Ceritanya, tepat tanggal 4 Februari lalu, gw begitu hebohnya naik turun tangga, mikir dengan rambut berantakan, boxer keluar dari lipatan sabuk celana, kaos berlengan pendek dan tak berselubung bra, kacamata yang lepas-pake-lepas-pake, dan BB yang kalau kelaminnya betina pasti udah bunting anak kelima. Bukan karena semalam gw ga ingat apa-apa, lost track dan bangun dengan mulut penuh comet darah, Bukan juga karena sakit di bagian perut bawah dekat tulang pinggang yang kalo lagi kumat naudzubillah sakitnya. Semata-mata karena gw bingung bilang mama ato papa, soal kedatangan cowok berinisial CH yang tiba-tiba ngabarin udah di atas kereta Argo Wilis (kalo ga salah smsnya terkirim pukul 7.45an, sedangkan gw bacanya udah pukul 11.00). Mo bilang temen, salah—ga menjelaskan kenapa gw harus kelimpungan menghadapi kedatangannya. Mo bilang pacar, belum ada persetujuan dari kedua belah pihak kalau hubungan ini perlu dilabeli demikian atau nggak. Mo bilang apa dong?
Alhasil, mama yang punya six sense lebih peka dari kucing, apalagi soal bau-bauan—nyamperin dan nanya, “Opo tho kak? Munyer ae koyok obat lamuk.” (Apa sih kak? Muter aja kek obat nyamuk) dan karena pada dasarnya gw setransparan toples permen, bilanglah gw apa adanya pada sang bunda. “Gini ma, ada anak namanya Cubung. Dia lagi di Argo Wilis, sampe Surabaya kira-kira jam 7. Kalo misal dia tidur di sofa selama di sini, boleh ga?” Ya terang alis mama yang tipis itu goyang dombret dong.
Sumpah gw keknya salah merangkai kata. Harusnya sebelum mengajukan proposal, harus ada perkenalan dulu, pembukaan dan salam manja, terus pelan-pelan ngelunjak minta-minta-maksa. Ga langsung tembak mati di tempat kek gitu. Dan lucunya, sakit gw yang kemarin rasanya ga tertahankan itu hilang diganti mules di ujung perut yang tiba-tiba datang lantaran kepikiran mo alasan apalagi buat bawa cowok ke rumah. Masalahnya, sejak hancurnya pertunangan gw dengan Nash tiga tahun lalu, gw sekalipun ga pernah bawa cowok ke rumah lagi—dengan alasan apapun. Mama, yang notabene merasa perlu ngenalin ke gw cowok-cowok pilihannya, melihat fenomena ini sebagai sebuah keajaiban. Ajaib, Nanda mau bawa cowoknya dong. Selama ini diem-dieman doang, malah lebih seringnya gw yang ga pernah pulang rumah dan nginep di tempat Azmi pas week end.
Mama ga membuka pertanyaan dengan bertanya, “Siapa CH?” tapi malah “Dateng berdua? Bertiga? Kamarmu bersihin lho, kak.”
Duar!
Yang jelas-jelas pasang muka ngempet boker malah Dinda. Dan segera setelah mama bilang gitu, Dinda nimpalin. “Cowok? Ga. Tidur luar. Enak aja masuk kamar.” Bahkan selanjutnya, adik gw paling overprotektif itu menunjukkan tampang tergaharnya waktu dia tahu nama Cubung Hanito send request follow ke twitternya. D’oh, iya gw tahu betul gimana hancurnya perasaan Dinda waktu gw mutusin nenggak 35.000 mg Dyfenhidramine tiga tahun lalu. Dan dengan segala cara, dia berusaha lindungin gw dari hal-hal yang berpotensi membuat gw nenggak obat itu lagi, termasuk soal ga bisa tidur dan pacaran.
Dan baru kali ini gw memohon sama Dinda untuk seseorang yang bukan sapa-sapa. Hebat kan? Gw keluarin lagi bakat-bakat manipulator yang dari bayi udah melekat di nama belakang gw, dengan satu dan tiga frase yang gw puntir maknanya demi sesuatu yang menguntungkan, akhirnya Dinda nyerah dan bolehin. Iklas ga iklas yang penting “Iya.” Walau belakangnya ada tambahan, “terserah.”
Dan, dengan setengah teler gw berdandan, berharap cukup cantik biar pas ketemu sama Cubung, dia ga ilfil, ga muntah, apalagi tiba-tiba kayang pulang ke Bandung. Tapi jelas dengan keadaan ga normal itu, gw mengalami banyak disorientasi mengemudi. Ga ada bantuan dari siapapun, dan coret nama Dinda sebagai pendukung lovelife gw kali ini. Dia sudah kapok dan nyesel jadi pendukung Nash dulu though. Dan setelah yakin gw telat hamper 15 menit dari jadwal keretanya merapat gegara ga berani ngebut malem-malem, akhirnya tibalah di Stasiun Gubeng dengan sok cantik. Ga lupa pake kacamata, karena rabun ayam gw mulai masuk taraf keterlaluan. Apalagi ditambah kenyataan kalo gw sama sekali blur dengan cirri fisik dan wajah Cubung. Dan setelah masuk peron, heck, gw deg-degan. Kopi darat bok, ga adilnya—dia tahu gw dang w clueless gimana dia. Akhirnya setelah perjuangan cengok dan kesasar, akhirnya ketemu sesosok gede, jaket hitem rambut berantakan, genderuwo, yaa awalnya belum terlintas kata “cakep” di kepala gw karena mata jiper, rabun ayam, chicken blindness. Begitu nemu pencahayaan yang lumayan, gw melabeli fisik dia dengan sebutan, “Not bad.”
Awkward banget. Bukannya dipeluk atau digandeng, dia malah tarik dua tangan gw dan ngelihat bagian pergelangan. Terus liat muka gw, baru turunin tangan gw sembari bilang. “Baguslah ga kenapa-kenapa. Aku kesini cuma mastiin kamu baik-baik aja.” Dan otak gw saat itu, blank space, berusaha nyari padanan kalimat dan link yang menghubungkan pergelangan tangan dengan keadaan gw yang baik atau nggaknya aja gw ga yakin. Oh, so this boy thought I was slitting my wrist and suicide… for what? Knowing that he was back with his ex? Okay. That’s cute!
Dan kami berjalan beriringan, dengan tidak terjadi apapun yang membuat hati gw terlonjak. Lempeng, diem, dan gw berubah jadi bebek mentok yang ngembik-ngembik bawel. I hate awkwardness, walo mungkin Cubung ga suka liat gw, tapi gw suka liat dia. Gw seneng ketemu dia, apapun alasannya dan gimanapun keadaannya, dan sayangnya gw saat itu terlalu takut bilang itu. Takut kecewa dengan kata-kata, “Gue biasa aja sih Nan.” Sampai di satu ujung parkiran, gw minta peluk. Iya, kurang kerjaan apa coba, dimana harga diri gw? Di sol sepatu, gw injek-injek ga berbekas, dan gw ga peduli. Rasa sayang, seneng, kaget, semuanya ga pingin gw tutupin dengan kemunafikan dan sok jual mahal. Karena bagi gw, cinta itu ditunjukkan dengan bangga, dan diperjuangkan.
To be continued.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 komentar:
Post a Comment