta ijin buat ngerokok. Dalam hati, gw ngerasa kalah lagi—dulu sama Azmi gw kalah lawan Arema, sekarang sama Hani gw kalah lawan Wismilak. Tapi balik lagii, gw siapaaaa larang-larang anak orang bunuh diri. Yawda deh, gw biarin tuh mulut mengepul kek cerobong asep, sekali dua kali gw sindir tapi karena si Hani ga kejeduk blas yawda tuh rokok mengepul terus sampe wafat sendiri.
Terus, ya… hmm, pesanan dateng. Satu persatu, mulai dari Vienna, Americano dan endingnya Mocca. Lucunya pas tangan udah kebelet nyeruput Mocca—my most favourite coffee—tangan ga sadar ngaminin otak yang bilang, ‘Save the best for him’ dan ujug-ujug malah ngeraih cangkir Vienna. Yaudin, bakat SPG lagi muncrat, gw rayu dia nyoba Mocca. Sebenernya tau sih kalo si Hani ga terlalu suka kopi manis, apalagi yang ditambahin susu. Dan apa yang diharapkan dari Café Mocca? Manislah, pake coklat pula. Tapi keknya Hani ga tega kalo nolak sodoran gw, disruputlah itu cairan. Dan ada senyum kikuk yang manis bin bikin meleleh waktu dia tandasin hampir separuh cangkir Mocca. Nah dipecut leather fetish Sadomasokist, atau tiba-tiba kesambet jin janda bunting, gw melting dan tergerak buat ngerapat ke wajah dia. Deket, makin deket, maakk deket banget dan blar! Taulah. Saya menghamili anak orang.
Apa ya, ga tau malu? Cewek gampangan? Penghilang keperjakaan? Nggak lah Ya Allah Ya Gaffar Ya Gofur. Tapi emang kalo diflashback sekarang—inget-inget lagi apa kedongoan yang pernah gw lakuin—gw malu #telaaattt. Tapi ya gimana dong? Mukanya si Hani itu ya, kalo dibuat role-play, bibirnya kek merapal mantera apa gitu yang bikin gw kesengsem, dan pipinya yang jadi korban bully berbagai sun dengan beragam pose dan kelembapan. Dan tebak, setiap kali gw cium, si Hani malah sendekapin tangan dan mundurin kursi. Kalo di Lie To Me itu artinya bukti ketidak-percayaan diri atas kata-katanya sendiri,… emang dia ngomong apa? Paling cuma “Humm..” doang setiap bibir gw cari landasan mendarat. Arga, barista #8 yang gw hapal namanya (gw barista #3 men! Tuwek men! Veteran men!) ngikik kunti di balik station upstair setiap ngeliat gw cium pipi Cubung. Sebodo, gitu juga sama cowok-cowok arisan di meja nomer 23, ato cewek-cewek jablay meja 22. Ini Sabtu, Malam Minggu, dan di samping gw udah duduk cowok yang selama ini cuma bisa gw pisuhin lewat twitter. Ya kenapa nggak sekali-sekali bikin si Hani keabisan gaya di depan publik.
Hauuhh, kok masih segini sih.
Okay, ceritanya, pertanyaan itu diulang lagi. “Semalam ngapain?” dengan pandangan nanar dari balik kacamatanya, si Hani mencoba menstimuli gw buat beberkan soal apa yang terjadi semalam. Dan yah—mau ditanya berapa kali juga gw tetep bingung apa yang terjadi semalam. Gw nangis, iya nangis sejadi-jadinya saat tau dia balik sama mantannya dengan alasan absurd macem, “Terserah dia, aku sudah kebas. Mauku sih jalanin semua semau-gw dan bikin dia lama-lama muak.”. Nah kalo lo jadi gw pas itu, gimana rasanya? Kuping panas, mata pedas. Bisanya si Hani ngebuang perasaan gw demi menjalani hubungan sesampah itu, mana adilnya buat gw? Yah, itulah. Kalo terus-terusan flashback ga kelar-kelar ntar. Intinya, gw bilang ga senaif dan semudah itu buat gw buang-buang nyawa, ga untuk yang kedua kalinya, holly sake. Kecewa iya, sakit iya, kebawa fisik banget. Dan itulah alasan kenapa kemarin gw bener-bener drop down, bukan bunuh diri. Dan dia keknya lega, percaya, dan mulai menikmati kenaifan dia sendiri yang serta merta dateng ke Surabaya demi mastiin gw baik-baik aja. Jujur aja, ada sign kentara yang bisa gw rasakan kalau perasaan Hani benar-benar sebuah cinta. Tapi ga ada harapan, ngingat kalo baru kemarin dia balik sama Alita.
Dan—eh, ternyata gw salah tangkep.
Gimanalah ceritanya gw bingung, si Hani bilang kalo dia dan Alita udah over. He? Iya, over, dan sekarang dia dateng buat me…me…lamar gw #gobskibecandabeutt. Ya intinya gw mendengar azimat itu lagi, something like ‘would you gonna be my girl?’ tapi lupa gimana dia ngucapinnya. Masa setelah enam kali sosor pipi, gw bisa bilang nggak? Dan setelah legalized, ijab qobul, suasana Surabaya mulai dingin lagi. Gw pake jaket lagi, dan semua hot coffee udah mendingin di dalam cangkir. Gw liat jarum jam nunjuk pukul 11 malem. Dan barulah sadar kalo gw dan Hani ditunggu orang rumah! Nyaaakk! Awalnya karena insting kedinginan yang ga tau malu, kebiasaan gw kalo ada cowok di samping pas gw kedinginan, cari-cari kehangatan dari tangannya. Dan yah, itu yang gw lakukan ke telapak tangan yang lebih besar dari punya gw itu. Di antara sela-sela jarinya yang ragu-ragu balas menggenggam, hangatnya tangan si Hani tetep aja bikin nagih. Moar moar moar!!
*bersambung dulu, ngantuk parah*
Soal Madesu
- 5:46 AM
- Write comment
Gundah soal masa depan bukan milik gw sendiri kan? Yah, mungkin cuma anaknya Bakrie ato menantunya doang yang ga bakal ngerasain gundah kek gini. Dan lucunya, justru saat status kepegawaian udah jelas (tuh SK Rektorat soal Kepegawaian gw udah muncul dan potongan pajakpun membayang di depan mata) gw malah makin gundah, galau. Apa bener nih kerjaan bagus buat masa depan? Mungkin secara finansial iya, ada jaminan pensiun walau secara bulanan ga terlalu banyak. Berapa sih gaji PNS? Banyak sih nggak, mungkin ceperannya yang lumayan, apalagi kalo nama depan gw Gayus dan belakangnya Tambunan. Oke, soal finansial, sebanyak apapun duit ga bakal cukup kalo ga disyukuri, jadi gw skip soal itu. Tapi soal hati? Sampe sekarang gw masih berpikir nih otak yang pernah bikin ortu bangga dgn IP 3,44, TOEFL 568 dan IQ 125 bakal merana seumur hidup kalau cuma gw pake mikir kerjaan ecek-ecek. I mean, lama-lama mungkin semua ilmu gw bakal mangkrak ga kepake karena tempat kerjaan gw ga merluin logika sedahsyat yang bisa gw kasih.
Inilah sumber gundahnya, ladies and gentlement.
Gw ga suka hidup lempeng ala pegawai-pegawai pemkot, walau ga mau juga ngerasain idup dikejar-kejar ninja (baca: tukang kredit). Tapi gw butuh sesuatu, adventure, hal yang bikin keringat gw bercucuran ngerjain tuh soal. Atau ada hasil karya luar biasa yang memerlukan skill dan bakat yang bisa gw banggakan, yang bisa gw tunjukkan ke semua mata. Kalo mau milih, gw lebih suka meluncur di areal konflik atau perbatasan perang, meliput berita dan mati ketembak—dibawa pulang dalam bentuk yang lebih ringkas. Ditangisi mama papa dan mewariskan asuransi jiwa lumayan gede buat papa, mama, Dinda, Tari dan Ilma buat liburan ke New York. Gw ga bangga menyebut kerjaan sekarang, dan pingin sesuatu yang bisa gw banggakan saat ditanya tentang kerjaan. Gw iri sama temen-temen, cowok-cowok sekelas selama SMA yang sekarang bahkan sampe merambah Haiti untuk menyalurkan dana kemanusiaan. Atau paling nggak, ada di kota lain dan hidup menggelandang di bawa kolong cubicle. Atau para pekerja lapangan di pengeboran minyak, pertambangan atau pengadaan energi. Atau justru para Barista keren yang sudah menyajikan kopi-kopi racikannya sampe ke Dubai. Cool abis mereka itu mah!
Itu soal karir.
Belum soal kehidupan berkeluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Blar! Hih! Skip ah, pamali. Yang jelas buat karir, segalanya abu-abu. Entah kenapa gw ngerasa dikibulin sama harapan ortu, yang dulu maksa kuliah di ini-itu-anu karena kerjaannya menjanjikan, bikin bangga, punya gelar dan blabla. Sekarang coba lihat, banyak sarjana pengangguran atau kutu loncat, dan ga sedikit dari mereka yang justru dapet penghidupan dengan cara-cara sederhana yang ga memerlukan titel di belakang nama mereka untuk mendapat upah. Bokis bener kan? Tau gitu buat apa gw kuliah empat tahun, ngerjain skripshit di tengah kemandulan dan ketergantungan infus cuma demi kerjaan yang ga memerlukan SEMUA itu! Dasar-Dasar Jurnalistik, Hukum Media Massa, Riset Komunikasi Pemasaran, semuanya mentah! Ga kepake, buang aja ke laot.
Kenapa ga dari awal gw terjun slurup sepenuh hati ke bisnis Coffee and Culinary? Temen gw ada yang kuliah cuma D-1, teknik mesin, dan karena saking pinternya bikin Rosetta, dia jadi Duta Barista dari Indonesia yang dikirim ke Wina, dan sekarang kerja di Jerman bagian riset mesin brewing kopi. Nyet.
Soal gaji, heuh, yang penting bisa ditabung. Tapi kepuasan idup, harganya mahal men! Lo bisa banggain keluarga dengan jadi PNS, tapi apa lo bangga makan gaji buta tiap hari, ngendon depan kompi di kantor, di dalem ruangan ber-AC, makan, nggosip dan pulang? Otak gw berkarat...
Aneh ya, kalo denger lagu Bondan yang ini, gw ngerasa semua yang gw dapat ini masih belum sejumputpun nikmatnya dibanding yang gw idam-idamkan. Thanks buat Bondan Prakoso buat lagu keren ini. Well, listen this dude!
Hidup Berawal Dari Mimpi
By : Bondan Prakoso
yo’ kujelang matahari dengan segelas teh panas
di pagi ini ku bebas, karna nggak ada kelas
di ruang mata ini kamar ini srasa luas
letih dan lelah juga, lambat lambat terkuras
teh sudah habis, kerongkongan ku pun puas
mulai ku tulis semua kehidupan di kertas
hari hari yang keras, kisah cinta yang pedas
perasaan yang was was, dan gerakku yang terbatas
tinta yang keluar dari dalam pena
berirama dengan apa yang kurasa
dalam hati ini ingin kuubah semua
kehidupan monoton penuh luka putus asa
Reff
tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi
gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
rasakan semua, peduli ‘tuk ironi tragedi
senang bahagia, hingga kelak kau mati
yo’ yo’ dunia memang tak selebar daun kelor
akal dan pikiran ku pun tak selamanya kotor
membuka mata hati demi sebuah cita-cita
mlangkah pasti, pena dan tinta berbicara
tetapkan pilihan tuk satu kemungkinan
sbagai bintang hiburan, dan terus melayang
tak heran ragaku, terbalut lebel mewah
cerminan seorang raja dalam crita Cinderella
ini bukan mimpi atau halusinasi
sebuah anugerah yang akan ku nikmati nanti
hasil kerja keras ku terbayarkan lunas.. tuntas..
melakoni jati diri sampe puas
Reff, hingga kelak kau mati..
akh.. jack.. one two yo’
jalan sedikit tersungkur terjungkir terbalik
mlangkah menuju titik, lakukan yang terbaik
ku ketatkan tekad dan niat agar melesat
sperti rudal squad, mimpiku kan kudapat
mencari tepuk tangan atas karya keringatku
bukan satu yang ingin aku tuju
naik ke’atas pentas, agar orang puas
dapat applause, cek atau pun uang kertas
yo’ cari sensasi ataupun kontroversi “uh-oh”
bukan caraku agar hidupku rekonstruksi
dari mimpi semua hal dapat terjadi
maka lemparkan sayap dan terbanglah yang tinggi
http://www.4shared.com/audio/EfI26799/Bondan_Prakoso_-_Hidup_Berawal.htm -- MP3 Download (Sorry ini kenapeu sama blogspot anging ga bisa nautin link)
Inilah sumber gundahnya, ladies and gentlement.
Gw ga suka hidup lempeng ala pegawai-pegawai pemkot, walau ga mau juga ngerasain idup dikejar-kejar ninja (baca: tukang kredit). Tapi gw butuh sesuatu, adventure, hal yang bikin keringat gw bercucuran ngerjain tuh soal. Atau ada hasil karya luar biasa yang memerlukan skill dan bakat yang bisa gw banggakan, yang bisa gw tunjukkan ke semua mata. Kalo mau milih, gw lebih suka meluncur di areal konflik atau perbatasan perang, meliput berita dan mati ketembak—dibawa pulang dalam bentuk yang lebih ringkas. Ditangisi mama papa dan mewariskan asuransi jiwa lumayan gede buat papa, mama, Dinda, Tari dan Ilma buat liburan ke New York. Gw ga bangga menyebut kerjaan sekarang, dan pingin sesuatu yang bisa gw banggakan saat ditanya tentang kerjaan. Gw iri sama temen-temen, cowok-cowok sekelas selama SMA yang sekarang bahkan sampe merambah Haiti untuk menyalurkan dana kemanusiaan. Atau paling nggak, ada di kota lain dan hidup menggelandang di bawa kolong cubicle. Atau para pekerja lapangan di pengeboran minyak, pertambangan atau pengadaan energi. Atau justru para Barista keren yang sudah menyajikan kopi-kopi racikannya sampe ke Dubai. Cool abis mereka itu mah!
Itu soal karir.
Belum soal kehidupan berkeluarga yang sakinah mawaddah warrahmah. Blar! Hih! Skip ah, pamali. Yang jelas buat karir, segalanya abu-abu. Entah kenapa gw ngerasa dikibulin sama harapan ortu, yang dulu maksa kuliah di ini-itu-anu karena kerjaannya menjanjikan, bikin bangga, punya gelar dan blabla. Sekarang coba lihat, banyak sarjana pengangguran atau kutu loncat, dan ga sedikit dari mereka yang justru dapet penghidupan dengan cara-cara sederhana yang ga memerlukan titel di belakang nama mereka untuk mendapat upah. Bokis bener kan? Tau gitu buat apa gw kuliah empat tahun, ngerjain skripshit di tengah kemandulan dan ketergantungan infus cuma demi kerjaan yang ga memerlukan SEMUA itu! Dasar-Dasar Jurnalistik, Hukum Media Massa, Riset Komunikasi Pemasaran, semuanya mentah! Ga kepake, buang aja ke laot.
Kenapa ga dari awal gw terjun slurup sepenuh hati ke bisnis Coffee and Culinary? Temen gw ada yang kuliah cuma D-1, teknik mesin, dan karena saking pinternya bikin Rosetta, dia jadi Duta Barista dari Indonesia yang dikirim ke Wina, dan sekarang kerja di Jerman bagian riset mesin brewing kopi. Nyet.
Soal gaji, heuh, yang penting bisa ditabung. Tapi kepuasan idup, harganya mahal men! Lo bisa banggain keluarga dengan jadi PNS, tapi apa lo bangga makan gaji buta tiap hari, ngendon depan kompi di kantor, di dalem ruangan ber-AC, makan, nggosip dan pulang? Otak gw berkarat...
Aneh ya, kalo denger lagu Bondan yang ini, gw ngerasa semua yang gw dapat ini masih belum sejumputpun nikmatnya dibanding yang gw idam-idamkan. Thanks buat Bondan Prakoso buat lagu keren ini. Well, listen this dude!
Hidup Berawal Dari Mimpi
By : Bondan Prakoso
yo’ kujelang matahari dengan segelas teh panas
di pagi ini ku bebas, karna nggak ada kelas
di ruang mata ini kamar ini srasa luas
letih dan lelah juga, lambat lambat terkuras
teh sudah habis, kerongkongan ku pun puas
mulai ku tulis semua kehidupan di kertas
hari hari yang keras, kisah cinta yang pedas
perasaan yang was was, dan gerakku yang terbatas
tinta yang keluar dari dalam pena
berirama dengan apa yang kurasa
dalam hati ini ingin kuubah semua
kehidupan monoton penuh luka putus asa
Reff
tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi
gantungkan yang tinggi, agar semua terjadi
rasakan semua, peduli ‘tuk ironi tragedi
senang bahagia, hingga kelak kau mati
yo’ yo’ dunia memang tak selebar daun kelor
akal dan pikiran ku pun tak selamanya kotor
membuka mata hati demi sebuah cita-cita
mlangkah pasti, pena dan tinta berbicara
tetapkan pilihan tuk satu kemungkinan
sbagai bintang hiburan, dan terus melayang
tak heran ragaku, terbalut lebel mewah
cerminan seorang raja dalam crita Cinderella
ini bukan mimpi atau halusinasi
sebuah anugerah yang akan ku nikmati nanti
hasil kerja keras ku terbayarkan lunas.. tuntas..
melakoni jati diri sampe puas
Reff, hingga kelak kau mati..
akh.. jack.. one two yo’
jalan sedikit tersungkur terjungkir terbalik
mlangkah menuju titik, lakukan yang terbaik
ku ketatkan tekad dan niat agar melesat
sperti rudal squad, mimpiku kan kudapat
mencari tepuk tangan atas karya keringatku
bukan satu yang ingin aku tuju
naik ke’atas pentas, agar orang puas
dapat applause, cek atau pun uang kertas
yo’ cari sensasi ataupun kontroversi “uh-oh”
bukan caraku agar hidupku rekonstruksi
dari mimpi semua hal dapat terjadi
maka lemparkan sayap dan terbanglah yang tinggi
http://www.4shared.com/audio/EfI26799/Bondan_Prakoso_-_Hidup_Berawal.htm -- MP3 Download (Sorry ini kenapeu sama blogspot anging ga bisa nautin link)
Nyoba sambil merem
- 5:06 AM
- Write comment
Kalo gw bisa nulis dengan mata ketutup gibi tabnpa salah satupun, gw lanjut ngeblog deh. Banyak yang pungin gw tulis tapi mata ga bisa buka nih bangke bener. Salah siapa coba... SAKAH SIAPAAAAA!!!
Pendek, dan ga jelas.
- 2:14 AM
- Write comment
Kadang kutanya apa yang salah sama kepala? Karena ini aneh, berjalan hampir sebulan dan aku mencintaimu lebih parah dari terakhir kali aku bilang ‘I love you’. Tadi malam, sebelum tutup telfon dan mengucapkan wassalam—akhiran dari setiap percakapan. Artinya dalam bahasa Indonesia? Aku mencintaimu, nikahilah aku, mari punya tiga anak atau lebih, dan kita bersama sampai tangan Tuhan sendiri yang memisahkan.
Panjang ya.
Ada yang bilang aku memilihmu karena bosan, ada yang bertanya apakah ini semua hasil dari rasa kesepian yang tak bisa ditahan? Kujawab apapun ujung-ujungnya mereka tak mengerti. Tante, sobat (Henny namanya), orang-orang yang terlalu mengenal tulangku sampai lupa kulit, yang hafal isi kepala tapi lupa dimana kutaro kakiku, dan ga bisa dipukul sekali jedug biar langsung percaya dengan semua jawabanku.
“Sayang kok, mau gimana?”
Kamu pasti ketawa juga kalau melihat mukaku, maksa-maksa-cute-sengsara, belum ditambah gaya guling-guling di atas springbed baru. Dan mereka nambahin, “Ga serius kan?”, saat itu kuhentikan guling-gulingan geje dan pasang muka tercute sedunia, dengan senyum yang rasanya ditarik dengan tangan-tanganmu yang invisible, “Aku ga keliatan bahagia kah?”
Dan mereka diam.
Baru kusadari kadang kala, sesuatu yang bahagia itu tanpa definisi. Tiba-tiba terasa, menyelimuti, dan aku ga mau semua itu pergi. Sudah tiga tahun sejak semua yang indah-indah itu pernah dirasa, mungkin tulang, gigi, kepala sampai daging dan darahku mengiba untuk merasakan hal yang serupa. Aku pernah bahagia, sama seperti kamu juga pernah melaluinya, entah dengan siapapun yang dulu membuat kita tertawa. Dan mungkin sampai kini, aura-aura itu terselip terlalu dalam dengan bermacam-macam dusta. I’m single and happy motherfucker, lo sedih, lo nestapa, lo gila sampe ga kerasa. Tapi siapa yang mau ngaku sih dengan keadaan memprihatinkan itu? Aku? Nggak, tiga tahun setelahnya kulalui dengan berbagai macam mainan. Rere menyebutnya boytoys, Dinda menyebutnya plencingan, Henny bilang itu pelesiran, Abby bilang namanya pecunan. Aku bilang itu pelarian.
Aku lari dari Nash, aku mencintainya dan ga mau kami bertemu dengan rupa yang saling membenci. Aku bahkan sampai sekarang berharap—jika entah di mana aku bertemu dia, aku bisa senyum sambil bertanya “Istrimu mana?” tanpa menggigit bibir bagian dalam. Dan kurasa sekarang aku menemukan momentnya, saat tanganku kamu sanding di dalam dekap, dan saat semua tuntutanku atas cinta dan mencintai lengkap. Kamulah jawabannya, iya, kamu. Ga percaya?
Aku nulis apa sih… ga jelas.
Panjang ya.
Ada yang bilang aku memilihmu karena bosan, ada yang bertanya apakah ini semua hasil dari rasa kesepian yang tak bisa ditahan? Kujawab apapun ujung-ujungnya mereka tak mengerti. Tante, sobat (Henny namanya), orang-orang yang terlalu mengenal tulangku sampai lupa kulit, yang hafal isi kepala tapi lupa dimana kutaro kakiku, dan ga bisa dipukul sekali jedug biar langsung percaya dengan semua jawabanku.
“Sayang kok, mau gimana?”
Kamu pasti ketawa juga kalau melihat mukaku, maksa-maksa-cute-sengsara, belum ditambah gaya guling-guling di atas springbed baru. Dan mereka nambahin, “Ga serius kan?”, saat itu kuhentikan guling-gulingan geje dan pasang muka tercute sedunia, dengan senyum yang rasanya ditarik dengan tangan-tanganmu yang invisible, “Aku ga keliatan bahagia kah?”
Dan mereka diam.
Baru kusadari kadang kala, sesuatu yang bahagia itu tanpa definisi. Tiba-tiba terasa, menyelimuti, dan aku ga mau semua itu pergi. Sudah tiga tahun sejak semua yang indah-indah itu pernah dirasa, mungkin tulang, gigi, kepala sampai daging dan darahku mengiba untuk merasakan hal yang serupa. Aku pernah bahagia, sama seperti kamu juga pernah melaluinya, entah dengan siapapun yang dulu membuat kita tertawa. Dan mungkin sampai kini, aura-aura itu terselip terlalu dalam dengan bermacam-macam dusta. I’m single and happy motherfucker, lo sedih, lo nestapa, lo gila sampe ga kerasa. Tapi siapa yang mau ngaku sih dengan keadaan memprihatinkan itu? Aku? Nggak, tiga tahun setelahnya kulalui dengan berbagai macam mainan. Rere menyebutnya boytoys, Dinda menyebutnya plencingan, Henny bilang itu pelesiran, Abby bilang namanya pecunan. Aku bilang itu pelarian.
Aku lari dari Nash, aku mencintainya dan ga mau kami bertemu dengan rupa yang saling membenci. Aku bahkan sampai sekarang berharap—jika entah di mana aku bertemu dia, aku bisa senyum sambil bertanya “Istrimu mana?” tanpa menggigit bibir bagian dalam. Dan kurasa sekarang aku menemukan momentnya, saat tanganku kamu sanding di dalam dekap, dan saat semua tuntutanku atas cinta dan mencintai lengkap. Kamulah jawabannya, iya, kamu. Ga percaya?
Aku nulis apa sih… ga jelas.
Subscribe to:
Posts (Atom)

