RSS FEED

Alter

Manusia mana yang ga punya alter? Saya punya banyak, mampus. Dan semua punya cerita, yang saya tulis dengan suka rela walau kadang-kadang ga bermakna. Itulah mengapa saya menikmati dunia Role Play, saat saya punya wajah yang super cakep, ato super cantik, dan bertingkah super marysue dengan latar belakang ekonomi super tajir, super berkuasa, super bertahta. Super mimpi. Ya maaf kalo kenyataannya saya cuma sebongkah tulang dan kulit berjalan yang sok inosen, hahahehe, IQ jongkok yang lumayan dianggap jenius kalo dibandingin sama pasien departemen saraf. Tapi saya yakin, saya ga kalah nakal ditandingin sama psikolog manapun. Mungkin teori psikologi yang dijepret dalam diktat-diktat maha tebal itu tak satupun saya mengerti. Bahkan diagnosis dan anamnesis pergilaan tak satupun saya kenal. Tapi saya yakin, orang gila yang barusan waras seperti saya ini tahu benar bagaimana enaknya hidup di dalam ribuan wajah. Sumprit.

Nah, ceritanya soal Role Play. Saya punya banyak alter (eaa dibaleni maneh) dan khusus di Indohogwart (indohogwarts.co.nr) saya punya 4 anak, 4 alter, 4 nyawa yang terbagi-bagi secara nista. Perkenalkan satu-satu ya :

1. Areski Gale Leiden





 Vicodin,

Dari botolnya langsung, tiga pil sekaligus, kunyah—telan. Reaksinya nihil, mungkin lima menit lagi kejang. Inilah yang kusebut mufakat soal idiotism. Kita tak pernah menciptakan sesuatu yang dihargai orang melebihi aku menghargainya sendiri. Tapi beberapa lagu picisan, yang sebenarnya asal genjreng dan tak bermakna apa-apa, justru menjeplak indie records dan kini anjing label mencium bau kita. Aku beritikad lebih baik menelannya sendiri, chord rekaman ini kubuang di selokan. Terima kasih atas hidupmu yang selalu membawa perkara.

Apa yang ditulis bukan selalu yang ada sebenarnya. Kantung mata hitam berarti kurang tidur, dehidrasi, kehilangan kemampuan fleksibilitas atau bahkan terjadi karbonasi di bawah kulit. Itu yang akan dituliskan ahli kecantikan dan dokter syaraf. Tak ada yang menulis bahwa kehilangan sahabat, saudara, teman, dibukukan sebagai catatan medis yang responsibel. Padahal kenyataannya, aku kehilangan kau, dan mataku bengkak, hidungku berair, bantalku basah. Terima kasih atas matimu yang ternyata masih membawa perkara.

Jake Farro—almarhum.

*****

Jas hitam,sepatu hitam, jeans seperti biasa, maaf aku tak punya yang lain. Berdiri di depan nisanmu dan mengikuti prosedur Lutherian—aku baru tahu kau punya Tuhan—tak pernah berada dalam daftar belanja kostumku. Honore bisa membawakan satu dua stel untukku asal kuminta, tapi siapa yang mengira aku akan membutuhkan jas, kemeja, dasi, pantofel dan kaos kaki untuk ke makam instead ke pelaminan? Sepertinya Agrippina Proust—gadis yang kauidam-idamkan—melihat kedokku lebih baik daripada Ellena. Dan Tequilla Sirius bilang, ‘Mananya yang dariku normal’. Dan kau, hell, kau yang paling tahu sejak awal.

Jake, harusnya kuselipkan Tattler edisi kita ke balik petimu. Mungkin setelah sampai di Surga, akan jadi barang bukti bahwa kau tak cocok berada di sana dikelilingi para bidadari (harusnya bidadara? entahlah).

Pemakamanmu membosankan. Tak ada Sub-woofer di sini, tak ada konser, gitar berderit—paling nyaring cuma klarinet dan isak tangis ibumu, ibuku, ibu Damon. Mauku, kencing di lubang kuburmu, menyalak dan menggongong menyuruhmu bangun. Atau hei, tunggu reaksi Jake Farro saat ia bangun dan jas tuxedonya bau pesing. Oh, itu memang yang aku tunggu. Nyatanya, suasana ini terlalu suram. Orang tuamu—yang warna rambut si ibu sama seperti bulu bebek dan rambut si ayah yang mirip bulu ketiak—sedang tak ingin berkompromi dengan idiotism gaya baru. Jadi kutarik lagi ke atas resliting yang sudah kuturunkan.

Sepertinya tema pemakaman kali ini adalah Lily, padahal harusnya mereka tahu kau alergi serbuk bunga. Bersinlah seharian di sana dan muncullah keluar dari lubang makammu. Kubawakan satu ransel penuh Genesis dan lima lembar sapu tangan, in case kau menangisi kebaikan hatiku yang mau mengerti apa kesukaanmu.

Hei, kau masih perawan kan? Harusnya kau coba sekali sebelum memutuskan gantung diri. Kubawakan kond*m, tinggal pilih. Melon, anggur, strawberry. Kau pernah bilang kalau Blake Guillory tak memakai kutang, pasti Agy telah jadi milikmu. Masalahnya, Guillory pakai kutang, dan Agy jatuh cinta dengan lengannya yang sebesar pahamu. Kupikir lain kali kau akan menemukan gadis lain. Yang terakhir kudengar kau menemukan yang cantik—bintang iklan sumpit. Kim... Kim... siapa itulah. Setidaknya siapapun dia, masih lebih cantik daripada milikku. Tapi tetap saja, kau perawan.

Aku berpikir begini ya. Buatlah lima menit lebih lama lagi, pastur yang tak habis-habisnya membaca ayat akan membuatmu terbakar di dalam sana. Kau tak merasakan pori-porimu panas? Well, aku merasakannya.

"Dia berdoa kepada Bapa-Nya, kalau boleh cawan ini lalu daripadanya, tetapi bukan kehendakKu yang jadi melainkan kehendakMulah yang jadi, Amen."

Damon Nutcracker ada di sampingku, kau pasti lihat. Tahun ini berat buatnya, kemarin Xuxa sekarang kau. Mungkin tahun depan aku. Damon masih utuh, tetapi raut wajahnya aneh. Mungkin ia menelan satu dosis Calomel, tapi dari caranya berjalan aku tahu satu hal. Ia tak membiarkan kenyataan ini membunuhnya, walau pada nyatanya kau terbunuh. Yang tersisa di antara kita bertiga seperti noda yang tak bisa dibersihkan deterjen manapun. Bersih, tak berbau, tapi warnanya masih ada.

Jake,

*****

Ibumu menangis lagi, kau berdosa besar telah membuat kecantikan itu luntur lebih cepat dari yang bisa dilakukan usia. Tabur bunga pun tak terelakkan, kulihat dari sini, Damon menumpahkan satu keranjang penuh sekaligus ke batu nisanmu. Dia marah, dia kecewa—yang kurasakan diwakilinya 200%. Anggaplah hidungmu yang sudah tak bisa membau itu takkan terusik, tak perlu bersin-bersin, tak keluar ingus. Karena demi Tuhan... segala yang hidup padamu sudah tak berfungsi lagi.

"Asshole.”

Oh tambahan, Nabelle akan menikah dengan Nyle. Lengkap sudah deritamu.

 

2. Jeremy Atticus Brian




Tidak ada hari tanpa bertengkar, satu dan selanjutnya semuanya seperti arisan. Waktu itu ia duduk di ranjang Toni seperti biasa, menunggu gadis itu mandi sambil membuat lubang di dinding apel—satu dari tiga kilo yang ia bawakan dari kebun tetangga. Teman seangkatannya sibuk mencalonkan diri menjadi Prefek, teman-teman Toni stres menghafal bahan ujian owl. Dia dan gadisnya—sedikitpun tak memikirkan keduanya. Sepuluh menit kemudian Toni keluar berbalut handuk dan mengibaskan rambut seperti pudel di depan kaca.

Sekali-kali patut dicoba. Hannah dan Dawson entah bilang apa, Toni sepertinya lama-lama tergoda juga. Mojok—ah, Jem juga suka. Menikmati pemandangan berdua, lalu diganggu bocah-bocah tolol yang tak tahu kalau mereka petinggi klub duel. Samsak sukarela yang datang sendiri seperti itu kadang meningkatkan pelesirnya, semoga Toni juga.

“Tak bawa Paul?”

“Tak usah. Repot sekali. Aku cuma ingin berdua denganmu.”

“Memang kita ngapain?”

“.......”


KATANYA KENCAN!

Perutnya tergelitik, tangannya terulur hendak mengangkat pinggang Toni ke angkasa sebelum menggendongnya kabur ke sebuah tempat rahasia, tapi toh ditahan juga. Khusus hari ini ia jadi manusia baik hati, penyabar dan tak pencemburu atau segala isi neraka meluber karena bertengkar mulut.

“Ken-can. Melakukan apa yang biasa dilakukan pasangan seumuran kita, main lumpur, mencari cacing, membakar kolor Hagrid—kidding.”

Tidak ada yang seperti gadisnya ini. Biarlah dadanya rata, pinggangnya cekung, rambut pendek. Hanya Toni yang menyayanginya, menerima ketololannya seratus persen dan biasa-biasa saja, tak merasa apes mendapatkan dirinya. One in million, Jem. Karena itulah ia bertahan, karena opsi bercinta di dalam kamar masih belum terjamah.

Joking.

Awalnya konsolidasi ini melibatkan ocehan setengah waras soal video bokep yang seratus persen disalah-artikan Toni sebagai duel model baru. Lalu haha-hihi, Jem menawarkan diri untuk menjadi korban pertama andai Toni benar-benar mau mempraktekkannya. Hebatnya, gadis itu mengiyakan tanpa sedikitpun pikiran mesum menjangkiti bayangan. Jujur saja, hatinya tercabik rasa bersalah. Tapi ini kemauan Toni, kalau disuruh menikahinya sekarang pun Jem rela-rela saja.

Begitu segalanya siap, ia menjemput Toni—seperti yang kini terjadi—dan berdua berjalan menyusuri beberapa bocah bau jamur yang melintas sambil mencela soal homo-phobia (Who’s homo, freak!—Toni just have tiny breast!). Selanjutnya bau tanah dan rimbun pepohonan perdu yang terpejara di dalam akuarium Sprout menyapa hangat. Tak dingin, tak lembab—average. Jangan salahkan musim begini pohon kecil di balik lipitan celananya menyembul. Mantera pengunci demi menghindari hal-hal memuakkan macam prefek jablay tukang intip atau bahkan Sprout sendiri yang sedang galau karena musim kawin hampir usai.

Kalau berduaan begini—ketiganya pasti setan. Kan?

Genggaman tangannya makin erat, Toni Taylor, tidakkah kau gugup?

“So. Kau sudah yakin akan melakukannya di sini?”




3. Tabriz Brian (Divani Shamsi Tabriz Brian)



Bau-bau keturunan aristokrat menguar dari tiap lipit ketiak para tetangganya di sini. Gaya rambut Hearts of Love berpadu dengan obat asafoetida, tembakau, parfum Hoyt’s Cologne, tembakau Brown’s Mule, peppermint dan talk melati. Bau bangkai.

Kurang lebih satu setengah jerigen parfum-parfuman perahan Eropa bergemuruh menyeruak hidungnya yang sensitif. Citronela atau tidak, sekarang semuanya tak ada yang sanggup membuat ujung hidung Tabriz Brian menyembulkan spotch merah karena begitu sering dikucek. Ia lupa dengan dandanannya, oh rambut dan jubahnya, oh senyum pura-pura baik saja-nya, oh persetan kuda betina. Satu ampul coca cola dan lima ribu miligram Difenhydramine di dalam urat nadimu sanggup membalik kelamin Severus Snape jadi ambivalen. Dan kedatangan Juan di dekatnya sudah barang sebuah pelengkap teater kedok yang akan ia tampilkan sebentar lagi.

”Apa kabar Tabb? Dimana Constantine?”

Ups, morfoditnya bisa bicara.

*cegukan*

“I’m here, Brother, good evening.”

Jadi peribahasanya Tak Ada Norrean yang Mengurus Urusannya Sendiri, Sembilan Dari Sepuluh Ravenclaw Melankolis, Bahu Vega Knight Bungkuk Karena Phoebe Whitney 8 inci di Bawahnya, Jika Mrs Aurora Sinistra menghirup gin dari botol Nikolas Morcerf, itu tidak aneh—ibunya melakukan hal yang sama. Semua yang bagi segala mata adalah keremehan yang tak lebih berarti dari pada sepenggal penny, sayangnya mata Tabriz tak pernah kehilangan memori. Lalu laki-laki ini, yang kini mengalungkan lengannya ke selujur pinggang yang sejak beberapa hari ini kehilangan kekenyalan alias bantal lemak—apa sebutannya?

“Juan, Don Juan. Perutmu keruyukan? Ah—“ dihibahkannya seratus persen perhatian pada si kakak—yang tak pernah berhenti menjadi bak bermacam macam keluh kesah, yang selalu menemaninya menghabiskan satu nampan besar mocca, yang memberinya gelang giok berwarna hijau yang hingga saat ini masih dipakainya. “Kubuatkan morfodit, khusus untukmu. Dan bisa kau makan.” Rasberry cupcakes yang sebenarnya berwarna jingga dengan muffle krim seputih uban Dumbledore disulap menjadi karikatur Juan Norrean lengkap dengan senyumnya yang super pelit. Tak perlu berterima kasih, ini hal terindah yang bisa ia lakukan, bukan apa-apa jika dibandingkan setumpuk puisi Pavane dan Aria berisi...

“Love you, Schat. I’m sorry, Dear. Will you accept me again, please?”

Yap, yang berisi timbunan frase-frase yang begitu-begitu itu isinya. Cinta.

“Kau tahu Schat, sejak kita bersama... aku seperti berjalan membawa telur di atas kepalaku.” Torquisenya menatap balas Constantine Ridgett, hanya memastikan semua kata-katanya diserap sebaik mungkin dalam Cerebellum yang berlekuk-lekuk dan plegmatis (itulah mayoritas isi otak Ravenclaw, kau tahu?) “Nah sekarang pulanglah ke ranjangmu dan biarkan aku bersenang-senang.”




4. Abel Sahincelik



 Krik sangat hidupnya, macam keripik.

Pertama bangun pagi dan menemukan kotak sigaretnya sudah tak lagi berpenghuni, Abel depresi. Oh kau tahu depresi macam apa yang menghantamnya? Pagi-pagi sekali dia sudah mandi (telanjang—yang jarang-jarang, biasanya masih pakai celana dalam), lalu naik turun koridor dengan handuk menutup selangkang. Belum ada yang bangun, bahkan Nikolas si kepala nyaris buntung masih memeluk paha kudanya, dan nyonya gemuk-bagai-bunting yang biasanya bernyanyi berisik masih mendengkur bak halilintar. Dan prefek-prefek sapi yang pasti tidak berpatroli sepagi ini, apa kabar? Intinya, Abel sangat—sangat tak tertolong jika ia memutuskan bunuh diri dengan menabrakkan diri ke baju-baju zirah berketopong itu, atau loncat dari tangga—atau dua-duanya.

Kepalanya nyaris kosong, nyaris sekosong kotak sigaretnya. Satu-satunya yang menggerakkan badannya hanya ilustrasi awang-awangan bahwa di ujung pelangi ada harta (rokok.red) dan dia sedang berjalan tertatih mencari ujung koridor yang disinyalirnya sebagai..kau tahu lah. Slytherin tahun awal ini memang tak punya banyak teman yang bisa diajak berdiskusi, curhat, bahkan bertransaksi barang haram. Katanya banyak yang takut dengan Snape—hukumannya itu lho. Bagi Abel, selama hukuman itu tak menyisirkan rambut berminyak nan lepek nan belah tengah itu, semuanya masih dalam taraf wajar. Tapi tetap saja, bergundil-bergundil itu macam kerbau dipatuk hidung. Draco Malfoy pun cuma sekilas pandang terlihat sarkas, Janice Burns pun masih berkutat dengan peri-peri (aduh kasihan sekali—bagaimana Abel harus menolongnya coba?), dan Lacrime brengsek nan bedebah itu belum bayar hutangnya!

“Oh… brengsek kau Lac.” Abel bergumam tak sadar, berbalik masuk kembali ke kamarnya dan segera memakai baju dengan mata masih tertutup dan mulut komat-kamit. Agendanya hari ini berubah, ia perlu membunuh Lacrime Fauchelevent karena tunggakan hutang tak terbayar yang sangat keterlaluan. Bocah itu hilang dengan sisa rokoknya, meninggalkan Abel sakaw tak berdaya. Mengambil satu sandwich dan Daily Prophet langganannya yang baru bertengger di jendela, Abel berjalan lagi, menghilang di balik dinding-dinding kusam.

***

Mengunyah Daily Prophet dan membaca sandwich di toilet. Mau coba? Haha, cuma Abel yang bisa Cherie. Ia menyapa beberapa bocah yang berada di depan toilet, biasanya kalau pagi begini banyak yang ‘setor’. Dan mungkin wajah-wajah buronan macam Lacrime atau Janice ikut antri di sana? Well, kenapa tak dicoba saja. Dilihatnya wajah-wajah pathetic bergumam, mengumpatinya dalam hati seolah tak pernah melihat pureblood sejorok Abel. Slytherin lho, dirinya. Kalau mau perang bacot langsung bilang keras-keras di depan wajahnya dong. Dan bocah yang disapanya itu segera bergegas pergi—kalah adu desis.

“Cuci tangan—“ ia bergegas melipat Daily Prophet dan mengempitnya di antara paha, dengan tangan terjulur ke wastafel dan mata melirik ke beberapa gadis pesolek yang mengaca sambil tersenyum haha-haha. “Waduh, pagi-pagi… ”

Zina mata.

0 komentar:

Post a Comment

Return top